Cara kita beragama yang moderat sesungguhnya bukankah hal yang baru di tengah masyarakat kita yang dikenal agamis, menjelaskan bagaimana strategi penguatan sekaligus implementasi Moderasi Beragama. “Moderasi Bergama itu bukanlah Moderasi Agama. Moderat dalam hal ini adalah lawan dari ekstrem. Moderat itu mengandung prinsip keseimbangan dan keadilan dengan tujuan agar tidak terjerumus pada ekstrimitas.
Penguatan moderasi beragama ini dilakukan dengan tiga strategi utama. Pertama, sosialisasi gagasan, pengetahuan, dan pemahaman tentang moderasi beragama kepada seluruh lapisan masyarakat. Kedua, pelembagaan moderasi beragama ke dalam program dan kebijakan yang mengikat. “Dan ketiga, integrasi rumusan moderasi beragama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Jika kita telaah dan cermati kutipan Soekarno hal ini tampak masuk akal bila dikatakan senada dengan apa yang dialami Indonesia saat ini. Banyak kelompok-kelompok yang bukan membangun justru meru-sak, bukan mendidik malah menyesatkan, dan bukan mencintai malah bermusuhan. Berbicara mengenai Bung Karno, bukan sebuah rahasia tentang bagaimana kecintaannya terhadap bangsa Indonesia.
Selain tulisannya ada sebuah pidato Bung Karno yang cukup berhubungan dengan situasi saat ini. ” Kalau jadi hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang islam jangan jadi orang Arab, kalau kristen jangan jadi orang Yahudi tetaplah menjadi orang Nusantara dengat adat budaya Nusantara yang kayaraya ini, ingat wahai saudara – saudara musuh yang terberat itu adalah rakyat sendiri.
Rakyat yang mabuk akan budaya luar, yang kecanduan agama, yang rela membunuh bangsa sendiri demi menegakkan budaya asing” Disini, kita dapat melihat pendirian Bung Karno mengedepankan kultur dan budaya nusantara. Kebudayaan nasional kita menjadi kebanggaan dan penentu jati diri bangsa kita. Lalu mengapa kita menjadi kearab-araban, keindia-indiaan, kebarat-baratan? Jika kita membuang adat istiadat kita dan meniru budaya luar, ujungnya akan sampai kepada radikalisme dan fanatisme dimana hal tersebut sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia.
Dengan kita menerima secara mentah-mentah budaya asing, maka akan berpengaruh kepada cara berpikir, cara hidup, komunikasi, dan lebih lanjut berpengaruh kepada peradaban itu sendiri. Hal ini merupakan akar dari krisis moral dan perpecahan apabila kita tidak menemukan jati diri bangsa kita sendiri. Mengetahui bahwa Presiden Jokowi adalah seseorang yang mengaggumi Bung Karno, saya berharap agar Presien Jokowi segera menggerakan garda-garda terdepan bangsa untuk menindak tegas paham radi-kalisme yang mengancam keutuhan NKRI.
