Oleh : Siti kholifah
Program : KKN MDR 2020 IPMAFA Pati
Kelompok : QUBBATUL KHODRO
Setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya mendapat pendidikan yang terbaik. Namun terkadang mereka lupa bahwa pendidikan bukan hanya di sekolah saja, karena seyogyanya dilingkup keluarga pendidikan itu seharusnya telah berlangsung dan orang tualah yang memiliki peran sentral di dalamnya. Inilah yang harus menjadi perhatian oleh banyak orang tua, khususnya orang tua muslim.
Berkaca dari teladan Nabi Muhammad SAW, seperti kita tahu Nabi Muhammad SAW memiliki 7 anak, tiga diantaranya laki-laki, yaitu Qasim, Abdullah dan Ibrahim dan ketiganya wafat di usia masih balita. Sementara 4 lainnya perempuan, yaitu Zainab, Rukayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Dari 7 putra-putri Rasulullah SAW tersebut 6 diantaranya lahir dari rahim Khadijah, satu lainnya yaitu Ibrahim lahir dari rahim Maria Qibtiyah.
Hal pertama yang ditanamkan oleh Rasulullah SAW kepada anak-anaknya adalah masalah tauhid. Bahkan pelajaran tentang tauhid itu diajarkan oleh Rasulullah SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Setelah risalah kenabian sampai kepada beliau, anak-anaknya pun semakin berbakti kepada beliau dan menjadi orang-orang yang pertama kali mengimani kenabian beliau.
Setelah mengajarkan tentang tauhid, kemudian rasulullah mengajarkan kepada anak-anaknya tentang ilmu agama, yaitu dengan cara mengajak anak-anaknya ikut mengahadiri kajian-kajian agama di masjid dimana Rasulullah sendiri yang mengisi kajian tersebut. Dengan cara ini anak-anak akan terarah untuk mencintai ilmu dan menjadi terbiasa untuk menuntut ilmu. Apalagi disitu anak-anaknya pun bisa menyaksikan betapa orangtuanya pun sangat mencintai ilmu, sehingga hal itu bisa menjadi dorongan bagi anak-anak untuk semakin giat menuntut ilmu, berkat tauladan yang baik dari orang tuanya.
Kemudian, salah satu cara mendidik anak adalah dengan kasih sayang. Ketika seorang anak berbuat kesalahan maka orang tua harus menegurnya dengan cara yang baik, tidak perlu marah-marah apalagi sampai melakukan kekerasan fisik. Hal itupun yang diajarkan oleh rasulullah. Suatu ketika Rasulullah melihat Fatimah, putri bungsunya, memakai kalung emas Rasulullah menunjukkan raut wajah tidak suka kepada apa yang dilakukan putrinya tersebut. Menyadari hal itu Fatimah pun ijin kemudian berlalu untuk menjual perhiasannya tersebut.
Uang hasil penjualan kalung emas tersebut dipakainya untuk memerdekakan budak. Sekembalinya dari proses menjual kalung tadi, Fatimah lalu menemui rasulullah SAW dan menceritakan apa yang telah dilakukannya tadi. Rasulullah SAW pun tampak gembira mendengarnya.
Dari kisah ini dapat kita pahami bahwa Rasulullah SAW menegur tindakan anaknya yang dirasa kurang tepat tanpa menggunakan kalimat-kalimat yang kasar. Fatimah pun sebagai anak memiliki rasa kepekaan yang tinggi terhadap perasaan orang tuanya. Hal seperti ini bisa terjadi tentu berkat bimbingan dan didikan Rasulullah SAW kepada anak-anaknya yang dimulai sejak anak-anaknya masih belia. Dimana Rasulullah selalu mengajarkan kepada putra putrinya untuk mampu membedakan dan memilih sesuatu yang baik dan memiliki rasa malu yang besar untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas apalagi perbuatan yang salah. Dengan didikan yang demikian maka pada akhirnya anak akan terbiasa untuk tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan.
Didalam kisah yang lain, Rasulullah SAW selalu memberi teladan ketika mendidik anak-anaknya, contohnya Rasulullah SAW selalu mengucapkan salah lebih dulu saat berpapasan dengan anak-anak. Rasulullah pun tak segan untuk mengajak anak-anak untuk bermain, sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, suatu ketika Rasulullah SAW sedang berkumpul bersama sekelompok orang dewasa. Di tempat yang sama, juga ada Ibnu Umar yang saat itu masih anak-anak. Rasulullah SAW kemudian mengajak mereka semua, termasuk Ibnu Umar, untuk bermain tebak-tebakan.
Dari situ dapat kita pahami bahwa Rasulullah tidak pernah mengabaikan anak-anak dan malah sangat menghargai mereka. Karena dengan cara itu anak-anak bisa lebih mudah untuk dididik dan diarahkan. Sebaliknya kalau kita abai kepada anak-anak bahkan bersikap kasar kepada mereka, maka anak-anak pun akan susah dididik bahkan akan berani melawan kepada orang tuanya.



