Jadikan Rasulullah Sebagai Idola, MTsN 1 Pati Istiqamah Mengharap Rahmat dan Syafa’at
Oleh Ali Musyafak
Kepala MTsN 1 Pati
Kata idola menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan seseorang yang dijadikan sebagai pujaan atau panutan, biasanya sosok ini memiliki sifat yang bagus, istimewa, memiliki kelebihan, bahkan berprestasi sehingga patut dijadikan sebagai contoh. Umumnya idola disukai karena suatu hal atau keluarbiasaannya yang ia miliki.
Lebih detailnya, idola adalah sesuatu yang dijadikan tempat berharap, yang selalu dipikirkan, yang berpotensi bisa menyingkirkan posisi Allah Subhanahu wa Ta’ala di hati seorang muslim/muslimah.
Setiap generasi atau era pasti memiliki idola. Sebagai generasi muslim muda, wajib menjadikan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai idolanya.
Banyak anak muda yang memiliki idola terutama mengidolakan artis. Misalnya, ada yang mengidolakan artis K-Pop, ada yang mengidolakan bintang film tanah air, ada yang mengidolakan penyanyi grup, ada juga yang mengidolakan artis India. Namun sayang, tidak banyak dari generasi muda yang mau menjadikan Nabi Muhammad sebagai idola dalam kehidupanya.
Sehebat-hebatnya orang yang memiliki popularitas akan dikenal ketika dia masih berjaya, setelahnya akan dilupakan apalagi kalau sudah wafat. Tapi sampai hari ini, nama Nabi Muhammad masih disebut di muka bumi Allah. Kalau berbicara tentang ketampanan para artis dan penyanyi, yang pasti ketampanan Nabi Muhammad tidak ada yang bisa menandingi.
Ada yang bilang nabi paling tampan adalah Nabi Yusuf, sebenarnya semua nabi juga tampan. Namun, hanya Nabi Muhammad yang paling tampan baik secara fisik, akhlak, perilaku, bahkan tampan pula risalah dan ajaranya karena beliau adalah pelengkap ajaran Nabi dan Rasul terdahulu, tidak ada yang bisa mengimbanginya.
Coba mari kita buka dan baca sirah nabawiyah, nabi dibandingkan artis-artis itu sangatlah jauh perbandinganya. Dalam sirah nabawiyah dikisahkan bahwa beliau tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, rambutnya berwarna hitam sebahu dan tertata rapi, keningnya putih bersih bercahaya, bulu alisnya bersatu karena lebatnya, mata nabi kebiru-biruan, bulu matanya lentik, hidungnya mancung hingga batangnya sedikit naik di antara hidung dan matanya, gigi-giginya bersih putih berseri, bibirnya tipis, nabi tidak berkumis tapi berjanggut, dada nabi bidang ditumbuhi bulu-bulu yang halus, dan perut nabi datar. Sungguh, profil pria yang sangat ideal dari segi fisik adalah Rasulullah.
Kalau kepribadian Nabi, Beliau benar-benar disenangi oleh semua orang dan semua kelompok, bahkan nabi diberi gelar Al-Amin saking senangnya orang-orang kepada kepribadiannya. Gelar ini didapat karena Beliau adalah orang yang sangat jujur dan amanah.
Dalam hadits Qudsi dikatakan:
لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك
Artinya : Jika bukan karena Engkau, wahai Muhammad, tidak akan aku ciptakan alam semesta ini.
Subhanallah, betapa mulianya junjungan kita Nabi Agung Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam di mata Allah, sampai-sampai Allah menyatakan diri jikalau bukan karena Rasulullah, Allah tidak akan menciptakan bumi dan isinya. Hal ini berarti semua bumi beserta isinya tercipta dari Nur Muhammad, Nur atau mahluk yang pertama kali diciptakan Allah dari Nur Allah itu sendiri sebelum Allah menciptakan yang lainnya dan akhirnya Allah mengabadikan posisi mulia Beliau di lauhil mahfudz sejajar dengan posisi Allah yang terkenal dengan lafal Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah (لَااِلَهَ اِلَّااللَّهِ مُحَمَّدًا رَسٌؤلُ اللَّهِ).
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Nur Muhammadnya adalah mahluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah, tetapi karena sifat Rahman Rahimnya Allah dan juga sifat adil bijaksana serta kuasanya Allah, Rasulullah Muhammad tidak dilahirkan ke dunia untuk pertama kali mendahului Nabi Adam alaihissalam dan seterusnya.
Sesuai yang tercatat dalam kitab-kitab Allah sebelum Al-Qur’an, yaitu Taurat, Zabur, dan Injil disebutkan bahwa besok akan turun seorang hamba yang mulia, yang bertugas menyempurnakan akhlak mulia, dari turunan bani yang mulia, di hari dan bulan yang mulia, sebagai Rasul akhiruzzaman yang bernama Ahmad atau Muhammad. Pantas semua ahli kitab selalu menanti-nanti waktu dan sosok Beliau yang agung dan mulia yang selalu dipuja-puja oleh Allah sebagai kekasih-Nya, sampai-sampai Nabi Musa pun ingin menjadi ummatnya.
