Penulis : Imam Muhlis Ali
Suatu ketika saya berjalan-jalan ke kota Semarang. Setibanya saya di alun-alun Semarang ujug-ujug (tiba-tiba) di dekati seorang kakek tua.
Sang kakek itu bertanya:” adik soko ngendi? (adik darimana?)”
Saya menjawab: “Kulo saking Pati (Saya dari Pati)”.
Si kakek bertanya lagi: “Pati ne ngendi? (Pati mana?”).
“Pati utara,” jawab saya.
Kemudian Kakek itu bercerita : “Le mbiyen tahun 1970an aku sering numpak sepur Juwono-Bulumanis” (Le dulu pada tahun 1970an saya sering naik kereta api Juwana-Bulumanis).
Terus saya bertanya: “Teng Bulumanis bade nopo mbah?” (Ke Bulumanis mau apa kek?),
Si kakek menjawab: “Yo arep tuku pati telo”.(Ya mau beli tepung tapioka). Si kakek itu melanjutkan ceritanya : “Ndek.mbiyen le, stasiun sepur Bulumanis iku terkenal tekan endi-endi. Aku yo sering ndelok sawah-sawah kawit Juwono numpak sepur areng bakar”(Dahulu le, stasiun sepur Bulumanis terkenal di mana-mana Saya melihat sawah-sawah dari Juwana naik kereta api arang bakar).
Setelah menyeruput kopi hangat, kami berpisah dengan membawa sedikit kenangan masa lalu yang jarang saya dengar dari orang -orang tua di Kecamatan Margoyoso Pati, Jawa Tengah.
Dari cerita ini kita di ingatkan akan cerita sejarah tahun 1970an dari seorang kakek di Semarang.
Mudah-mudahan cerita sederhana ini setidaknya mampu mengetahui sejarah lokal daerah kita sendiri. Ayo sedulur-sedulur kenali cerita lokal daerahmu sendiri sebab akan berdampak baik untuk kearifan.lokal dan kekayaan budaya nusantara. Siapa lagi kalau bukan kita yang mengenali daerah.
(*)







