Rubah Strategi Marketing, Rubah Nama, Merubah Cuan

Badan usaha, haruslah memiliki kendali pasar yang baik. Melihat peluang untuk mengembangkan badan usaha tersebut untuk lebih lanjut di masa depan. Ketekunan dalam usaha dan marketing yang baik sudah menjadi jaminan pasti untuk sebuah keadaan yang digantungan nasibnya semua pihak yang terkait. Menelaah peluang untuk menalurkan ilmu sekaligus mengepulkan asap dapur juga bukan guyonan.

Peluang inilah yang dilihat oleh Owner Kampung Inggris Cours Jepara, Herman Suprapto. Seseorang Jebolan Pare Jawa Timur memulai dunia ilmu dengan menyalurkan pendidikannya, bermula bekerja sama dengan MA Wahid Hasyim Bangsri (MA WH). Menjadi guru Ekstra Kurikuler Bahasa Inggris. Menerima honor dari pihak sekolah sesuai kapasitas yang ditawarkan.

Baru baru ini di mulai bulan Desember 2018 sang Owner yang sudah melepaskan tanggung jawab di sekolah MA WH setahun sebelumnya yakni tahun 2017 memulai pengembaraan dunia pekerjaan lain ke Jawa Barat. Ilham itu muncul ketika di tempat kerja baru beliau terdapat tempat kursus bahasa inggris. Dicermati bagaimana interaksi pendidikan yang tidak lebih sama dengan yang beliau lakukan di tanah kelahiran.

Pada penulis ketika diwawancarai pada tanggal 19 Mei 2019 sang Owner mempunyai keinginan yang menggebu untuk mengadopsi ilmu yang di dapat dari Jawa Barat. Memulai semuanya dari nul. Banyak yang harus dilakukan. Strategi marketing harus di perbaiki. Kurikulum harus di ubah. Dan dana yang di dapatkan harus berputar ulang untuk memastikan bisa berlanjut ke depannya.

Mr. Herman begitu akrab pannggilannya, memberikan sesuatu yang baru yang mana ini menjadi strategi marketing jitu yang patut di pikirkan baik-baik. Mencari tempat untuk basecamp pendidikan, menempati di jalur utama lintasan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Jepara, rumah kosong saudara menjadi pilihan tepat. Kelas yang lebih dari 3 ruang ditata dengan menampilkan mural yang apik. Spot foto untuk kawula muda juga memadai.

Kemudian mengubah nama lembaga pendidikan pun menjadi modal tinggi untuk mengumpulkan peserta didik. Hal ini diakui, sebuah nama memberikan efek dramatis untuk ketertarikan lanjutan. Yang semuala di tahun 2012 bernama Intensive Class menjadi Kampung Inggris Cours Jepara. Perubahan nama yang keren, menjadikan masa depan lebih keren dari yang sebelumnya.

Ketertarikan penulis bermula dari seringnya berseliwernya sang Owner menjejakkan iklan di sosmed. Dimulai dari FB Herman Suprapto, IG Kampunginggris_ jepara dan chanel Youtube Kampunginggris_Jepara. Tidak jarang owner menggunakan Funpage media local Jepara untuk mengiklankan tempat kursusnya. Tawaran-tawaran menarik di berikan pada pendidikan informal ini. Progam yang di maksimalkan untuk satu minggu, dua minggu atau seperti les umumnya, mengambil kelas 3 kali seminggu untuk waktu yang tidak ditentukan. Penulis merupakan bukti nyata akan ketertarikan yang sudah di targetkan.

Baca juga:   Heboh Crosshijaber, Apa itu?

Rupanya perubahan nama dan strategi marketing menggunakan sosmed inilah yang juga membuat customer tertarik. Untuk semua kalangan baik jenjang anak SD sederajat, SMP sederajat, SMA sederajat hingga calon mahasiswa tertarik. Yang rata-rata mampir ke Kampung Inggris Cours murni tahu dari sosmed. Tak ayal mereka yang sudah bergelud pada pekerjaan juga ikut kelas informal ini. Pekerja PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dengan konsisten mengikuti kelas. Ketika penulis bertanya kepada Owner mengapa bapak-bapak yang berumur lebih dari 35 mau belajar lagi, Owner menjawab untuk interaksi pada lapangan. Dan ini merupakan keharusan.

Berbeda lagi untuk siswa yang sederajat SD, mereka memilih pendidikan ini karena di sekolah Bahasa Inggris berubah menjadi muatan local. Para Siswa SMP sederajat memilih pendidikan informal ini sebagai acuan memperlancar ketika SMA nanti. Dan terbukti jebolan Kampung Inggris Cours Jepara semakin menjadi-jadi menempatkan Bahasa Inggris ke bagian kemampuan favorit. Mereka memasuki kelas unggulan pada lembaga mereka. Seperti Imersi di sekolah Hasim As’ari Bangsri yang bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Banyak anak yang keluar dari sana masuk pada progam unggulan ini. Apakah mereka kesulitan beradaptasi? Tidak. Karena adaptasi bahasa sudah dilakukan sebelumnya di lembaga informal. Kepada yang lulus SMA menjadikan adaptasi ini untuk memasuki bangku perkuliahan.

Tenaga pengajar yang diberikan juga tidak main-main. Syarat wajib pengajar harus lulusan Pare Jawa Timur, satu perguruan dengan sang Owner, memberikan kemudahan berdialog menentukan masa depan. Perekrutan tenaga pendidkan juga dilakukan transparan melalui Sosmed.

Sang Owner semakin positip kedepan nanti masa depan lembaga yang diasuhnya bakal menemukan titik terang. Perubahan nama yang kemudian merubah cuan (pendapatan, income) secara signifikan. Penyegaran marketing juga sering-sering dilakukan untuk menarik peserta didik. Terbukti dari bulan desember 2018 hingga Esay ini di buat meluluskan lebih dari 110 peserta didik. Keajaiban Medsos berhasil menambahkan 65% peserta didik diluar area basecamp. Marketing yang diajukan seperti penambahan tenaga pengajar juga dilakukan secara transparan oleh sang Owner. Hal ini juga memberikan efek Getok Tular untuk masyarakat sekitar calon pengajar.

Dalam wawancara ini Owner memberikan isyarah untuk mahasiswa luas, jika ingin mendirikan sebuah lembaga maka strategi marketing hingga penamaan lembaga akan memberikan hasil yang sesuai.

Penulis : Halimatus Sa’diyah dan Silviana Nur Fatimah Mahasiswa IPMAFA Prodi PGMI

Rubah Strategi Marketing, Rubah Nama, Merubah Cuan | patinews.com | 4.5

Leave a Reply