Dampak Konten Pornografi pada Remaja, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua ?
Perkembangan teknologi yang terus maju di era sekarang ini membuat siapa saja sangat mudah untuk mengaksesnya, salah satunya adalah konten pornografi. Menurut Undang-Undang nomor 44 Tahun 2008 Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat, mirisnya konten pornografi saat ini banyak di tonton oleh kalangan remaja.
Apa saja dampak negatif dari seringnya mengakses konten pornografi?
Pertama, remaja akan mengalami kecanduan. Banyaknya konten pornografi di media sosial yang menampilkan adegan orang dewasa membuat penggunanya penasaran dan melihatnya, tanpa disadari tubuh akan mengeluarkan hormon dopamin pada otak, sehingga menimbulkan perasaan bahagia dan puas setelah menonton.
Kedua, hilangnya kepedulian sosial. Kecanduan yang terus berlanjut akan membuat seseorang tidak lagi memperdulikan lingkungan sekitar, pecandu akan sibuk dengan kegiatan yang ia senangi dan tidak mau tau urusan orang lain.
Ketiga, berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual. Menonton konten pornografi secara terus menerus akan membuat pengguna semakin penasaran dan akan berlanjut dengan menirukan adegan yang ditonton. Sehingga, pecandu akan menggunakan segala cara untuk mencapai keinginannya.
Keempat, prestasi menurun dan hancurnya masa depan. Seseorang yang sudah menjadi pencandu aktif pornografi akan mengalami ketergantungan terhadap hal pornografi sehingga pecandu akan cenderung melupakan tugas serta kewajibannya, semangat belajar secara perlahan akan menghilang dan tidak mau tau hal baru.
Apa yang harus dilakukan orang tua dalam pencegahan pornografi pada remaja?
Pertama, mengajarkan agama sejak dini. Memberikan pengajaran ilmu agama sejak dini merupakan pondasi awal bagi anak agar tidak terjerumus pornografi, ilmu agama akan memperkuat iman anak.
Kedua, memberikan pendidikan seks sejak dini. Hal ini perlu dilakukan kepada anak sebelum masuk fase remaja, orang tua bisa menjelaskan bagian tubuh mana yang sensitif dan tidak boleh di sentuh.
Ketiga, batasi waktu bermain gadget dan bangun komunikasi yang baik dengan anak. Cara ketiga ini bisa di lakukan sejak dini, yaitu dengan cara membatasi penggunaan internet pada anak, kapan waktu harus belajar dan kapan waktu untuk bermain. Lingkungan keluarga yang buruk juga menjadi faktor utama anak melakukan hal negatif, karenanya hubungan keluarga harus di bangun dengan komunikasi yang baik.
Penulis: nofa setianto & Akbar Maulana



