Teladan Fatimah Az-Zahra
Oleh : Siti Aminah
Program : KKN MDR 2020 IPMAFA Pati
Kelompok : QUBBATUL KHODRO
Meneladani Sayyidah Fatimah binti Rasulillah SAW tentunya merupakan kemuliaan bagi setiap umat islam. Tak ada satu orang pun yang mampu melewati derajat kemuliaan beliau, baik dari segi akhlak maupun dari segi kepantasan beliau sebagai panutan bagi umat Islam. Beliau lahir dan tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, penuh dengan pancaran nur ilahi dan hidup dalam keceriaan.
Selain dikenal akan kemuliaan akhlaknya, Fatimah Az-Zahra juga dikenal sebagai wanita yang memiliki perasaan lembut dan memiliki jiwa yang suci. Kelembutan jiwa dan keelokan budi pekertinya disempurnakan oleh kecerdasan pikiran dan ketangkasan jasmaninya.
Beliau bahkan tak pernah berbuat atau mengatakan sesuatu yang sia-sia, apalagi sesuatu yang tercela. Setiap perkataannya diucapkan dengan jujur dan patut, ia tidak pernah mengumbar aib orang lain atau mengintimidasi orang lain dalam setiap narasi perkataannya. Intinya, Fatimah Az-Zahra tidak pernh memakai lisannya kecuali untuk mengucapkan sesuatu yang benar dan patut.
Ia juga di kenal sangat kuat dalam menjaga rahasia, tidak berlebihan dalam bercanda, tidak bergosip, tidak suka mempersekusi orang apalagi mengadu domba. Bersama suaminya tercinta Ali bin Abi Tholib, keduanya dikenal akan kejujuran dan kesetiaannya.
Terlalu banyak yang bisa kita teladani dari sosok Fatimah Az-Zahra. sebagai seorang Putri dari seorang Nabi akhir jaman yang sangat agung. Fatimah tidak pernah menunjukkan perilaku atau sikap angkuh apalagi takabur.
Justru Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, suka menolong dan sangat dermawan. Hal itu dikuatkan oleh sebuah kisah populer berikut ini:
Diceritakan dalam sebuah hadits, suatu ketika Rasulullah SAW sedang berada di masjid, lalu seseorang yang mengaku seorang musafir menghampiri beliau untuk meminta sedekah.
Namun saat itu Rasulullah SAW tidak memiliki apapun untuk bisa diberikan kepada orang tersebut. Kemudian, Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut untuk mendatangi rumah Fatimah.
Sesampainya musafir tersebut bertemu Fatimah, beliau pun tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan, yang tersisa hanya ada kalung mahar dari pernikahan beliau dengan Ali bin Abi Tholib. Kemudian kalung itu diberikan kepada musafir tersebut.
Mendengar kejadian itu Rasulullah SAW sangat gembira dan terharu dengan akhlak putri kesayangannya. Singkat cerita, musafir tersebut lalu menjual kalung itu kepada Ammar bin Yasir seharga 20 Dinar.
Lalu Ammar bin Yasir menghadiahkan kalung tersebut beserta budaknya yang bernama Asham kepada Rasulullah SAW.
Ketika Asham sampai kepada Rasulullah, Baginda pun tersenyum dan melakukan hal yang sama dengan Ammar bin Yasir yaitu meminta Asham untuk memberikan kalung tersebut kepada putrinya, Fatimah Az-Zahra.
Melihat Fatimah yang tampak kebingungan kemudian budak yang bernama Asham tersebut lantas berkata: “Sungguh berkah dari kalung yang diberikan Sayyidah Fatimah Ia telah mengenyangkan orang lapar, telah menutupi tubuh orang telanjang, telah memenuhi hajat orang fakir dan membebaskan seorang budak.”
Dan masih banyak sekali riwayat-riwayat tentang keteladanan Fatimah Az-Zahra yang bisa kita jadikan teladan dalam kehidupan kita.
Sebagai umat islam, sebagai seorang pendidik, lebih-lebih sebagai seorang ibu, sudah sepantasnya kita meneladani sosok Fatimah binti Rasulillah.
Bukan hanya Akhlaknya, bukan hanya kelembutan hatinya, tapi juga kedermawanannya dan juga rasa cinta kasihnya kepada sesama. Agar kita juga bisa merasakan tetesan kemuliaan yang dimiliki oleh beliau, agar kita juga di berikan keturunan-keturunan yang mulia di sisi Allah SWT selayaknya Sayyid Hasan dan Syarif Husain.