Pada era perkembangan dunia digital, produksi fitnah semakin banyak, di antaranya dapat melalui konten pada media massa dan media sosial yang seringkali berbentuk teks, gambar, maupun video. Konten itu tidak jarang dikemas secara informatif, aktual, provokatif, tendensius. Sehingga tidak sedikitnya masyarakat yang kesulitan untuk membedakan mana konten yang benar, yang salah, yang fakta, atau yang hanya opini semata. Belakangan ini, fenomena sejenis fitnah di era dunia digital yaitu dikenal dengan istilah hoaks (hoax).
Pemberitaan yang tidak benar seperti berita hoax ini memang sangat meresahkan masyarakat, bahkan juga sebuah negara. karena hoax berisi mengenai hal–hal palsu, yang dapat membuat perpecahan atau seperti halnya mengadu domba. Kemunculan dari berita hoax memang sangat tidak diinginkan mengingat dampak yang diberikan sangat berbahaya.
Kecanggihan pada teknologi digital, di satu sisi memang memudahkan orang untuk melakukan hal-hal seperti transaksi, komunikasi dan pengaksesan informasi. Namun, di sisi lain, ada sebagian masyarakat yang masih kurang dibekali “literasi” (kemampuan dan keterampilan dalam membaca, menulis, berbicara, dan menghitung). Dan alhasil, bukannya mendapatkan banyak manfaat, namun justru menjadi budak dan korban oleh kecanggihan teknologi itu sendiri.
Lalu, seperti apa saja bahaya yang ditimbulkan akibat berita hoax? Oke, langsung saja berikut ulasannya.
- Menimbulkan Rasa Cemas
Sering kali berita hoax dibuat cenderung secara berlebihan dan mengada-ada. Apabila hal seperti ini sudah tersebar ke tengah-tengah masyarakat tentunya akan sangat berbahaya. Karena dapat membuat masyarakat menjadi cemas, bahkan cenderung berlebihan. Yang akhirnya, banyak masyarakat yang dirugikan oleh berita hoax tersebut.
- Menimbulkan Perpecahan
Terdapat banyak jenis berita yang ditampilkan di dalam sebuah berita bohong (hoax) mulai dari kekerasan, mengadu domba, bencana alam yang dibuat secara berlebih-lebihan dan lainnya. Berita hoax yang memuat konten menjelek-jelekkan dan mengadu domba tentu sangat berbahaya. Dikarenakan, konten yang seperti ini dapat mempengaruhi sifat kebhinekaan Indonesia. Dan hal yang paling berbahaya yang ditimbulkan adalah terjadinya perpecahan yang dapat menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.
- Menimbulkan Trauma Psikologis
Seseorang yang terlalu percaya dengan mudah terhadap berita hoax, terkadang akan mengalami trauma terhadap psikologisnya. Dampak yang seperti ini dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, hal ini tergantung pada dirinya sendiri. Kebanyakan berita bohong (hoax) memuat hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal seperti kekerasan, mengandung sara dan lainnya. Yang tentunya, dengan munculnya berita hoax seperti ini sudah pasti dapat mempengaruhi psikologis dari si pembaca berita.
Karena hoax itu merupakan berita dari hasil manipulasi dan kecurangan, yang dapat menjatuhkan orang lain. Maka dari itu, kita bisa mengantisipasinya dengan cara berikut :
- berhati-hati dengan judul yang bersifat provokatif
Berita hoax terkadang sering menggunakan judul yang bersifat provokatif. Bila menjumpai berita dengan judul yang bersifat provokatif, sebaiknya mencari referensi terkait berita yang serupa pula dari situs online yang resmi. kemudian bisa bandingkan isi beritanya, apakah sama atau berbeda. Dengan cara tersebut, setidaknya pembaca dapat memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.
- mencermati alamat situsnya
Apabila mendapat informasi yang diperoleh dari website atau link, cermatilah alamat URL situs tersebut.
- Memeriksa fakta
Periksa dari mana sumbernya berita tersebut berasal, apakah dari institusi resmi atau tidak. Jika hanya terdapat ada satu sumber, maka pembaca sulit untuk mendapatkan gambaran berita yang utuh.
- Mengecek keaslian foto atau video
Di era kecanggihan teknologi sekarang ini, konten berupa foto ataupun video dapat dimanipulasi. Dan cara untuk mengecek keaslian fotonya bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yaitu dengan melakukan “drag and drop” pada kolom pencarian di Google Images. Dari hasil pencarian tersebut akan menampilkan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet, sehingga dapat dibandingkan.
Penulis : Satriyo Ardi Wibowo (Mahasiswa Ipmafa, anggota kelompok Kkn Inkarnas)
