Sikap Pluralisme pada Generasi Z

Sikap Prulalisme pada Generasi Z

Oleh: Rohendi

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri 17.504 pulau, pulau itu sendiri meliputi wilayah daratan seluas 1,9 juta kilometer persegi dan perairan teritorial seluas hampir empat kali daratan diantaranya pulau-pulau yang paling terkenal adalah Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Indonesia sendiri memiliki keanekaragamana agama, budaya, dan suku. budaya kita sudah banyak diakui dunia seperti tari kecak, wayang, angklung dan keris begitu juga dengan Suku di Indonesia kurang lebih 714 suku yang tersebar di pelosok wilayah di Indonesia. mengenai agama sendiri Indonesia mengakui bahwa ada 6 agama yang resmi diakui yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Dengan keberagaman agama, budaya, dan suku masyarakat indonesia sangat terbuka dan tetap toleransi terhadap agama, budaya, dan suku. Indonesia sendiri memillik semboyan Bhinneka Tunggal Ika artinya berbeda-beda tetapi satu jua semboyan Bhinneka Tunggal Ika sendiri sudah di gunakan dari jaman nenek moyang kita. Terus bagaimanakah dengan generasi Z sebagai generasi internet menyikap toleransi.

Generasi Z lahir di kala internet dan media sosial sudah menjadi bagian keseharian kita dan dari kecil mereka terbiasa memegang gadget serta menerima arus informasi terus-menerus dari media sosial dan internet. Dengan banyak sumber informasi tentang beberapa hal yang sumber yang belum tentu benar ( Hoax).

Penyebaran informasi menghasut di media sosial membuat sikap intoleransi dan radikalisme yang mengakar ke berbagai sekolah dan univesitas di Indonesia. Bahwa ada lebih setengah pelajar dan mahasiswa yang menjadi perserta survei PPIM memiliki pandangan atau opini intoleran terhadap kelompok agama minoritas sekaligus cenderung terpengaruh gagasan keagamaan yang besifat radikal atau kekerasan.

PPIM (Pusat pengkajian Islam dan Masyarakat) beberapa hari melakukan survei dan hasil survei memberi fakta bahwa 37,71% responden setuju bahwa jihad sama dengan qital, responden setuju perang melawan non muslim. 34,03% setuju orang murtad harus dibunuh, responden beranggapan orang yang keluar dari islam sepantasnya dibunuh. 23,35% dari mereka setuju bahwa aksi-aksi terorisme adalah bentuk dari jihad membela agama. 33,34% menganggap bahwan sikap intoleransi adalah bukan masalah, artinya intoleran terhadap non muslim adalah hal benar. 58,5% pelajaran dan mahasiswa memiliki pandangan keagaman pada opini yang radikal. melakukan Survei tehadap 1.522 siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru di 34 provinsi, setiap provinsi diwakili oleh satu kabupaten dan satu kota yang dipilih secara acak.

Sungguh  mengkhawatirkan sikap mental seperti ini. Generasi Z kita ternyata dipenuh dengan rasa benci terhadap non muslim, merasa paling benar dan tidak mau belajar toleransi terhadap penganut agama lain.

(*).

Exit mobile version