Pernah dengar tentang surrogate mother atau ibu pengganti? Jika belum, ada ceritanya di film tentang surrogate mother. Tren ibu pengganti muncul seiring perkembangan teknologi di dunia kedokteran.
Melalui peran surrogate mother, memungkinkan suatu pasangan untuk memiliki anak kandung tanpa harus melewati proses kehamilan dan persalinan. Bagaimana caranya dan seperti apa ketentuan kehamilan melalui surrogate mother ini?
Tentang Surrogate Mother
Istilah surrogate mother diberikan pada seorang wanita yang mengandung dan melahirkan bayi untuk pasangan lain. Janin atau bayi tersebut ‘dititipkan’ di rahim ibu pengganti. Saat lahir, bayi diserahkan ke orang tuanya dan ibu pengganti mendapat bayarannya.
Bayaran yang diterima surrogate mother terbilang fantastis, tetapi bisa berbeda-beda di tiap negara. Berdasarkan cerita nyata dari seorang wanita di Jawa Barat yang menjadi ibu pengganti melalui agensi luar negeri, bayaran per-kehamilan surogasi ini mencapai hingga 750 juta rupiah.
Seperti halnya seorang ibu pada umumnya, surrogate mother atau ibu pengganti juga membutuhkan banyak persiapan.
Salah satunya adalah fisik dari ibu pengganti yang harus sesuai dengan persyaratan untuk melakukan surogasi. Pada umumnya, surrogate mother hanya diperbolehkan untuk wanita usia 23-37 tahun yang sudah pernah menjalani kehamilan sehat sebelumnya.
Kesehatan ibu pengganti juga harus diperiksa dokter secara menyeluruh. Peran ini hanya bisa diambil oleh wanita yang sudah melakukan pemeriksaan intensif di dokter kandungan dan dinyatakan bagus.
Selain itu, surrogate mother harus dilakukan dengan persetujuan dari suami. Psikis dari si ibu pengganti juga harus kuat dan siap, sebab surrogate mother hanya mengandung dan melahirkan.
Proses Kehamilan Surrogate Mother
Penasaran dengan proses kehamilan dari seorang ibu pengganti? Film tentang surrogate mother yang akan menjawab rasa penasaran kamu. Dalam dunia medis, proses kehamilan surrogate mother ada dua yaitu gestasional dan tradisional.
1. Gestational surrogacy
Gestational surrogacy atau surogasi penuh pertama kali terjadi pada tahun 1986. Proses kehamilan surrogate mother dari metode ini menggunakan sperma dan sel telur dari pasangan terkait. Artinya, surrogate mother hanya meminjamkan rahim untuk mengandung janin pasangan tersebut hingga lahir nanti.
Bayi yang dilahirkan tidak akan mewariskan genetik dari surrogate mother. Proses ini dikenal juga sebagai In Vitro Fertilization atau IFV. Meski di Indonesia di larang, ada beberapa yang melegalkan praktik surrogacy seperti negara-negara berikut.
- Amerika Serikat
- India
- Ukraina
- Rusia
- Thailand
Di Amerika, praktik surogasi ini yang paling umum dan banyak dilakukan. Beberapa publik figur bahkan terang-terangan menggunakan jasa ibu pengganti. Sebut saja pasangan Kim Kardashian dan Kanye West, Jimmy Fallon dan Nancy Juvonen, Paris Hilton dan Carter Rum, serta Priyanka Chopra dan Nick Jonas.
2. Traditional surrogacy
Berikutnya adalah traditional surrogacy, ini proses kehamilan ibu pengganti yang cukup kontroversi. Mengapa demikian? Sebab ibu pengganti tidak hanya meminjamkan rahim tetapi juga sel telurnya.
Prosesnya sama-sama melalui inseminasi buatan. Sperma dari seorang laki-laki akan ditempatkan ke sel telur yang sudah berovulasi. Penempatan sperma ini menggunakan peralatan laboratorium agar peluang kehamilan lebih besar.
Ibu pengganti akan mengandung dan melahirkan sebagaimana ibu hamil pada umumnya. Bayi yang lahir akan memiliki keterkaitan genetik dengan ibu pengganti. Juga berisiko bagi ibu pengganti memiliki masalah batin dengan bayinya.
Oleh karena itu, perlu ada perjanjian antara ibu pengganti dan orang tua bayi untuk menghindari konflik di kemudian hari. Apapun yang terjadi, surrogate mother harus bersedia memberikan bayinya ke orang tua kandung atau pasangan yang menyewa rahimnya.
Bagaimana jika si anak sakit dan harus dekat dengan ibu pengganti yang punya ikatan batin ini? Cari tahu di film tentang surrogate mother agar kamu tidak terus menerus penasaran.






