Toleransi dan Solidaritas Masyarakat Desa Giling
Penulis : Silviana Nur Fatimah, mahasiswa PGMI IPMAFA PATI, Kelompok KKN DAHSYAT
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang penuh dengan keberagaman dan perbedaan. Perbedaan tersebut meliputi suku bangsa, ras, agama, dan antargolongan. Masyarakat yang majemuk dan beragam, menjadikan Indonesia menjadi sangat istimewa dibanding dengan Negara yang lainnya.
Di Desa Giling kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati, merupakan salah satu desa yang memiliki keunikan dan ke khasan sendiri. Yaitu masyarakatnya yang berbeda dari segi agama, dimana umat Islam, Budha, Kristen menjadi satu. Bersatu padu menjalani kehidupan bersama yang sedari dulu hingga sekarang dengan sikap kerukunan, gotongroyong, serta solidaritas yang terjalin kuat.
Desa ini menampakkan jati dirinya sebagai desa pancasila yang berbeda-beda namun tetap satu jua.
Sikap saling menghargai, tolong menolong antar sesama tanpa memandang kelompok atau golongan, menjadikan masyarakat dapat hidup damai dalam perbedaan. Hal tersebut adalah point terpenting dari wawancara eksklusif yang telah dilakukan oleh Mahasiswa Ipmafa Pati bernama Silviana Nur Fatimah bersama Bapak Sutrimo selaku Kepala Desa Giling Gunungwungkal Pati.
Pada tahun 2019 desa giling dicanangkan oleh Bapak Bupati sebagai Desa sadar kerukunan. Yang mana di desa ini terdapat 3 agama dan 1 aliran kepercayaan.
Masyarakatnya hidup berdampingan dan saling guyub rukun. Dalam kehidupan sehari-hari, Desa Giling bisa hidup rukun dan berdampingan satu sama lain untuk gotong royong karena dalam segala hal tidak membedakan aliran kepercayaan atau golongan apa yang dianut. Tetapi saling sadar diri untuk bersikap toleran dan menjalin hubungan dengan harmonis.
Dari dulu hingga sekarang pun di Desa Giling tidak terdapat kendala yang terkait agama. Tidak terdapat permasalahan karena masyarakat desa giling menyadari di dalam kehidupan tidak akan menghubungkan antara agama dengan solidaritas masyarakat. Jadi dalam kesehariannya, masyarakat desa giling tidak mempertanyakan agama saat membantu atau dibantu.
Misalnya kegiatan peringatan waisak umat budha, yang ada di dukuh Gilipahing, terdapat musholla dan wihara jadi satu dalam 1 wilayah RT. Jika terdapat salah satu kegiatan di wihara, orang muslim slalu membantu proses kegiatan tersebut. Namun umat muslim tidak membantu didalam wiharanya, tetapi membantu seperti mendirikan tenda, mengatur parkir dijalan.
Dan begitu sebaliknya jika ada kegiatan yang ada pada orang islam, mereka saling membantu dalam proses kegiatan diluar.
Aspek-aspek yang ditanamkan dalam desa giling adalah solidaritas dan tidak mempermasalahkan hal-hal yang terkait agama.
Jika misalnya orang muslim mempunyai permasalahan atau uneg-uneg pribadi kepada non-muslim (begitupun juga sebaliknya), tidak mengutarakan atau mengaitkan agama dalam permasalahan individu, namun diselesaikan secara kekeluargaan dan sikap toleran antar sesama jika terdapat perbedaan. Karena, yang terpenting adalah solidaritas dan kesadaran individu bahwa antara satu dengan yang lain saling membutuhkan.
Pesan kepala desa giling kepada pemuda pemudi yaitu “Seandainya kita membantu jangan dipertanyakan siapa yang dibantu atau golongan apa yang kita bantu. Tapi kita harus membantu dengan rasa kemanusiaan dan itu harus dilakukan oleh semua umat. Jangan sampai ketika membantu bertanya dulu siapa dan apa yang akan dibantu,”.
(*).




