Mengenal Koleksi Mushaf Kuno di Museum Gusjigang Kudus

Tugas UTS dalam Mata Kuliah Filologi IAIN Kudus

 

Kelompok 2:

1. Moh. Lathoifur Rohman (2030110114)

2. A. Robith Billhaq (2030110135)

3. Rina Septiana Dewi (2030110138)

 

Sekilas Tentang Kota Kudus

Kota Kudus merupakan suatu kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Adapun Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari kisah Sunan Kudus. Beliau sempat tinggal di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam, dan beliau juga memiliki hubungan khusus dengan kota Al-Quds. Nama Kudus diambil dari kata Al-Quds. Menara Kudus dan Masjid Al Aqsha yang dibangun Sunan Kudus menjadi sentral nadi kehidupan masyarakat Kudus. Kedua bangunan yang memadukan arsitektur Jawa, Islam, Hindu, dan China itu menjadi saksi sekaligus pengingat abadi tumbuh dan berkembangnya filosofi Sunan Kudus “GusJiGang”.

Kota Kudus sendiri saat ini dikenal dengan tempatnya para penghafal Al-Qur’an. Di Kudus juga terdapat museum yang memiliki koleksi beberapa Mushaf kuno dengan berbagai macam bentuk dan media penulisannya.

 

Arti ajaran warisan Sunan Kudus “GusJiGang”

Kepanjangan dari kata GusJiGang sendiri adalah; baGus akhlak, pandai ngaJi, pandai daGang. Dari konsep GusJiGang, Sunan Kudus mengajarkan kepada masyarakat Islam di Kudus agar mempunyai budi pekerti yang bagus atau baik, bisa mengaji atau rajin beribadah serta pandai berdagang seperti teladan yang diajarkan Rasullluah SAW. Singkatnya, kita sebagai manusia harus seimbang antara urusan duniawi dan urusan akhirat kita, sebagaimana tercermin dari ajaran gusjigang sendiri.

Koleksi mushaf Al-Qur’an di Gusjigang

Ada beberapa koleksi Mushaf di museum Gusjigang Kudus. Ketika akan memasuki area koleksi mushaf kita langsung disuguhkan Mushaf raksasa yang dipajang berdiri di tengah. Mushaf tersebut terbuat dari bahan kanvas dengan ukuran 3x6m. Mushaf ini belum lengkap 30 juz, melainkan hanya menampilkan Surah Al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqoroh saja dengan hiasan motif khas nusantara di sekelilingnya. Di sekitar mushaf raksasa tersebut ada beberapa koleksi mushaf lain, diantaranya adalah;

Al-Qur’an kuno daun lontar;

Mushaf yang lengkap 30 juz ini berusia sekitar 300 tahun, terbuat menggunakan daun lontar kering (Borossus Flabellifer polmyra) yang disusun dan dirangkai menggunakan semacam benang dengan sampul dari pelepah batang pohon lontar. Ditulis menggunakan pengutik, yaitu alat khusus semacam jarum yang sudah dipanaskan. Zaman dulu, alat tersebut digunakan untuk mencatat tulisan aksara kawi. Keunggulan daun lontar ini tulisannya dapat bertahan lama, meskipun sekarang ini tulisannya akan sulit terbaca bagi orang awam.

Al-Qur’an bahan kulit sapi;

Mushaf ini menggunakan bahan kulit sapi yang berisi 30 juz, ditulis dengan tinta berwarna kuning keemasan, merah, dan juga biru. Dihiasi dengan ornamen khas nusantara di tepian halamannya. Ketebalannya 5 cm dan beratnya mencapai 14,2 kg. Usia mushaf tersebut sekitar 40-50 tahun. Diperoleh dari seorang kolektor di Kalimantan Timur. Keunggulan kulit sapi ini lebih elastis, kuat dan tahan lama. Sepengelihatan kami yang awam ini, tulisan dalam mushaf tersebut masih sangat mudah dibaca karena bentuk khat yang mudah dibaca juga tintanya yang masih sangat jelas terlihat. Dalam mushaf ini tidak ada penomoran ayat, halaman, keterangan juz, serta tidak adanya tahun penulisan mushaf.

Al-Qur’an bahan kertas kuno,

Mushaf ini dalam keterangan di museum hanya tertulis menggunakan kertas kuno, tidak disebutkan secara detail kertas apa yang digunakan. Naskah ini diserahkan dan disimpan di Museum Gusjigang oleh seorang kolektor Alquran di Banyuwangi, Jawa Timur. Kondisi manuskrip ini masih cukup baik. Memiliki sampul dengan ketebalan kurang lebih 0,5 cm, berwarna coklat, dan memiliki berat total 7,2 kg. Ada mushaf yang ditulis dengan tinta keemasan, ada pulang yang menggunakan tinta hitam dan merah. Dalam mushaf ini tidak ada penomoran ayat, halaman, keterangan nama surah, keterangan juz, serta tidak adanya tahun penulisan mushaf.

Al-Qur’an mini Stambul Turki;

Manuskrip ini merupakan mushaf kuno terkecil diantara mushaf lainnya. Dibuat di Istanbul, Turki. Ditulis dengan tinta berwarna kuning keemasan dan merah yang dilengkapi dengan wadah dari tembaga yang sekaligus terdapat kaca pembesar di bagian depan wadahnya. Namun ada juga beberapa mushaf mini yang tidak dilengkapi dengan wadah dan kaca pembesar. Qur’an mini tersebut berisi 30 juz dan berbahan kertas kuno, yang disusun seperti tasbih dan mempunyai ukuran panjang 25 cm, dengan luas 2 cm, tebalnya 2 cm. Terdapat juga mushaf mini dengan bentuk mushaf pada umumnya, tidak tersusun memanjang seperti tasbih. Properti tersebut diperoleh dari seorang kolektor di Jombang Jawa Timur.

Selaikn itu ada juga beberapa manuskrip mushaf lainnya yaitu; Al-Qur’an sampul pintu Ka’bah berwarna emas, Al-Qur’an kuno dari surau, dan Al-Qur’an kuno dari pesantren.

 

Semoga dengan mempelajari peninggalan dari nenek moyang dapat membangkitkan semangat kami dan para pembaca dalam membaca, mempelajari dan mendalami isi kandungan dari Al-Qur’an, dan juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aamiiin…

 

Exit mobile version