fbpx
  • Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita
  • Login
Patinews Berita Pati Hari Ini
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
No Result
View All Result
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Home Opini

Mengenal Manuskrip Mushaf al-Qur’an dari Kulit Sapi di Museum Gusjigang

patinews.com by patinews.com
12 April 2023
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Mengenal Manuskrip Mushaf al-Qur’an dari Kulit Sapi di Museum Gusjigang
573
VIEWS
Share on WAShare on FBShare on Twitter

Mengenal Manuskrip Mushaf al-Qur’an dari Kulit Sapi di Museum Gusjigang

Penulis : Mitatun Nuzulia (IAIN KudusMahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Kudus)

RelatedPosts

Narasi Beracun

DPR Hanya Kumpulan “Korea”? Demo ke DPR untuk Apa?

Membangun Tata Kelola Yayasan Pendidikan Madrasah yang Modern dan Adaptif di Tengah Dinamika Perubahan

Pentingnya Mengenal Manuskrip Mushaf

Manuskrip atau naskah kuno merupakan salah satu cikal bakal peradaban manusia. Naskah kuno secara nyata menampilkan catatan-catatan kebudayaan masyarakat kita di masa lalu. Di dalamnya tak hanya berisikan nilai-nilai tradisi, tetapi juga ajaran penting dari nenek moyang kita yang mengandung kearifan lokal.

Begitu pun dengan manuskrip mushaf al-Qur’an. Di dalamnya mengandung nilai-nilai penting mengenai al-Qur’an seperti tanda baca, tanda wakaf, ilmu rasm, dan perbedaan qira’at. Melalui manuskrip mushaf al-Qur’an juga kita akan tahu bagaimana cara umat muslim membaca al-Qur’an di masa lalu.

Di Indonesia, salah satu kota yang terkenal dengan pengembangan kajian al-Qur’an terbaik adalah kota Kudus. Di kota ini banyak berdiri lembaga pendidikan yang berkonsentrasi pada ulumul Qur’an salah satunya yaitu Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Kudus yang didirikan oleh ulama ahli Qur’an Khadratusy Syaikh KH. M. Arwani Amin.

Kota ini juga memiliki sebuah museum yang bernama Museum Gusjigang. Di dalamnya terdapat beragam koleksi manuskrip mushaf al-Qur’an, salah satunya adalah Manuskrip Mushaf al-Qur’an dari kulit sapi. Nama Gusjigang itu sendiri diambil dari ajaran Sunan Kudus yang artinya, bagus akhlaq, pintar mengaji, dan pandai berdagang. Hal ini tentu relevan dengan ajaran terkenal dari Sunan Kudus yang juga merupakan nama museum ini, yaitu Gusjigang yang artinya bagus akhlaknya, mau mengaji, dan mau berdagang. 

Filologi: Sebuah Ilmu untuk Mengkaji Manuskrip (Naskah Kuno)

Sebelum membahas lebih jauh terkait dengan manuskrip mushaf al-Qur’an du Museum Gusjigang, perlu diketahui bahwa ilmu yang digunakan untuk mengkaji manuskrip kuno, yakni ilmu filologi. Filologi berasal dari kata Yunani philos yang berarti “cinta” dan kata logos yang berarti “kata”. 

Pada kata filologi, kedua kata tersebut membentuk arti “cinta kata” atau “senang bertutur”. Kemudian, makna tersebut berkembang menjadi “senang belajar”, “senang ilmu”, dan “senang kesastraan” atau “senang kebudayaan”. 

Dengan begitu, filologi merupakan suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan.(Baried et al., 1985)

Di samping itu, wahana-wahana teks filologi ada yang berupa teks lisan dan teks tulisan. Seperti yang telah diketahui, bahwa pada umumnya naskah berupa bahan tulisan tangan atau buku, seperti kulit kayu, kulit hewan, rotan, dan lain sebagainya. 

Salah satunya, sebagaimana yang akan dibahas berkenaan dengan manuskrip (naskah kuno) mushaf al-Qur’an yang ada di Muesum Gusjigang yang terbuat dari kulit sapi.

Karakteristik Manuskrip Mushaf al-Qur’an di Museum Gusjigang

Karakteristik manuskrip mushaf al-Qur’an kulit sapi ditulis menggunakan tinta kuning keemasan, merah, dan biru. Berdasarkan penelitian yang diperoleh, bahwa properti mushaf al-Qur’an ini didapat dari seorang kolektor di Kalimantan Timur. 

Manuskrip mushaf al-Qur’an ini berbahan dasar dari kulit sapi yang mempunyai ketebalan 5 cm dengan berat total 14,2 kg. Di dalamnya terdapat tanda waqaf, syakl, dan hiasan di pinggir naskahnya. Tanda di setiap ayat ditunjukkan dengan tanda lingkaran. 

Di awal surat juga dituliskan Makky-Madani, dan jumlah ayat dalam setiap surat. Dalam penulisan nama surat dan Makky-Madani terdapat di tepi naskah bagian atas yang ditandai garis lurus sebagai pemisah nama ayat. Sedangkan bagian bawah tepi naskah juga ditandai garis lurus sebagai pemisah ayat dan keterangan jumlah ayat dalam setiap surat. 

Mushaf ini bukan termasuk mushaf pojok, dan di dalamnya masih terdapat kesalahan-kesalahan kecil, seperti kurangnya gigi dan titik pada suatu kalimat. Dan aspek qiraat pada manuskrip mushaf kulit sapi ini menggunakan qiraat Imam ‘Ashim riwayat Hafs, di mana qiraat tersebut lebih banyak digunakan oleh kalangan masyarakat Indonesia.

