Trend Self Diagnosis Pada Kesehatan Mental Remaja
(Oleh: Ainun Fitri Mughiroh, S.Sos., M.I.Kom)
(Dosen Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng)
Kesehatan mental merupakan salah satu prioritas bagi seseorang dalam mendukung jalannya rutinitas kegiatan sehari-hari. Beragam konten di media sosial yang memuat edukasi berkaitan dengan kesadaran dan pentingnya kesehatan mental dapat dikonsumsi oleh siapapun. Tak jarang beberapa kalangan muda secara tidak langsung membuat suatu self diagnosis, hanya melalui konten-konten yang beredar di media sosial.
Self diagnosis sendiri merupakan fenomena dimana seseorang berusaha mencari tahu tentang kondisi medis atau kesehatan yang mereka alami tanpa bantuan profesional dibidang medis. Hal ini seringkali dilakukan hanya dengan mengandalkan informasi yang didapat dari internet. Beberapa juga berusaha untuk mencari solusi dari masalah mental yang dihadapi namun dengan pengetahuan yang terbatas Hal ini tentunya sangat berbahaya karena didasarkan oleh presepsinya sendiri. Sehingga hasil diagnosis yang didapatkan kurang akurat.
Dari hal-hal tersebutlah gejala awal mental illness pada remaja bukan semakin membaik, justru semakin memburuk. Tidak ada yang melarang mengenai self diagnosis terhadap sesuatu, namun hal itu boleh dilakukan hanya untuk mengetahui gejala awal, bukan untuk mendiagnosis permanen diri sendiri tanpa melakukan konsultasi dengan ahli medis. Adanya problematika ini salah satunya adalah dikarenakanya usia remaja yang sedang masa pencarian jati diri serta dalam masa produktif.
Selain dari pencarian jati diri, faktor penyebab mental illness pada usia remaja juga berasal dari beberapa faktor. Kondisi tersebut merupakan hasil kombinasi faktor genetik, psikologis, dan lingkungan. Faktor genetik berperan dalam perkembangan gangguan mental pada usia remaja. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental tertentu kemungkinan memiliki risiko untuk diturunkan pada keluarga lain dengan kondisi serupa, seperti depresi, bipolar, skizorenia.
Faktor psikologis juga tak luput dari penyebab terjadinya gangguan mental dikalangan remaja, trauma akan sesuatu dimasa lalu dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan psikis baik jangka panjang maupun pendek. Lingkungan yang kurang suportif juga berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor keluarga yang kurang harmonis atau bahkan pertemanan yang toxic.
Berdasarkan hasil yang terdapat pada laman Kemdikbud.go.id menyebutkan bahwa gangguan mental kerap terjadi pada kelompok usia 18-25 tahun. Usia inilah biasanya remaja memasuki masa kuliah. Biasanya mahasiswa memang rentan terkena gangguan kesehatan mental karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru, tuntutan untuk berkembang dalam bidang akademik, karir, hingga pada masalah finansial. Mental health dan mental illness pada mahasiswa atau remaja dapat mempengaruhi aktifitas akademik yang sedang dikerjakan. Tidak jarang para mahasiswapun sering tidak hadir dalam aktifitas perkuliahan karena faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, remaja atau mahasiswa biasanya akan melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka senang atau bahagia hanya untuk sekedar beristirahat sejenak dari rutinitas akademiknya.
Hal semacam ini sah-sah saja dan tidak ada yang melarang, namun yang perlu diperhatikan adalah terkadang dengan cara-cara self diagnonsis dan mencari solusi tanpa adanya pendampingan justru akan memperburuk kesehatan. Sehingga, memungkinkan untuk bertambahnya masalah baru. Mencari kesenangan lain seperti bersosialisasi dengan teman tentu dapat meredakan tingkat gangguan mental yang sedang dialami. Gejala-gejala mental illness atau mental health juga diperlukan memperbaiki komunikasi dengan lingkungan sosial baik itu keluarga, teman untuk saling berbagi. Disamping itu, perlunya menjaga pola hidup yang seimbang dengan cara mengatur jadwal pekerjaan, keluarga, teman, dan jadwal beristirahat.





