Musim Kawin

Penulis : Imam Muhlis Ali

“Mas, kulo nyuwun tulung sampyan dados MC pembawa acara ing resepsi pernikahan anak putriku” pinta tetanggaku yang biasa dipanggil Pak Mus.

“Nggeh insyaallah pak, kapan resepsinipun?”. Tanyaku.

“Besok siang mas”. Jelasnya.

“Ya siap pak”. Jawabku.

“Eh sekalian qori’ Al Qur’annya mas”. Pinta Bapak Mus.

“Nggeh Pak Mus”.

Sore itu aku langsung mencari qori’ Al Qur’annya. Alhamdulillah tak sulit mencarinya, padahal biasanya saat-saat banyak hajatan ‘gawe’ pernikahan ini mencari qori’ dan MC cukup sulit karena banyak ‘bertugas’. Ketemulah qori’ yang masih kerabat dekatku.

Memang setidaknya disaat-saat bulan antara September sampai Desember ini banyak hajatan ‘gawe’ resepsi pernikahan maupun khitanan. Bahkan diprediksi awal-awal tahun depan masih banyak acara.

Meski saat ini masih dalam kondisi Virus Corona, namun ‘tak menyurutkan’ niat melangsungkan acara. Tentunya dengan himbauan melakukan protokol kesehatan. Dan ini diizinkan oleh Pemerintah dengan mematuhi prosedurnya.

Kata orang bulan-bulan musim penghujan ini adakah cocok disebut istilah ‘musim kawin’. Saya pribadi kok merasa ada yang kurang ‘enak’ didengar. ‘Musim kawin’? Kayaknya kok kalimatnya gimana gitu. Tapi kalau menurut pembaca gak apa-apa ya sudahlah. 😀

Saya kira ‘musim kawin’, musim sunatan, atau musim apapun di bulan Desember berbarengan musim penghujan ini biasa saja dan bisa dilaksanakan. Juga mudah-mudahan dibulan ini banyak ‘buwohan’, ulem-ulem, weweh surat, nasi dan roti serta sekarang fenomena ‘weweh’ berupa gelas, mangkok sudah terbiasa bagi kita 😀. Insyaallah dengan niat tulus ikhlas bersilaturahmi mengadakan dan atau menghadiri suatu hajatan ‘gawe’, kita akan mendapat barokah. Amin.

Saya hanya mengucapkan selamat menyenggarakan acara hajatan semoga berjalan lancar, sukses dan akhir ‘ending’ nya berbahagia. Amin ya Robbal Alamin.

Siap-siap resepsian… 🙂

Exit mobile version