Pada bagian penanggalan, tidak terdapat keterangan terkait dengan tanggal ditulisnya manuskrip mushaf tersebut. Namun, diperkirakan bahwa manuskrip mushaf tersebut berusia sekitar 40-50 tahun. 

Selain itu, pada aspek rasm manuskrip mushaf al-Qur’an kulit sapi ini menggunakan kaidah penulisan rasm usmani, yakni ejaan bahasa Arab untuk menuliskan mushaf al-Qur’an yang dituliskan pada masa khalifah Usman bin Affan. 

Hal itu dapat dilihat pada kata “al kitaba” di mana huruf “ta” dalam tulisan tersebut menggunakan fathah panjang الكتب yang tidak seperti pada umumnya menggunakan “alif” الكتاب, kaidah tersebut dinamakan kaidah hadf. Kaidah hadf merupakan kaidah yang membuang huruf. Dalam kaidah hadf terdapat ketentuan-ketentuan huruf yang dibuang, yakni alif, wawu, ya’, dan nun. 

Hal itu menjadi salah satu ciri yang membedakan antara penulisan rasm usmani dengan penulisan rasm yang lain. Selain itu, terdapat kata lain yang termasuk dalam ciri-ciri rasm usmani, yaitu pada kata “as shalihati” الصلحت yang membuang huruf “alif” setelah huruf “ha’”. Di mana pada umunya penulisan tersebut الصالحات menjadi الصلحت.

Kota Kudus merupakan Kota al-Qur’an. Julukan ini sudah sepantasnya disematkan pada Kota Kudus. Bukan hanya karena telah melahirkan ribuan penghafal al-Qur’an melalui lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh ulama ahli Qur’an di kota ini tetapi juga karena semangat dan ketelatenan masyarakatnya dalam belajar dan mengkaji al-Qur’an. Melalui penelitian ini dapat kita ketahui bahwa semangat belajar al-Qur’an ternyata sudah ada sejak zaman dahulu. 

Buktinya adalah ditemukannya manuskrip mushaf al-Qur’an di museum Gusjigang yang ditulis dengan iluminasi yang indah dan terkesan mewah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kecintaan terhadap al-Qur’an, semangat belajar dan mengkaji al-Qur’an masyarakat muslim zaman dulu amatlah tinggi yang kini menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk melanjutkan dan mempertahankan semangat mereka dalam mengkaji al-Qur’an.

Mengetahui sejarah dan komponen-komponen lainnya merupakan hal yang sangat langka. Apalagi di era sekarang banyak versi yang beredar. Namun tidak banyak peminat untuk melakukan penelitian terkait dengan manuskrip kuno. Dengan demikian menjadi penting bagi kita sebagai generasi muda, khususnya mahasiswa memahami dan mengenal, bahkan meneliti manuskrip mushaf al-Qur’an kulit sapi yang berada di Museum Gusjigang ini.

 

Tags: berita patiGusjigangiain kudusjatengkabar patikudusmediapatinewspatipati hari inipatihitspatinewssentralpatinewssuara patisuarapatinewswarta pati
patinews.com

patinews.com

redaksi@patinews.com

Related Posts

Opini

Narasi Beracun

7 Oktober 2025
339
DPR Hanya Kumpulan “Korea”? Demo ke DPR untuk Apa?
Opini

DPR Hanya Kumpulan “Korea”? Demo ke DPR untuk Apa?

22 September 2025
81
Membangun Tata Kelola Yayasan Pendidikan Madrasah yang Modern dan Adaptif di Tengah Dinamika Perubahan
Opini

Membangun Tata Kelola Yayasan Pendidikan Madrasah yang Modern dan Adaptif di Tengah Dinamika Perubahan

14 Juli 2025
74
Menatap Tahun Ajaran Baru: Ijazah Itu Hanya Tanda Anda Pernah Sekolah, Bukan Pernah Berpikir
Opini

Menatap Tahun Ajaran Baru: Ijazah Itu Hanya Tanda Anda Pernah Sekolah, Bukan Pernah Berpikir

10 Juli 2025
175
Mendobrak Kepalsuan Akademik: Refleksi Kebijakan Bupati Pati
Opini

Saat SD Negeri Sepi Peminat: Fenomena Baru SPMB di Kabupaten Pati

18 Juni 2025
565
Menjaga Amanah, Mengawal Masa Depan: Refleksi Pemilihan Kepala MTs Raudlatut Tholibin
Opini

Menjaga Amanah, Mengawal Masa Depan: Refleksi Pemilihan Kepala MTs Raudlatut Tholibin

19 Mei 2025
53
Seedbacklink
No Result
View All Result

Terbaru

  • Polda Jateng Gencarkan Giat Binluh dan Dikmas Selama Masa Operasi Keselamatan Candi 2026, Komitmen Cetak Generasi Tertib Berlalu Lintas di Masa Depan
  • PRESIDEN PRABOWO ANUGERAHKAN BINTANG JASA DAN SATYALANCANA WIRA KARYA KEPADA PENGGERAK MBG DAN RANTAI PASOK SPPG POLRI
  • Waspada “Penumpang Gelap” Reformasi Polri, Habiburokhman: Jangan Sampai Melemahkan Institusi dan Pemerintahan
  • Mudik Gratis BUMN 2026 Siapkan 100 Ribu Lebih Kuota, Berangkat 17 Maret dari GBK
  • Gandeng Jepang, Rawa Pening Disiapkan Jadi Proyek Percontohan Ekonomi Hijau
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.

No Result
View All Result
  • Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist