Manuskrip al-Qur’an yang berada di Masjid Dog Jumeneng Cirebon

Manuskrip al-Qur’an yang berada di Masjid Dog Jumeneng Cirebon

 

Penulis: M Shufiadin,Marshanda Aulia FJ, Faizah puji astuti (Mahasiswa IAIN Kudus prodi Ilmu Al-Qur’an dan tafsir)

 

Sekilas Mengenal Masjid Dog Jumeneng Cirebon

Masjid Dog Jumeneng atau disebut juga Masjid Sang Saka Ratu berada di komplek pemakaman sunan Gunung Jati di desa Astana kecamatan Gunung Jati kabupaten Cirebon.

 

Masjid yang memiliki beragam keunikan yang sangat menarik untuk dikaji, tidak hanya namanya yang unik, mulai dari sejarah serta ritual ibadahnya pun memiliki daya tarik tersendiri, terlebih masjid ini di bangun berundak karena menysesuaikan dengan kondisi tanah disana.

 

Masjid Dog Jumeneng didirikan pada tanggal 12 rajab 1128 H. Ada sisi menarik dari diberdirikannya masjid ini, konon masjid ini merupakan hadiah dari Syekh Quro dari Karawang untuk sunan Gunung jati yang mana syekh kuro itu merupakan guru dari Nyimas Rara Santang (Ibu sunan Gunung Jati), di Yakini masjid ini awalnya berada di Karawang kemudian di

pindahkan dengan cara di terbangkan dalam hitungan sekejap mata, kejadian ini menjadi sebab lahirnya nama “Dog Jumeneng” yang artinya “Muncul secara tiba tiba”.

 

Selain itu dog mengandung arti anteng (jawa) atau tenang, jika dikaitkan dalam Bahasa Arab

akan sama artinya denganI’tikaf sedangkan jumeneng berarti menjadi diri sendiri dengan

kesejatian insani, sehingga jka di padukan dog jumeneng mengandung arti bersikap istiqomah

dalam melaksanankan dan menerapkan nilai nilai spiritual dalam keseharian untuk mencapai

kesejatian diri sebagai hamba Allah.

 

Arti Kata Manuskrip

 

Sebelum membahas lebih jauh mengenai manuskrip yang ada di masjid Dog Jumeneng

Cirebon, kiranya kita pahami dahulu arti dari manuskrip itu sendiri, guna memahani secara

menyeluruh bacaan ini, terlebih untuk para civitas akademisi yang bergelut di bidang ini.Jika

ditanya apa itu manuskrip keumuman menjawab bahwa manuskrip itu sebuah naskah. Tapi untuk pemahaman lebih jelasnya simak penjelasannya dibawah ini.

 

Menurut KBBI manuskrip merupakan naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi.Yang

di maksud naskah disini menurut undang-undang No.43 tahun 2007 merupakan naskah kuno yang di tulis mengunakan tangan yang tidak di cetak atau di perbanyak dengan cara lain, sekurang-kurangnya berumur 50 tahun yang mempunyai nilai penting bagi kebudayaan

nasional dan ilmu pengetahuan.

 

Yang menjadi objek dari penulisan ini berupa manuskrip yang berada di masjid Dog Jumeneng

yang ada di komplek pemakaman Sunan Gunung Jati dari segi karakteristiknya.

 

Karakteristik Manuskrip Al-Qur’an di Masjid Dog Jumeneng Cirebon Majid Dog Jumeneng menyimpang banyak manuskrip kuno yang salah satunya merupakan manuskrip al-Qur’an, tersimpan pada lemari kaca berukuran 3 Meter yang berada di undakan ke 3, didalam lemari tersebut terdapat 6 buah manuskrip al-Qur’an yang sudah di lindungi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Cirebon. Namun dari ke-enam manuskrip tersebut tidak di ketahui nama penulisnya dan sejarah penulisannya.

 

Naskah kuno yang tedapat di majid Dog Jumeneng semuanya berwarna coklat namun ada bebarapa yang berwarna kuning tua, menurut pengamatan warna yang coklat manandakan

bahwa naskah tersebut berumur lebih tua dari naskah yang berwarna kuning tua. Disamping

itu,manuskrip tersebut tidak ada iluminasinya. Iluminasi biasa juga disebut sebagai gambar

yang menghiasi naskah yang bentuknya bermacam-macam seperti kaligrafi, dekor-dekor daun dan lainnya. Biasanya iluminasi berwarna merah dan berbeda dengan tinta tulis naskah.

 

Mushaf Kuno yang terdapat di Masjid Dog Jumeneng Cirebon semuanya menggukan bahan kertas, menurut catatan kertas yang digunakan kertas eropa dan menggunakan tinta berwarna hitam, tapi sayangnya kondisi mushaf sekarang tidak komplit dan kondisi sebagian ada yang

rusak.

 

Dengan ini Manuskrip al-Qur’an yang terdapat di masjid Dog Jumeneng merupakan warisan dari nenek moyang kita terdahulu yang perlu kita rawat dan jaga, agar anak cucu kita bisa melihat bagaimana orang terdahulu sangat produktif dalam membuat karya dan semoga bisa menjadi motivasi untuk anak-anak muda agar terus berkarya khususnya dalam bidang al-Qur’an.

 

(*)

Exit mobile version