Alih Fungsi Smartphone sebagai Media Penilaian Sosial

Oleh: Abdul Chamid, (Mahasiswa IPMAFA Pati)

Di era digitalisasi yang sedang kita alami sekarang, mengharuskan sistem komunikasi yang serba cepat dan mudah, hampir semua kegiatan sosial didominasi oleh kontribusi gadget yang di miliki seseorang. Pasalnya fungsi gadget tersebut seolah-olah telah memberikan candu dalam aktivitas kehidupan manusia untuk dapat mengakses kebutuhan informasinya. Para milenialis misalnya, tanpa Smartphone mereka seolah-olah mati gaya karena ketidakmampuan berinteraksi sebab tidak memiliki akses dalam proses interaksinya.

Hal itu menyebabkan rasa keterasingan dalam diri seseorang karena proses interaksi sosialnya terhambat. Rasa kurang update (Kudet) juga muncul akibat sedikitnya informasi yang mereka konsumsi, akibatnya sangsi sosial yang berupa ejekan di limpahkan kepeda mereka yang kudet. Kudet adalah kondisi seseorang yang belum mengetahui isu-isu terbaru yang telah berkembang dalam waktu tersebut.

Klaim “ kurang update atau kudet ” yang diberikan kepada seseorang didalam kehidupan sosialnya mengakibatkan interaksinya terganggu dan terhambat, bahkan mendapatkan ancaman sosial yang berupa perasaan di asingkan. Orang-orang yang ‘kudet’ jika kita amati dalam kehidupanya kurang mampu bergaul dengan orang-orang yang up-to–date. Istilah ‘kudet’ ini muncul karena faktor kebosanan seseorang dalam proses interaksinya.

Contoh kecil dapat kita amati, ketika kita sedang mengobrol dengan seseorang yang kurang memahami isu-isu yang sedang berkembang di era sekarang, kita sebagai orang yang mengajaknya berinteraksi kepada dia yang kurang mengetahui isu-isu yang sedang berkembang di era ini lebih cenderung membosankan daripada mengajak ngobrol terhadap seseorang yang telah memahami isu-isu yang sedang berkembang kini.

Fenomena ini menyebabkan seseorang merasa bahwa dia sedang dikucilkan, muncul sikap keterasingan karena dalam kehidupan sosialnya mereka di anggap sebagai manusia yang tidak mampu mengikuti perkembangan zaman (katrok), kampungan dan lain sebagainya. Berangkat dari persoalan tersebut, diketahui bahwa seseorang telah menganggap “kudet” adalah sesuatu yang negatif dan harus dihindari. sehingga mereka lebih memilih untuk tidak mengalami kondisi yang demikian. Salah satu cara agar tidak di klaim sebagai seseorang yang ‘kudet’ dengan cara mengikuti hukum dan nilai yang berlaku sesuai dengan ciri dari masyarakat yang mereka tempati. Yakni: melakukan tradisi budaya yang berlaku di masyarakat tersebut.

Baca juga:   Menanam Kacang Hijau Bersama Masyarakat

Fungsi smartphone selain untuk memudahkan dalam proses komunikasi manusia juga berfungsi sebagai media penilaian standar kehidupan sosial seseorang. Mengapa demikian? Jika dalam segi fisiknya, kelengkapan fitur misalnya, Kualitas smartphone searah dengan kualitas kehidupan manusia. Pasalnya kebutuhan manusia yang semakin kompleks menuntut seseorang mengakibatkan seseorang mengkriteriakan jenis smartphone sesuai dengan kebutuhan yang mereka miliki.

Asumsi ini muncul ketika potografer memiliki smartphone yang memiliki fitur camera yang memiliki resolusi tinggi dalam proses pengambilan gambar ketika mereka bekerja, konten didalamnya juga menyesuaikan dengan kondisi kebutuhan potografer, misalnya aplikasi untu mengedit foto. Hal ini berbeda dengan fitur smartphone yang dimiliki seseorang yang berprofesi sebagai guru, fitur smartphone yang dimiliki seorang guru menyesuaikan dengan aktivitas kerjanya sebagai guru, begitu juga konten yang ia miliki. Searah pula dengan kebutuhan yang mereka miliki.

Di era milenial ini, Masing-masing smartphone seseorang merupakan ruh penunjang aktivitas kehidupan manusia. Apabila ruh ini hilang maka dampak yang terjadi adalah ketiadaan semu kehidupan manusia.

Alih Fungsi Smartphone sebagai Media Penilaian Sosial | patinews.com | 4.5

Leave a Reply