Saat berada dihalaman Makam Waliyullah Syaikh Ahmad Mutamakin Kajen atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mutamakin, tiba-tiba ingatan saya ‘mengembara’ puluhan tahun yang lalu. Ya, sekitar tahun 1985 saat kecil dulu sering melihat orang-orang menuntun sepeda ‘onthel’nya setiap melewati Makam Mutamakin.
Mengapa?, pada awalnya saya kecil dulu tak mengerti apa maksudnya itu. Setelah dijelaskan oleh Bapakku dulu bahwa sikap menuntun sepeda saat melewati Makam Waliyullah sudah biasa dilakukan orang-orang dulu dan itu merupakan tawadlu’, akhlak sopan santun. Ooh…begitu to, gumamku waktu itu.
Sebuah praktik pembelajaran akhlak sopan santun dari para orang-orang dahulu. Sepertinya sikap ini sudah menjadi karakter baik yang seyogyanya menjadi renungan kita bersama. Dahulu dengan sarana prasarana dan transportasi sederhana, mereka mampu mempraktikkan ‘cara menghormati’ pada yang lebih tua maupun orang mulia.
Barangkali saja nilai-nilai luhur sopan santun tawadlu’ menuntun sepeda ‘onthel’ dianggap biasa saja. Dengan langsung praktik diatas saya kira dampak sikap itu justru mampu menguatkan makna hidup yang sejati. Dengan langkah awal ‘menghormati’ terhadap para orang tua maupun orang mulia seperti salah satunya beliau Mbah Mutamakin, seharusnya menjadi pijakan penting menyemai keluhuran akhlak baik generasi sekarang. Saya kira kita cukup malu dengan semakin terkikisnya kesopan santunan kita.
Kita tidak boleh terus mengatakan “ah ini memang sudah zamannya”. Akhlak baik sudah hilang. Masih ada kesempatan dan waktu untuk.kita sama-sama memperbaiki itu semua. Pelan-pelan dengan niat ikhlas insyaallah bertahap bisa melakukan. Amin.
Kajen Pati, 02/12/2020
Penulis : Imam Muhlis Ali




