Penulis: Shanti Ernawati, (KKN MDR IPMAFA 2020)
Masihkah kalian semua teringat pesan K.H Abdurrahman Wahid atau yang terkenal dengan sebutan Gus Dur? beberapa tahun yang silam, sebelum beliau meninggal dunia sempat berpesan kepada kita semua, belia mengatakan “tidak penting apa agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu”.
Belajar dari sikap dan pesan Gus Dur di atas bahwa berteman, dan bergaul sama siapa saja demi kebaikan tidak menjadi masalah. Dengan demikian, jelaslah bahwa perbedaan agama atau keyakinan bukan penghalang untuk bergaul kepada siapapun dan bukan penghalang untuk mewujudkan kerjasama dalam kehidupan sosial di masyarakat. Allah sendiri tidak melarang orang-orang Islam untuk berbuat baik, berlaku adil, dan berteman dengan beda agama, selagi mereka tidak memerangi dan mengusir orang Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan perdamaian untuk seluruh umat manusia di dunia.
Islam adalah agama damai, yang bisa memberi rahmat bagi semua umat manusia, itu berarti Allah tidak hanya merahmati agama Islam saja, tetapi secara keseluruhan. Sesuai yang diperintahkan Allah dalam Alqur’an, bahwa Allah telah menciptakan manusia di dunia ini dengan bersuku-suku, dengan berbangsa-bangsa, tiada lain adalah agar manusia tersebut saling kenal-mengenal. Mengenal seseorang dalam bentuk menjadikan pertemanan yang baik dengan tidak membedakan agama, merupakan sikap yang mencerminkan perwujudan dari bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah negara yang multikultural, jadi memang seharusnya kita menghargai dari setiap perbedaan yang ada.
Tetapi belakangan ini, sejumlah pemberitaan di media sosial sering dikaitkan dengan isu-isu unsur SARA (Suku,Agama, Ras, dan antar Golongan). Padahal berteman sudah hampir menjadi hal yang sering terjadi pada kehidupan manusia. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia membutuhkan orang lain untuk diajak bisa diajak berkomunikasi. Sebagai makhluk sosial tentunya manusia perlu bergaul dan bermasyarakat.
Mungkin sulit dijumpai seseorang yang hidup tanpa teman, apalagi jika berbeda agama.
Lalu bagaimana kita menyikapi jika kita berteman tapi beda agama? apakah kita tidak boleh berteman dengan mereka yang beda agama?atau apakah kita harus menjauhinya? Hidup di negara yang multikultural seperti di Indonesia ini, kita tidak bisa bersifat eksklusiv, kita harus bisa belajar untuk menerima perbedaan agama, budaya , suku, ras, dan golongan. Merujuk dari pesan Gus Dur di atas tadi bahwa hukum dari berteman dengan beda agama adalah boleh atau mubah.
Biar kita bisa berteman sama siapa saja, atau berteman dengan yang beda agama, yuuk ikuti petunjuk di bawah ini:
- Kurangi cara pandang kita yang di dasari pada latar belakang suku, bahasa atau agama.
- Hormati perbedaan pandangan hidup teman kamu, karena perbedaan adalah mengasyikkan.
- Cari tau apa persamaan dan perbedaan pada teman baru kamu.
- Ajak teman kamu untuk mendiskusikan tentang kesukaan dan kegemaran yang sama-sama kamu miliki. Hal itu bisa membuat hubungan kamu semakin akrab.
- Mudah memaafkan, jika teman kamu telah menyinggung perasaan kamu secara tidak sengaja.
Dengan demikian, jelaslah bahwa perbedaan agama atau keyakinan bukan penghalang untuk bergaul, berteman, dan mewujudkan kerjasama antar lingkungan sosial. Semoga artikel ini dapat membantu kalian dalam mewujudkan pertemanan yang baik tanpa harus membeda-bedakan agama dan keyakinan. Karena perbedaan adalah rahmat bagi semua, perbedaan agama bukanlah untuk memecah belah persatuan NKRI Selamat mencoba!!
