Tradisi Meron di Sukolilo, Sedot Perhatian Warga

Tradisi Meron di Sukolilo, Sedot Perhatian Warga

Tradisi Meron di Sukolilo, Sedot Perhatian Warga (dok: Kartini Dwi Jayanti)

Patinews.com – Sukolilo, Tradisi meron di Kecamatan Sukolilo Pati menyedot perhatian warga sekitar maupun yang melintas di Jalan Raya Pati – Purwodadi.┬áPuncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Sukolilo diperingati sebagai tradisi Meronan, yang berlangsung hari ini (Selasa, 13 Desember 2016). Perayaan ini sempat menyedot perhatian warga, tak hanya warga Sukolilo, bahkan juga ada warga Kudus dan Purwodadi yang menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

Saking ramainya warga yang ingin melihat langsung, akses jalan provinsi dari Pati ke Purwodadi macet total, untuk menekan kemacetan, Satlantas Polres Pati mengalihkan lalin melewati Cengkalsewu – Jekulo – Kudus.

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati. Upacara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang menurut masyarakat setempat disebut Meron. Nasi tumpeng tersebut dibawa ke masjid Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan. Prosesi Meron tersebut diikuti oleh aneka ragam kesenian tradisional setempat. Setelah upacara selamatan selesai, nasi Meron kemudian dibagikan kepada seluruh pengunjung.

Asal – usul tradisi meron

Pati dan Mataram mempunyai hubungan kekerabatan yang baik. Mereka sepakat mengembangkan Islam yang subur dan menentang setiap pengaruh kekuasaan asing. Banyak pendekar sakti mataram yang didatangkan ke Pati untuk melatih keprajuritan. Karena itu mereka harus tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di Pati. Ada seseorang bernama Ki Suta Kerta yang menjadi demang Sukolilo.

Baca juga:   Sisa Kebakaran Kios di Komplek Pasar Sukolilo Dibersihkan

Meskipun ayah dan kakeknya berasal dari Mataram dia belum pernah mengenal bumi leluhurnya. Tapi dia bersukur tinggal di Pesantenan karena kotanya juga makmur. Sebaliknya saudara Ki Suta yang bernama Sura Kadam ingin berbakti pada Mataram. Diapun pergi ke Mataram, ketika sedang bersiap menghadap Sultan, ada keributan. Ada seekor gajah mengamuk dan telah menewaskan penggembalanya. Sura Kadam pun berusaha mengatasi keadaan. Dia berhasil menjinakkan gajah dan menunggaginya, dia diangkat menjadi punggawa Mataram yang bertugas mengurus gajah.

Suatu hari Sura Kadam bertugas memimpin pasukan Mataram menaklukkan Kadipaten Pati. Setelah perang usai Sura Kadam pun menjenguk sudaranya di kademangan Sukalilo. Demang Sura Kerta terkejut dan ketakutan. Dia takut ditangkap dan diringkus. Sura Kadam mengetahui hal itu dan menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk menyambung tali persaudaraan dan dia sudah membaktikan diri pada Mataram. Dia minta izin supaya para prajurit diijinkan menginap di kademangan Sukolilo sambil menunggu saat yang tepat untuk kembali ke Mataram.

Sura Kadam pun mengusulkan supaya mengadakan acara semacam sekaten untuk menghormati Maulud Nabi dan memberi hiburan pada rakyat. Kemudian mereka membuat gelanggang keramaian seperti sekaten. Rakyat menyambutnya dengan gembira. Karena itulah keramaian itu disebut meron yang berasal dari bahasa jawa rame dan iron – tiron – tiruan. (Patinews.com/ tim)

Tradisi Meron di Sukolilo, Sedot Perhatian Warga | patinews.com | 4.5

Leave a Reply