Penanaman Nilai-nilai Moderasi Dalam Kehidupan Pesantren

oleh: Ila Nur Amanah, mahasiswi KKN MDR IPMAFA PATI

Persatuan adalah tonggak kerukunan,

Keadilan adalah pilar kesejahteraan,

Pemimpin adalah pusat keputusan,

Tanpa pemimpin, hanya keputusasaan,

Pesantren adalah miniatur kehidupan bermasyarakat,

Penanaman nilai-nilai sosial sejak dini harus melekat,

Agar tercapai moderasi yang kuat,

Karena pesantren bukan sarang teroris,

Namun pesantren adalah pendidikan akhlaq yang kini nyaris menipis.

 

Sekitar beberapa tahun yang lalu pernah ada kabar bahwa pesantren merupakan sarang teroris. Hingga banyak anggapan masyarakat merasa takut menitipkan anak mereka ke pesantren. Kejadian ini karena ada beberapa oknum yang beraliran radikal, artinya bahwa mereka berpikir bahwa kaum non islam halal darahnya. Padahal, agama islam tidak mengajarkan tentang hal itu.

Kelahiran agama islam sendiri adalah memperbaiki akhlak. Dahulu, pada saat orang-orang bertanya, apa itu islam? Rasulullah menjawab, islam adalah silaturahmi, islam adalah cara baik kepada orang tua, dan sebagainya. Sehingga tindakan-tindakan seperti itu berbeda sekali dengan paham islam sebenarnya. Karena islam lahir bukan secara anarkis, namun melembutkan sikap dan kepribadian. Sehingga terwujud umat yang saling menjaga toleransi.

Pesantren merupakan pendidikan akhlaq untuk mencapai generasi yang mushlih. Penanaman nilai-nilai kemasyarakatan seperti kerukunan, kerjasama,serta  kepedulian terlihat bagaimana aturan-aturan tersebut dipraktekkan dan diupayakan oleh seluruh santri. Dan juga terlihat bagaimana para pengasuh mendidik mereka dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Berbagai kegiatan seperti mengaji kitab-kitab terutama kitab akhlaq, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan menjaga kebersihan, semua itu merupakan contoh pendidikan di pesantren, sehingga bukan hanya intelektual saja yang diperhatikan namun bagaimana cara bersikap dan bersopan santun juga diupayakan.

Pada kegiatan KKN Bramanty yakni  pemaparan materi yang disampaikan oleh bapak KH. Rohmat Asnawi, Lc yangmana merupakan pengasuh ponpes Raudloh Kajen Margoyoso, beliau menjelaskan yang pada intinya bahwa di pesantren sudah di ajarkan nilai-nilai moderasi seperti bagaimana seorang santri bersikap kepada orang luar atau ketika ada tamu datang, bagaimana dia menjalin komunikasi di lingkungan pesantren, dan sebagainya. Sehingga tidak hanya orientasi pada ilmu namun juga akhlaq. Karena ilmu dan akhlaq berdampingan sehingga terjadi tarbiyah dan ta’lim. Sehingga manusia akan terlihat indah apabila memiki akhlaq dan ilmu. Di dunia ini sebenarnya yang diperbanyak bukan mengejar ilmu namun mempelajari akhlaq yang terpuji.

Seperti itulah beberapa pemaparan yang disampaikan beliau, sehingga dapat ditarik garis besar kalau pesantren dari dulu telah tertanam nilai-nilai moderasi dalam hal kehidupan. Di zaman seperti ini, sudah banyak sekali muncul berbagai cabang keilmuan. Dan banyak berbagai cara untuk mengakses dunia luar. Sehingga sekarang  tidak ada batasan dalam mencari ilmu. Namun masalahnya generasi saat ini kurang menangkap ilmu yang bermanfaat. Mempelajari berbagai ilmu namun sedikit sekali yang memberi dampak. Ilmu yang bermanfaat adalah transformasi ilmu dari guru kepada muridnya. Apa jadinya jika yang dijadikan panutan dan sumber adalah bukan seorang guru? Karena seorang murid juga dinilai bukan menilai, karena seorang murid juga butuh arahan bukan mengarahkan, dan karena murid juga butuh panutan dan teladan. Alat-alat yang saat ini benar-benar canggih dengan teknologi yang tinggi namun belum mampu menilai, mengarahkan, dan memberi panutan. Karena teknologi hanya sekedar transfer pengetahuan bukan transfer akhlaq. Karena teknologi hanya sekedar membantu bukan mendidikmu. Karena teknologi ada batasan dan kekurangan. Dan sekarang, penerimaan sosial lebih diutamakan dibandingkan gadget yang kamu gunakan.

Exit mobile version