Unik, Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Berbahan Daun Lontar di Museum Gusjigang
Penulis : Ihda Fauziyah Wardani (Mahasiswi IAIN Kudus Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)
Museum Gusjigang merupakan museum yang berada tepat di kota Kudus Jawa Tengah, yang terletak di Jalan Sunan Muria No 33. Museum ini menyimpan banyak sekali warisan budaya. Museum ini terkenal karena koleksinya yang meliputi berbagai barang seni seperti kaligrafi, ruang tripologi ukhuwah, koleksi Manuskrip Mushaf Al-Qur’an dan masih banyak lagi.
Museum ini mempunyai galeri Al-Qur’an yang menyimpan banyak koleksi manuskrip mushaf Al-Qur’an berbagai macam ukuran dan bahan. Salah satunya dalam galeri museum Gusjigang ini terdapat satu Al-Qur’an yang sangat besar.
Al-Qur’an besar itu berukuran tinggi sekitar 3×6 meter. Mushaf tersebut berbahan dasar kanvas. Sayangnya mushaf tersebut hanya berisi surat Al-Fatihah dan surat Al-Baqarah saja, namun mushaf ini akan terus berlanjut dikerjakan hingga selesai 30 Juz..
Tidak hanya Al-Qur’an besar, di galeri museum Gusjigang juga terdapat sebuah Mushaf Al-Qur’an yang terbuat dari daun lontar yang menjadi salah satu koleksi yang sangat berharga. Daun lontar merupakan salah satu bahan tulisan tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu di Indonesia. Daun lontar dibuat dari tanaman siwalan yang tumbuh subur di daerah tropis seperti Indonesia, India, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Mushaf Al-Qur’an berbahan daun lontar adalah salah satu jenis naskah Al-Qur’an yang telah digunakan sejak zaman dahulu. Sebagai bahan dari naskah Al-Qur,an, daun lontar yang keras namun fleksibel dapat dilipat dan dibawa dengan mudah. Daun lontar yang digunakan sebagai bahan untuk menuliskan Al-Quran merupakan bahan yang tahan lama dan kuat, sehingga memungkinkan untuk dijaga keasliannya dalam waktu yang lama. Selain itu, penggunaan daun lontar juga merupakan bagian dari tradisi nusantara yang memiliki keunikan budaya tersendiri, dan terbilang langka karena jumlahnya tidak banyak di Nusantara.
Selain itu, dibutuhkan keahlian khusus untuk dapat menuliskan Al-Qur’an dengan tepat dan teliti di atas daun lontar kering dengan menggunakan pisau pangot atau pengutik, semacam alat khusus logam jarum yang dipanaskan. Jaman dahulu alat ini dipakai secara tradisional untuk menorehkan tulisan aksara Jawa Kawi. Semua itu membuat mushaf Al-Qur’an berbahan daun lontar ini spesial dan memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang sangat tinggi.
Dalam museum Gusjigang terdapat tiga manuskrip mushaf yang berbahan dasar daun lontar. mushaf tersebut berisi sekitar 14-16 lembar, dan 17-20 larik daun lontar dalam satu halaman. mushaf tersebut berukuran sekitar 34×50 cm dalam kondisi tertutup, dan jika dibentangkan ukurannya mencapai 70×50 cm. namun sayangnya mushaf tersebut sudah tidak terbaca lagi. Walaupun begitu mushaf ini sudah lengkap 30 juz dan masih dalam kondisi utuh.
Manuskrip mushaf Al-Qur’an ini disimpan dengan hati-hati di dalam kaca, dan dapat diakses oleh para pengunjung yang ingin melihat keindahan dan keunikan dari buku suci ini. Selain itu, Kehadiran Mushaf Al-Qur’an berbahan daun lontar di Museum Gusjigang memberikan pengunjung kesempatan untuk mempelajari sejarah dan budaya yang ada di sekitar naskah tersebut. Hal ini tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang tertarik pada seni dan budaya Indonesia, serta dapat membangun generasi qur’ani.
(*)




