Oleh: M. Ibrohim Al-Bajuri
(kelompok KKN MDR 2020 “Yasawirya”)
Seringkali kita dapati sebagian kawan yang mencemooh pendapat seorang ulama dan hanya karena satu-dua fatwanya yang tidak kita setujui maka semua fatwanya kita tolak, semua buku atau ceramahnya kita acuhkan bahkan mendengar namanya disebut saja kita langsung meradang. Padahal tidak harus begitu. Kalau kita tidak cocok dengan satu-dua fatwa ulama tersebut, toh bukan berarti pendapat beliau semuanya menjadi keliru.
Begitu juga sering kita dapati sebagian kawan yang kalau sudah menentang kebijakan seorang pemimpin, maka seolah semua yang berasal dari pemimpin tersebut dianggap salah semua. Padahal boleh jadi, dia melakukan kekeliruan dalam satu-dua hal, namun ada juga kan kebijakan beliau yang bagus. Yang keliru, kita kritisi, namun yang baik ya tetap kita dukung.
Ada juga kawan yang kalau sudah berbeda pandangan dengan kita, entah karena berdebat soal urusan kantor atau soal ilmu maka langsung dimasukin ke hati. Walhasil, orang jadi takut untuk berbeda pandangan karena akan merusak silaturahmi. Terlalu baper jadinya?
Moderasi adalah ajaran inti agama islam. Islam moderat adalah paham keagamaan yang sangat relevan dalam konteks keberagaman dalam segala aspek, baik agama, adat istiadat, suku dan bangsa itu sendiri.
Upaya merongrong persatuan negara kesatuan republik indonesia yang belakangan terjadi untuk memecah belah bangsa indonesia, mendapat perhatian serius. Perhatian itu terutama datang dari tokoh masyarakat, komunitas kebangsaan maupun cendekiawan indonesia. Salah satunya yang diungkapkan ketua program studi mata kuliah umum universitas 17 agustus 1945 surabaya dr h soekarno.
Menurut soekarno masyarakat indonesia saat ini terutama generasi muda harus menyadari hakekat pancasila secara utuh dan menyeluruh. Mengingat generasi muda menjadi objek mudahnya paparan radikalisme yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.“dalam memahami pancasila dan bhinneka tunggal ika kita harus mengembalikannya pada kajian yang objekif dan ilmiah,” ungkapnya.Hal itu, lanjut dia, terkait peristiwa pengeboman beberapa waktu yang lalu yang memporak-porandakan nilai kesatuan dan persatuan bangsa indonesia yang sudah terjalin.Dalam konteks objektif, mereka harus memahami segi filosofis dari pancasila, imbuhnya. “seperti hakekat sila-sila pancasila itu apa. Jadi kita kembali lagi pada sila-sila pancasila. Karena sila-sila dalam pancasila ini tidak bisa dipisahkan” sahutnya
Rasulullah saw sendiri telah memberikan contoh mengenai bagaimana sikap yang seharusnya kita ambil dalam menghadapi perbedaan pendapat. Suatu ketika rasulullah saw memerintahkan pada sekelompok sahabat untuk tidak melakukan shalat asar, kecuali di perkampungan banni quraizah. Ternyata sebelum mereka sampai di tempat tersebut waktu asar sudah hampir habis, sehingga sebagian sahabat terpaksa melakukan shalat berdasarkan ijtihadnya, dan sebagian yang lain melakukan shalat asar setelah mereka sampai di tempat yang ditentukan rasulullah saw. Kelompok yang kedua ini juga melakukan ijthad dengan mengambil zahir teks perintah. Setelah kasus ini sampai kepada rasulullah saw, beliau membenarkan semua yang dilakukan para sahabatnya
Melihat kenyataan itu, persatuan memang amat sulit dilakukan, tetapi ternyata masih bisa diwujudkan. Rupanya, perstuan harus menjadi kebutuhan bagi semua pihak. Kebutuhan untuk bersatu harus menjadi landasannya. Manakala hal itu terjadi, maka seberat apapun usaha itu bisa diwujudkan. Sebaliknya, jika yang dibutuhkan adalah keunggulan dan apalagi kemenangan masing-masing, maka persatuan itu di mana dan kapan pun tidak akan pernah berhasil diwujudkan. Akan tetapi yang jelas, bahwa persatuan itu memang indah. Wallahu a’lam.
