Pendidikan Spiritual Di Tengah Pandemi

Pendidikan Spiritual Di Tengah Pandemi

Pendidikan Spiritual Di Tengah Pandemi

Pendidikan spiritual adalah upaya peningkatan nilai-nilai keagamaan yang diaktualisasikan dari nash-nash kitab. Sehingga berdampak terhadap sikap dan perilaku. Pendidikan spiritual biasanya dilakukan melalui metode ceramah, praktek di sekolahan, dan sebagainya.

Masa pandemi adalah masa dimana seseorang menjaga jarak dan mengurangi partisipasi dalam kegiatan bersosial. Hal ini dilakukan sebagai salah satu pencegahan yaitu dilarang berkerumun. Masa pandemi disebabkan oleh virus Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Tiongkok kemudian menyebar ke seluruh benua termasuk Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.

Bahaya dari virus ini dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh secara cepat sehingga tingkat kematian jauh lebih tinggi dari virus apapun, apalagi sampai sekarang belum ditemukannya vaksin yang tepat. Sehingga protokol covid masih diterapkan. 

Kasus PHK akibat virus ini sangat tinggi, selain PHK ada juga yang dirumahkan atau WFH. Seseorang yang biasanya bekerja dari pagi pulang petang, keluar rumah untuk bekerja, berinteraksi langsung dengan kerja, sekarang akibat kasus WFH ataupun PHK semua berubah. Mengubah cara dan strategi agar tetap bertahan dalam kondisi sosial yang serba ketidakpastian dan penuh kecemasan.

Kecemasan akibat virus ini dapat mengakibatkan stress dan orang yang mudah stress gampang sekali terkena berbagai penyakit. Selain pencegahan dengan pola makan yang sehat, mematuhi protokol kesehatan, olahraga yang teratur dan sebagainya, ada hal lain yang dapat mengurangi rasa cemas dan khawatir yaitu berdoa.

Berdoa merupakan salah satu unsur proses spiritual. Ketika di masa seperti ini, penting sekali menyisipi pendidikan spiritual di setiap kegiatan. Adapun pilar-pilar pendidikan spiritual yaitu iman kepada Tuhan, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir Tuhan. Implementasi pendidikan spiritual di antaranya yaitu:

Berjamaah bersama keluarga merupakan hal yang positif, diantaranya yaitu lebih dekat dengan keluarga. Yang biasanya pulang telat dan berjamaah ditempat kerja, kini sebaliknya. Penerapan WFH dari segi positifnya yaitu lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga sehingga harmonisasi kembali terjaga.

Sebagaimana suatu pernyataan bahwa sering tadarrus dapat melembutkan hati dan menjernihkan pikiran. Tadarrus dengan bacaan yang baik dan benar mampu memberikan energi positif dalam tubuh. Karena dengan hati dan pikiran yang terkoneksi baik, tubuh merespon positif serta mengubah mood. Pendidikan spiritual tadarrus ini jika di terapkan di rumah bersama keluarga, mampu memberikan suasana rumah tangga yang nyaman. Di samping itu juga secara tidak langsung mendidik anak dengan pola Qur’ani.

Sirah merupakan cerita perjalanan seseorang. Membaca berbagai literatur sirah mampu memberikan hikmah dan inspirasi dalam kehidupan seseorang. Terutama sirah nabawiyah yang banyak mengandung inspirasi sehingga baik di jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Mendengarkan ceramah dari ulama di tengah masa-masa seperti ini dapat memotivasi diri dan introspeksi diri. Sehingga yang biasanya terbelenggu oleh rasa khawatir dan cemas tentang masa depan, dengan meningkatkan rasa iman yang kuat, rasa negatif itu berangsur akan bergeser dan pikiran positif kembali hadir.

Menyisihkan harta kita kepada orang lain merupakan tindakan yang terpuji. Di masa pandemi ini menyadarkan kita bahwa dengan kepedulian antar sesama dapat mendongkrak krisis yang terjadi. Memberikan bukan berarti hilang, namun memberikan berarti mendapatkan. Harta merupakan titipan, dan titipan bukan untuk selamanya, namun dapat ditarik kapan saja.

Exit mobile version