Oleh : Anis Fadhilah
Mahasiswi KKN MDR Madukara Ipmafa
Sampai saat ini angka kasus pasien positif COVID-19 bukannya mengalami penurunan namun sebaliknya, terus melonjak naik dengan ribuan kasus positif per harinya. Dalam bulan September, jumlah kasus mencapai total sekitar kurang lebih 112.212 kasus. Ada berbagai bentuk alasan terjadinya peningkatan kasus yang signifikan ini, namun yang pasti salah satunya adalah terkait dengan protokol kesehatan.
Banyak protokol kesehatan yang wajib dipatuhi oleh masyarakat dan salah satunya termasuk tentang penggunaan masker yang sudah mulai diabaikan.
Penggunaan masker dapat dikatakan salah satu protokol kesehatan yang menuai banyak prokonta dan perhatian.
Awalnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tidak mengharuskan orang sehat untuk memakai masker. Hal ini disampaikannya mengacu pada pernyataan World Health Organization (WHO) yang mengatakan bahwa orang yang wajib menggunakan masker hanyalah yang terinfeksi virus Corona.
Namun beberapa waktu setelah itu, penelitian membuktikan bahwa virus covid – 19 ini menyebar tidak hanya melalui kontak fisik saja, tetapi juga melalui droplet atau tetesan dan percikan ketika orang yang terinfeksi bersin dan batuk. Merujuk dari hal tersebut didukung oleh fakta bahwa pasien positif COVID-19 banyak yang terkonfirmasi tanpa gejala, maka WHO kemudian memperbaharui panduan protokol kesehatan mereka.
Di dalam protokol kesehatan tersebut telah tertulis bahwa kita diharuskan menggunakan masker dimana saja dan kapan saja. WHO menganjurkan masker kain untuk digunakan masyarakat sebagai penghalang dan pencegah menularnya virus Corona dari satu orang ke orang lain. tetapi berbeda jenis masker, berbeda pula tingkat perlindungannya.
Masker N95 dan masker bedah berada di 2 posisi teratas dengan perlindungan tertinggi. Lantas mengapa bukan kedua masker tersebut yang disarankan WHO? Berikut ini adalah alasannya:
1. Masker N95 tidak dipergunakan untuk umum, melainkan untuk petugas kesehatan yang memiliki resiko paling tinggi terpapar virus corona karena berhubungan langsung dengan pasien
2. Ketersediaan masker N95 di pasar semakin menipis
3. Harga masker N95 di pasaran tergolong mahal dan hanya dimaksudkan untuk sekali pakai,Walaupun harga masker medis terjangkau, itu juga hanya dimaksudkan untuk sekali pakai saja.
Saat ini, ketersediaan masker medis sudah kembali seperti semula. Tetapi, untuk pembelian di apotek dan toko-toko telah dibatasi. Masker medis dapat dibeli, namun direkomendasikan untuk kalangan tertentu, hanya untuk orang yang memiliki gejala seperti flu, batuk ataupun demam. Sedangkan untuk orang yang sehat-sehat saja tidak memiliki gejala seperti yang telah disebutkan dianjurkan menggunakan masker kain dalam aktivitas sehari-hari.
Kemudia anjuran WHO untuk menggunakan masker kain ini mengakibatkan banyak berderarnya para penjual masker di jalanan maupun di berbagai toko dan mall.
Sebagai pembeli, kita harus pandai memilih masker ya……jangan yang hanya kita anggap bagus saja, namun juga efektif dalam menjaga diri kita dan mencegah penyebaran virus. Untuk masker kain yang hand made atau dibuat sendiri, perlu memiliki 3 lapisan yaitu lapisan non-anyaman tahan air (depan), microfiber melt-blown kain non anyaman (tengah), dan kain biasa non-tenunan (belakang).
Bahan kain yang digunakan harus memiliki daya saring paling baik. Diantaranya adalah bahan serbet, sarung bantal berbahan katun, kaos katun, kain nilon 70D, serta kombinasi katun dan sifon, sutera atau flannel.
Penggunaan masker kain bukan hanya untuk mencegah penularan virus Corona, tetapi juga agar mengantisipasi kembalinya kelangkaan masker yang terjadi di pasaran. Dan perlu diingat juga bahwa terdapat prioritas utama pada garda terdepan yang berhubungan langsung dengan orang-orang terinfeksi, yaitu para tenaga medis yang harusnya mendapatkan masker sebagai alat perlindungan diri mereka.
Masker kain dapat dicuci dan digunakan berulang – ulang kali, jadi seharusnya itu menjadi keuntungan bagi pemakainya agar tidak perlu membeli masker secara terus-menerus agar lebih hemat tentunya.
Selanjutnya, karena melihat para penjual masker diluaran sana semakin membludak, maka muncul pertanyaan “Bagaimana dengan masker scuba? Apakah efektif juga?”.
Beberapa penelitian sudah menyebutkan bahwa masker scuba kurang begitu efektif untuk menangkal virus Corona bahkan hanya berkisar 0-5%, mengapa? Karena masker ini terbuat dari bahan kain yang dapat melar seperti kain spandex. Jika dijelaskan secara sederhana, seperti yang kita lihat masker scuba hanya memiliki satu lapisan saja dan terlalu tipis sehingga kemungkinan untuk tembusnya virus lebih besar. Belakangan ini telah ada peraturan bahwa penumpang KRL dilarang masuk jika menggunakan masker scuba.
Jadi, jangan lupa untuk tetap menyediakan masker kain 3 lapisan dengan bahan yang telah disebutkan diatas, selalu rutin mencucinya dengan benar, dan menggunakannya menutupi hidung dan mulut, jangan hanya untuk menutupi mulut saja ataupun hidung saja.
Tetap patuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak, dan selalu pakai masker sesuai standar kapanpun dan dimanapun.




