• Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita
  • Login
Patinews Berita Pati Hari Ini
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
No Result
View All Result
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Home Berita

Krisis Iklim di Hari Nelayan, Peneliti UPER Ungkap Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Warga Pesisir

m@s by m@s
11 April 2026
in Berita
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Krisis Iklim di Hari Nelayan, Peneliti UPER Ungkap Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Warga Pesisir
29
VIEWS
Share on WAShare on FBShare on Twitter

Krisis Iklim di Hari Nelayan, Peneliti UPER Ungkap Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Warga Pesisir

JAKARTA, PATINEWS.COM

Momentum peringatan Hari Nelayan Nasional yang baru saja berlalu meninggalkan catatan penting bagi masa depan sektor maritim Indonesia. Di balik seremonial tahunan, data lapangan justru menunjukkan potret buram: sekitar 30,2 juta warga pesisir kini berada dalam ancaman nyata akibat perubahan iklim (BPS, 2022). Tanpa langkah mitigasi yang konkret, kerugian ekonomi sektor perikanan di zona ekonomi eksklusif Indonesia diprediksi bakal merosot hingga 26 persen pada tahun 2050 (IPCC, 2022).

RelatedPosts

Agar Semakin Kuat dan Bermanfaat: Solidaritas Komunitas Pati (SOKO PATI) Adakan Rapat Koordinasi Bulanan 

Sikat Ketimpangan Akses Keadilan, Komisi A DPRD Pati Godok Raperda Bantuan Hukum Bagi Warga Miskin

Wujudkan Keadilan Bagi Warga Miskin, Komisi A DPRD Pati Desak Percepatan Perda Bantuan Hukum

Kondisi kritis ini tercermin nyata dalam hasil penelitian terbaru tim akademisi Universitas Pertamina di Teluk Aru, Kalimantan Selatan, yang diketuai oleh Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi. Kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan pakar dari bidang Teknik Logistik, Hubungan Internasional, serta Manajemen ini membedah bagaimana wilayah yang merupakan salah satu pusat perikanan tangkap terbesar di Kalimantan Selatan dengan potensi 98.000 ton per tahun tersebut, kini justru menjadi saksi bisu perjuangan nelayan tradisional melawan ketidakpastian alam.

Dok: Dokumentasi observasi lapangan tim riset Universitas Pertamina dalam mengikuti aktivitas harian warga pesisir menggunakan perahu tradisional.

Ita Musfirowati Hanika mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi akademis, melainkan gangguan nyata pada kalender melaut.

“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa perubahan iklim di Teluk Aru telah menjadi realitas yang memaksa nelayan berhenti melaut akibat cuaca ekstrem yang tak menentu dan hilangnya kepastian lokasi tangkapan akibat anomali migrasi ikan,” papar Ita.

Lebih lanjut, Ita menjelaskan bahwa ketidakpastian ini merusak tatanan hidup masyarakat pesisir.

“Musim Barat yang seharusnya tiga bulan kini bisa molor hingga lima bulan karena perputaran angin yang tak lagi bisa ditebak. Pergeseran pola musim ini membuat pengetahuan lokal yang selama ini dipegang nelayan turun-temurun menjadi tidak lagi relevan,” tambahnya.

Ita juga menekankan pentingnya komunikasi risiko yang tepat,

“Kami menemukan bahwa meski nelayan sadar akan risiko, mereka tidak memiliki kanal informasi cuaca yang cukup presisi untuk mendukung keputusan mereka setiap hari.” tambahnya.

Realitas di akar rumput kian mempertegas urgensi temuan tersebut. Lahudina (74), salah satu nelayan senior di Teluk Aru, menuturkan bagaimana ketidakpastian alam telah menggerus kesejahteraan mereka.

“Tahun ini cuaca tidak menentu, penghasilan nelayan sedang ‘sakit’. Pernah saya memancing semalaman cuma dapat satu ekor ikan, dijual cuma Rp35.000, padahal ongkos sekali jalan saja sudah Rp100.000. Kami tidak dapat untung, malah tombok,” ungkapnya getir.

Kondisi serupa dialami Pak Kaswin, nelayan yang kini terpaksa beralih profesi menjadi petani cengkeh karena laut tak lagi memberi kepastian ekonomi.

