Oleh : Selvia Septiyani
- PENDAHULUAN
Salah satu tujuan program peternakan kambing dirancang untuk membantupengentasan kemiskinan di Indonesia melalui pengembangan peternakan kambing. Peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan yang berprofesi sebagai petani merupakanisu yang sangat penting dalam pemenuhan swasembada pangan. Salah satu caranya adalahdengan melakukan kegiatan di bidang peternakan, termasuk peternakan kambing. Kesejahteraan rakyat telah menjadi agenda prioritas utama dan pembangunan nasional. Meskipun program peternakan untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaantelahdilaksanakan, namun keberhasilan program tersebut masih perlu ditingkatkan. Salahsatukelemahan program tersebut adalah tidak adanya pembinaan yang berkesinambungan. Membantu masyarakat pedesaan yang kurang mampu perlu dilakukan dengan melakukanberbagai kegiatan. Pendampingan berupa fasilitasi, mediasi, dan advokasi harus dilakukanoleh unsur masyarakat setempat, termasuk perguruan tinggi. Peran perguruan tinggi sebagai elemen masyarakat terdidik dalam program pembangunan dan pengentasan kemiskinanharusdioptimalkan.
Pengembangan peternakan kambing perah bertujuan untuk meningkatkandanmemanfaatkan potensi yang ada untuk meningkatkan produksi susu dalamnegeri danprodukolahannya (Dirjen Industri Agro dan Kimia 2009; Direktorat Jenderal PeternakandanKesehatan Hewan 2011). Ketertarikan konsumen terhadap susu kambing saat ini terutamakarena susu kambing dipercaya memiliki banyak manfaat terutama dari segi kesehatan. Produksi susu kambing sangat penting untuk kesejahteraan ribuan orang Indonesia. Pengolahan makanan dalam susu kambing saat ini masih dalam tahap fermentasi denganmenambahkan bakteri asam laktat ke dalam susu. Sedangkan untuk produk non pangan, susu
kambing merupakan bahan yang umum ditemukan pada produk perawatan kulit dan kosmetikalami. Selama ini pengetahuan untuk proses selanjutnya masih kurang memadai karenaterbatasnya ketersediaan baik kuantitas maupun kualitas bahan baku.
- PEMBAHASAN
Meskipun peluang dan potensi peternakan kambing perah sangat besar bagi kesejahteraan peternak di Indonesia, namun komersialisasi potensi produksi kambingperahmasih belum terfokus. Mengubah pola pikir petani untuk memulai dan fokus pada bidangusaha sangatlah penting. Komersialisasi dapat didefinisikan sebagai upaya untukmeningkatkan nilai tambah produknya, dan mereka mengukur atau menilainya dalambentukuang. Produksi kambing perah, khususnya produksi berbasis padang rumput, menawarkanpeluang untuk keragaman yang menguntungkan dan berkelanjutan di peternakan kecil (Costaet al., 2010; Midau et al., 2010; Delaney, 2012; Utami, 2014). Peternakan kambingperahtelah didirikan di kawasan agroekosistem. Industri kambing di Indonesia terus berkembangseiring dengan meningkatnya permintaan susu lokal. Namun industri tersebut dapat berkembang apabila baik pemerintah maupun pihak swasta memberikan dukungan danfokuspada peningkatan produksi kambing perah, terutama untuk meningkatkan kreativitas peternakkambing perah untuk bersaing dalam memuaskan calon konsumen.
Performa dan Mata Pencaharian Kambing Perah Semi Intensif
Salah satu dari tiga tugas utama pemulai manajemn bisnis ini adalah pelayananpublik. Lebih dari sepuluh peternak kambing perah semi intensif di Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produksi dan pemasaran susu kambing. Tiga diantaranya telahdievaluasi dan didukung oleh program penyediaan hijauan (Indigofera sp.), analisis pakandan pelayanan kesehatan.
- Program Sosialisasi.
Program sosialisasi akan dilakukan sebelum acara berlangsungyaitumenginformasikan kepada peserta tentang hak dan kewajibannya, serta dilakukansecara
musyawarah dan mufakat. Sosialisasi program dilakukan sebelum dan sesudah pembentukankelompok, namun jika ada anggota masyarakat yang tidak setuju dengan programyangakandilakukan dapat langsung mengundurkan diri dan digantikan oleh anggota masyarakat lainnya. Sistem pengelolaan kambing berdasarkan prinsip Gaduhan (Berbagi), dimanamayoritas betina diberikan dua ekor kambing betina. Untuk setiap sepuluh kambingbetinaada satu kambing jantan. Setiap anggota kelompok harus menandatangani perjanjianhukumyang menyatakan usia, jenis kelamin, berat dan harga kambing yang diterima dari proyek, bahwa mereka setuju dengan sistem distribusi kambing dan bahwa mereka akan mengelolakambing dengan kemampuan terbaik mereka. Setelah kehamilan kedua, peternak menjadi pemilik tunggal kambing betina dan anak-anaknya.
- Penyuluhan di bidang peternakan kambing.
Setelah kelompok terbentuk, akan dilanjutkan dengan penyuluhan di bidangpeternakan: – Kandang Hewan; Reproduksi, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit, PakandanHijauan; Pengelolaan dan pemasaran sampah (buffer marketing system)
- Perbaikan Kandang Sapi dan Pengenalan Pakan.
Kandang kambing dibuat sesuai dengan ketersediaan bahan dan persyaratanteknissetempat. . Untuk penyediaan pakan ternak di lokasi perlu diperkenalkan rumput ataukacang-kacangan. Sebelumnya telah dilakukan penyuluhan tentang jenis, manfaat, carapengobatan/budidaya, dan cara pengawetan makanan. Hijauan yang akan diintroduksi adalahlegum seperti Calliandra, Leucaena, Sesbania dan Desmodium rensonii, Nangka, dll. Disarankan untuk memilih legum yang tidak sulit dikembangkan dan relatif sesuai dengankondisi lokal dan disukai oleh kambing.
- KESIMPULAN
Pemeliharaan kambing perah di Indonesia umumnya dipelihara di daerah perbukitan, dimana pakan yang tersedia sesuai untuk kambing. Performa produksi masihperluditingkatkan, demikian pula pemanfaatan teknologi (pelestarian pakan, reproduksi, penanganan hasil). Beberapa bahan pakan yang mengandung sifat anthelmintik digunakan, dan hal ini menguntungkan bagi peternak, karena dapat mengurangi beban biaya obat, danperlu dikembangkan lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Costa, R.G., H.L.B.D Monte, E.C.P. Filho, E.V.H. Júnior, G.R.B. da Cruz andM.P.C. Menezes. 2010. Typology and characterization of goat milk production systems intheCariris Paraibanos. R. Bras. Zootec. 39(3):656-666
Delaney, C. 2012. Guide to starting a commercial goat dairy. UVMCenter for SustainableAgriculture, Vermont USA
Indonesian Livestock Statistic, 2011. Department of Agriculture Republic of Indonesia, Jakarta
Midau, A., A. Kibon, M.S. Morrupa and C. Augustine. 2010. Acceptability and consumptionof goat milk in Adamawa State, Nigeria: a case study of Mubi North and Mubi Southlocal government areas. J. Agric. Soc. Sci. 6:11–13.
Utami, H.D. 2014. Consumer behavior toward goat milk and its processed productsinMalang, Indonesia. J. Int’l. Food and Agribusiness Marketing. 26(1):1-12.