Ancaman dan Tantangan Generasi Z, Terhadap Kepedulian Ekonomi di Masa Pandemi
Penulis : Nurul Aini
Prodi: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah
Kelompok KKN MDR Sinerba IPMAFA
Menurut International Telecommunication Union (ITU) menyebutkan bahwa sampai Era revolusi digital saat ini mendorong pemanfaatan teknologi digital di seluruh bidang Desember 2018 terdapat 51,2 persen populasi dunia (sekitar 3,9 miliar jiwa) yang telah online. Berdasarkan Statistik Kesejahteraan Rakyat yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) persentase penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas yang mengakses internet pada tahun 2018 mencapai 39,9%.
Pesatnya pertumbuhan pengguna internet tersebut membuat transformasi dalam kegiatan perekonomian maupun sosial menjadi hal yang tak dapat di sangkal lagi.Isu-isu mengenai ekonomi digital pun menjadi agenda pembahasan di berbagai forum mulai dari level regional hingga global mengakui bahwa dunia digital diperankan oleh kalangan pemuda-pemuda usia 10-21 tahun.
Karateristik Generasi Z sangat fasih dalam menggunakan perangkat teknologi; senang bersosial dengan berbagai kalangan beragam, khususnya menggunakan media maya; ekspresif dan cenderung toleran dengan perbedaan kultur, dan sangat peduli dengan lingkungan; serta cepat berpindah dari satu pemikiran atau pekerjaan ke pemikiran atau pekerjaan yang lain.
Karakteristik inilah yang menjadikan Generasi Z sebagai sumber referensi bagi pemerintah dan pebisnis. Karenanya hal itulah yang bisa mempengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial di Indonesia dan bahkan dunia.
Berkembangnya kekuatan perekonomian sebagai bias teknologi menunjukkan bahwa dunia saat ini sedang memasuki revolusi industri yang ke-4. Berbagai macam sektor kehidupan mulai dikuasai oleh perangkat lunak dan juga teknologi yang serba canggih, mulai dari sektor yang menyangkut kehidupan primer hingga merambah ke kebutuhan sekunder sampai tersier.
Perangkat lunak akan menggeser industri tradisional dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun ke depan. Industri tradisional di masa mendatang akan mengalami banyak keguncangan, sehingga harus beradaptasi dengan teknologi yang semakin maju. Di masa mendatang, industri-industri yang berkembang sangat cepat justru industri yang tidak memakan modal adalah industri yang memiliki sumber daya yang banyak (kapitalisme).
Mereka akan terus tumbuh dengan mengandalkan kecanggihan teknologi dan perangkat lunaknya
Di Indonesia sejatinya terdapat dalam pembukaan UUD 1945 yakni melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia khususnya. Kepada Generasi Z yang merupakan tunas bangsa, calon pemimpin Indonesia di masa depan sedari dini mungkin Generasi Z perlu mendapatkan pengembangan SDM sehingga menjadi generasi cerdas yang bukan hanya dapat menikmati kemudahan dan kenyamanan hidup berbasis digital.
Tetapi juga menjadi generasi yang mampu menciptakan, mengendalikan, serta menggunakan teknologi digital untuk kemajuan bangsa yang positif.
Dalam Alternative Evaluation Framework, pemberdayaan masyarakat melalui TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang disajikan oleh Gigler menegaskan bahwa pemberdayaan adalah hal yang dinamis, karena pemberdayaan adalah proses yang berkelanjutan dan perlu adanya pendekatan holistik untuk memberdayakan , dimana kontekstualisasi yang dilakukan melalui sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sejarah tertentu Gigler membagi pemberdayaan melalui TIK menjadi beberapa dimensi, yaitu:
Pertama, dimensi pemberdayaan individu dan dimensi pemberdayaan masyarakat. Dalam dimensi pemberdayaan individu memiliki enam dimensi, yakni informasional, psikologis, sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Seluruh dimensi tersebut diyakini dapat menghasilkan out put berupa kemampuan peningkatan informasi dan penguatan kemampuan manusia dalam bidang TIK.
Dimensi informasional yang diarahkan untuk meningkatkan akses informasi dan kemampuan informasional, hasil yang ingin dicapai adalah peningkatan kapasitas penggunaan bentuk berbeda dari TIK, meningkatkan literasi informasi, meningkatkan kapasitas untuk memproduksi dan mempublikasikan konten lokal, serta meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga dan teman-teman di luar dari lingkungan internal
Dimensi psikologis, bertujuan mendukung proses refleksi diri dan kapasitas pemecahan masalah, maka tentu hasil yang ingin dicapai adalah penguatan harga diri, peningkatan kemampuan untuk menganalisis situasi pribadi dan pemecahan masalah, penguatan kemampuan untuk mempengaruhi pilihan strategi hidup, serta sensitivitas dari masukan dunia modern.
Dimensi sosial untuk menguatkan sumber daya manusia seperti soft skill ketrampilan, pengetahuan, kemampuan untuk bekerja dan kesehatan yang terjamin. Hasil yang ingin dicapai adalah peningkatan literasi tentang teknologi komunikasi informatika serta kemampuan teknologi, peningkatan kemampuan kepemimpinan, serta peningkatan kemampuan manajemen program.
Dimensi ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berinteraksi dengan managemen marketing. Dalam dimensi ini berhasil apabila terdapat indikator yang ditandai dengan peningkatan akses terhadap pasar, peningkatan kemampuan entrepreneur, adanya sumber alternatif dalam penghasilan, produktifitas kekuatan aset, perluasan kesempatan kerja, peningkatan penghasilan menyeluruh yang diperoleh dengan tiga cara yakni transaksi dengan biaya terjangkau mengurangi biaya operasional transportasi, serta meningkatkan ketepatan waktu penjualan.
Dimensi politik yang lebih bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan keputusan dalam level komunitas dan sistem politik. Dalam dimensi politik indikator keberhasilan ditandai dengan adanya peningkatan akses kepada informasi dan pelayanan pemerintah (e-goverment), peningkatan kesadaran mengenai isu-isu politik, serta adanya peningkatan kemampuan untuk berinteraksi dengan pemerintah lokal.
Dimensi pemberdayaan individu, dimensi berfokus kepada budaya yang diarahkan untuk menguatkan identitas budaya masyarakat. Dimensi ini disebut berhasil apabila terdapat indikator keberhasilan yang ditandai dengan penggunaan TIK sebagai bentuk dari ekspresi budaya serta meningkatnya kesadaran dari indentitas budaya sendiri.
Era Digital memberi kemudahan bagi masyarakat mengakses konten media secara cepat dan orang tua dituntut untuk dapat lebih cermat dan cerdas sebagai filter bagi anak-anaknya. Orang tua dalam fokus ini berposisi sebagai pengontrol penuh dalam memberikan contoh baik kepada anaknya.
Hal tersebut dapat mencegah seorang anak terjerumus ke dalam hal-hal negatif. Dalam kurun waktu tertentu juga perlu melakukan digital detox, yang suatu masa dimana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti smartphone atau komputer sebagai salah satu kesempatan mengurangi stres dan fokus pada interaksi sosial di dunia nyata.
(*).