Namun, waktu tidak bisa ditentukan oleh manusia. Baru di saat dunia sudah mengalami krisis moral dan dunia sudah rusak, diutuslah Beliau yang mulia tersebut turun ke muka bumi, melalui rahim Sayyidatina Aminah dan ayahnya yang bernama Abdullah tepat di tanggal 12 Rabiul Awwal,yang dikenal dengan bulan krisis, tidak ada kebaikan-kebaikan, tidak ada silaturahmi di bulan itu, dan dinamakan tahun Gajah, dengan dibidani dua orang shalihah dari surga yaitu Sayyidatina Asiyah dan Maryam Ra.
Bahkan dalam salah satu hadits Nabi Muhammad dinyatakan secara jelas,
: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من عظم مولدي كنت شفيعا له يوم القيامة ومن انفق درهما في مولدي فكانما انفق جبلا من ذهب في سبيل الله
Artinya: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa memuliakan hari kelahiranku maka kelak akan mendapatkan syafa’atku di hari kiamat. Dan barang siapa berinfaq dirham dalam peringatan Maulid Nabi, maka sama dengan pahala infaq gunung emas di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala’.
Kenapa harus Rasulullah yang kita jadikan idola?
Di samping cerita atau syirah di atas, banyak sekali hal yang mendorong dan mendukung kita untuk menjadikan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Sebagai idola kita.
Rasulullah diutus ke dunia sebagai penolong (rahmatan) bagi seluruh alam. Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِي
Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Rahmat itu artinya penolong. Kalau nabi dan Rasul sebelum Beliau, diutus menolong hanya untuk kaumnya sendiri. Sangat berbeda dengan Rasulullah, beliau diutus menolong untuk seluruh alam di dunia ini, baik ras, bangsa, bahkan juga menolong termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya.
Maka kita yang mengaku ummatnya hukumnya wajib mengidolakan Beliau. Seorang non muslim pun mengakui kemulian Nabi Muhamnad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan menempatkan Rasulullah di papan teratas tokoh dunia. Bahkan Abu Jahal pun ikut memuliakan keponakannya di saat lahir, dan akhirnya menjadi sedikit penolong siksanya.
Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai nabi dan Rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Qs. Al-Ahzab : 21).
Kalau Allah sendiri sudah memproklamirkan diri dan bersaksi bahwa hanya pada diri kekasih-Nya, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam terdapat suri tauladan yang baik. Apakah kita sebagai muslim patut meragukannya? Bukankah kita akan tergolong kufur? maka dari itu kita wajib menjadikan Rasulullah sebagai idola kita. Tidak hanya itu saja, Rasulullah diutus untuk membebaskan dan menjadikan kita sebagai hamba Allah, memperbaiki kebobrokan akhlak yang saat itu sedang terjadi.
Sebagaimana sabda Beliau, نَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقا yang artinya, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Allah pun memuji keluhuran akhlak Beliau sebagaimana tergambar dalam Qs. Al-Qalam ayat 4 :
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Artinya : “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
Sungguh tidak ada kekurangan sedikitpun pada diri Rasulullah, baik dari fisik, sikap, ucapan, maupun perbuatan. Untuk itulah patut bagi kita ummatnya menjadikan Beliau sebagai idola dan sekaligus mengikuti jejaknya sebagai uswatun hasanah
MTsN 1 Pati merupakan lembaga Islam yang ingin menjadikan seluruh warganya sebagai generasi yang dicintai Allah dan Rasulullah, selalu berinovasi membuat gerakan dan kegiatan yang menuju ke sana. Salah satunya, di bulan Rabiul Awwal atau yang dikenal dengan bulan maulud, bulan kelahiran Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diadakan kegiatan membaca shalawat dan syirah kanjeng nabi (albarjanji). Tidak hanya sepekan dan tidak hanya sampai dengan tanggal 12 maulud saja, tetapi selama sebulan penuh kegiatan itu dijalankan, bahkan lebih dari itu, setelah bulan maulud diupayakan setiap harinya tetap ada kegiatan al barjanji walaupun hanya sebagian shalawatnya atau mahallul qiyam.
Harapan besar dari kegiatan ini, untuk menempa seluruh warga madrasah agar belajar mencintai Nabi Muhamnad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga akhirnya kita dicintai Allah karena memuji kekasih-Nya. Allah itu bangga kalau kekasih-Nya dipuja, tetapi Allah lebih bangga kepada orang yang bisa menjadikan orang lain cinta dan memuja kekasih-Nya. Kalau Allah sudah cinta, Allah sudah bangga, tanpa kita minta Allah pasti akan memberikan kepada kita sesuatu yang terbaik. Yang terbaik itu adalah sehat, selamat, bahagia dunia sampai akhirat, serta yang paling terbaik adalah kita bisa bertemu, bersanding dengan Nur Muhammad dan Dzat Allah besok di akhirat. Semoga bisa, aamiin.
Wallahu a’lam.