Dipublikasikan secara internasional melalui IOP Conference Series: Earth and Environmental Science serta Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (DIJEMSS), riset ini memaparkan realitas ancaman kedaulatan pangan di pesisir. Selain mencatat kenaikan permukaan laut 3,5 mm per tahun dan penurunan tangkapan hingga 15%, studi ini menyoroti jeratan ekonomi nelayan di mana biaya operasional Rp300.000 sekali melaut kini sering kali melampaui pendapatan mereka.

Melalui pendekatan perilaku (HBM) dan ketahanan hidup (SLF), riset ini menyimpulkan bahwa nelayan sebenarnya memiliki kesadaran tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Namun, niat tersebut memerlukan dukungan tambahan agar hambatan keterbatasan akses dan modal dapat teratasi. Tim peneliti merekomendasikan agar kebijakan makro yang sudah ada saat ini dapat diperkuat dengan program yang lebih menyentuh kebutuhan teknis di lapangan. Hal ini mencakup kemudahan akses pembiayaan untuk modifikasi perahu yang lebih aman serta bantuan teknologi tepat guna yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh para nelayan kecil.

Menutup rangkaian refleksi Hari Nelayan ini, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menegaskan komitmen institusi untuk terus mengawal isu ini.

“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan solusi nyata atas tantangan keberlanjutan masyarakat pesisir. Penelitian lintas disiplin ini adalah langkah konkret kami dalam menjembatani temuan akademik dengan kebutuhan mendesak nelayan di akar rumput demi menjaga kedaulatan maritim Indonesia,” pungkas Prof. Wawan.

Tags: berita nasionalberita patijakartajatengkabar patiKampusmediapatinewspatipati hari inipatihitspatinewssentralpatinewssuara patisuarapatinewsUniversitas PertaminaUperwarta pati
m@s

m@s

Related Posts

Agar Semakin Kuat dan Bermanfaat: Solidaritas Komunitas Pati (SOKO PATI) Adakan Rapat Koordinasi Bulanan 
Berita

Agar Semakin Kuat dan Bermanfaat: Solidaritas Komunitas Pati (SOKO PATI) Adakan Rapat Koordinasi Bulanan 

19 Mei 2026
10
Narso, DPRD Pati
Berita

Sikat Ketimpangan Akses Keadilan, Komisi A DPRD Pati Godok Raperda Bantuan Hukum Bagi Warga Miskin

18 Mei 2026
16
Narso, DPRD Pati
Berita

Wujudkan Keadilan Bagi Warga Miskin, Komisi A DPRD Pati Desak Percepatan Perda Bantuan Hukum

18 Mei 2026
19
Mukit, DPRD Pati
Berita

Solar Mahal Cekik Pendapatan Melaut, DPRD Pati Desak Pemerintah Hadirkan Kebijakan Solar Khusus Nelayan

18 Mei 2026
19
Coffee Morning Kapolres Rembang Tekankan Disiplin dan Profesionalisme Anggota
Berita

Coffee Morning Kapolres Rembang Tekankan Disiplin dan Profesionalisme Anggota

18 Mei 2026
13
Kapolres Rembang Sidak Layanan 110 dan SPKT, Tekankan Pelayanan Cepat dan Humanis
Berita

Kapolres Rembang Sidak Layanan 110 dan SPKT, Tekankan Pelayanan Cepat dan Humanis

18 Mei 2026
14
Seedbacklink
No Result
View All Result

Terbaru

  • Agar Semakin Kuat dan Bermanfaat: Solidaritas Komunitas Pati (SOKO PATI) Adakan Rapat Koordinasi Bulanan 
  • Sikat Ketimpangan Akses Keadilan, Komisi A DPRD Pati Godok Raperda Bantuan Hukum Bagi Warga Miskin
  • Wujudkan Keadilan Bagi Warga Miskin, Komisi A DPRD Pati Desak Percepatan Perda Bantuan Hukum
  • Solar Mahal Cekik Pendapatan Melaut, DPRD Pati Desak Pemerintah Hadirkan Kebijakan Solar Khusus Nelayan
  • Coffee Morning Kapolres Rembang Tekankan Disiplin dan Profesionalisme Anggota
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.