Ansor Banser Mengambil Inspirasi Keteladanan Nabi Muhammad SAW
Penulis : Imam Muhlis Ali*
Memperingati kelahiran Nabi agung Muhammad SAW seyogyanya tidak hanya bersholawat saja. Namun hendaknya di aplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta perdamaian dunia. Apalagi bangsa kita Sekarang yang masih ‘rentan’ disusupi dengan ideologi anti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.
Ironisnya sekarang banyak masyarakat yang diam dengan propaganda media paham dan ideologi yang radikal. Masyarakat dan bahkan mungkin saja kita-kita bisa saja terpapar dan tersusupi dengan ceramah, tulisan dari tokoh-tokoh radikal. Ciri paham radikal anti Pancasila adalah mudah menyalahkan, membid’ahkan, mengkafirkan pada yang lainnya. Juga ingin merobohkan pondasi dasar kenegaraan kita.
Dalam mengaplikasikan nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW, kita sedikit menengok intisari sikap beliau. Dimana kita banyak mendapatkan ‘dawuh’ dari para Kyai ulama’ seperti Gus Mus, Gus Dur. Gus Mus dalam satu kesempatan pernah ‘dawuh’ bahwa Islam itu ramah bukan Marah. Gus Dur pun ‘dawuh’ yang kita teladani dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah sifat welas asihnya. Welas asih adalah sifat dan sikap tasawuf, kelembutan kasih sayang terhadap sesama. Menurut saya kalau sifat kasih sayang ( rahmah) tertanam.dalam jiwa dan fikir, insyaAllah bangsa Indonesia dan dunia akan damai. Memang itu tidak mudah di aplikasikan atau di praktikkan. Namun minimal kita bangsa Indonesia tahu dan mengerti apa yang bisa kita lakukan.
Gerakan Pemuda Ansor yang di dalamnya ada Banser dalam momentum peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah mengambil inspirasi keteladanan dari perjuangan beliau. Nabi Muhammad SAW dalam banyak riwayatnya dikatakan bahwa beliau adalah seorang manusia istimewa yang rahmah, kasih sayang (welas asih) terhadap sesama. Beliau juga sosok yang ramah, moderat dan ber toleransi. Gerakan Pemuda Ansor Banser sejak berdirinya sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, melaksanakan dasar-dasar keislaman dan kebangsaan yang seimbang. Keseimbangan berfikir dan berrtindak melahirkan kebijaksanaan menjalani ajaran agama dan berbangsa. Ansor Banser terus selalu khidmah pada Kyai ulama’ Nahdlatul Ulama’. Sehingga diupayakan terus menjalankan kehidupan keagamaan dan kebangsaan yang komprehensif. Artinya sudah tidak Ada lagi pertentangan antara agama (Islam) dengan negara (Indonesia) sistem Pancasila. Justru akan selalu menguatkan demi kehidupan masyarakat yang tentram dan damai.
Dalam konteks negara-negara dunia khususnya di Timur tengah yang dilanda konflik, selayaknya Ansor Banser dengan dibarengi PBNU terus memberikan inspirasi solusi perdamaian dunia. Dan selama ini sebenarnya sudah dilakukan. Tinggal tugas kedepannya Gerakan Pemuda Ansor dengan kader-kader yang semakin banyak diharapkan terus menambah perannya bagi NKRI dan jangka panjangnya bisa berkembang ke tingkat dunia. Ini tidak sesuatu yang imajiner asalkan negara dan masyarakat terus mendukung Pancasila, kebhinnekaan dan tidak diam dengan perluasan faham radikal sebagaimana yang sering kita lihat tanda-tandanya di media. Namun jika masyarakat banyak yang diam atau malah ikut terpengaruh dan terpapar faham radikal, maka harapan ikut menjaga ketentraman dan perdamaian dunia tinggal imajinasi saja.
Mudah-mudahan setidaknya tulisan ini dapat sedikit menjadi inspirasi bagi kita semua. Amin.
Salam sahabat.
*Kader Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Kabupaten Pati Jawa Tengah.
Anggota Pengurus LTMNU Kabupaten Pati
Mengajar di Madrasah Darun Najah




