Target 500 Ribu Pekerja Migran, BP3MI Jateng Dorong Guru SMK Siapkan SDM Berkompetensi Global
Sebanyak 52 kepala sekolah dan guru SMK dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti workshop internasional yang diselenggarakan Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Hasemen Co., Ltd., di Gedung Hartono Trade Center, Solo Baru, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi sumber daya manusia agar mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja internasional, sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia.
Kepala Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah, Dewi Ariani, mengatakan pemerintah menargetkan penempatan 500 ribu pekerja migran Indonesia hingga tahun 2029 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, setiap calon pekerja migran wajib memiliki kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikasi sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
“Salah satu syarat menjadi pekerja migran Indonesia adalah memiliki kompetensi sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017. Selain memenuhi batas usia minimal, calon pekerja juga harus memiliki keterampilan yang dibutuhkan,” ujar Dewi.
Ia menjelaskan target nasional tersebut akan dicapai secara bertahap selama empat tahun. Pada 2026, pemerintah menargetkan 40 ribu peserta peningkatan kapasitas, kemudian meningkat menjadi 140 ribu pada 2027, 180 ribu pada 2028, dan 160 ribu pada 2029, sehingga total mencapai 500 ribu orang.
Khusus untuk Jawa Tengah, BP3MI mendapat target sekitar 6.800 peserta pada tahun 2026.
Dewi menegaskan pelatihan dan penempatan merupakan dua proses yang berbeda. Sebelum dapat bekerja di luar negeri, peserta harus mengikuti pelatihan sesuai kurikulum yang telah ditetapkan dan memperoleh sertifikat kompetensi.
“Sertifikasi inilah yang nantinya menjadi bekal utama saat mendaftar sebagai Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Jadi bukan hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga harus dinyatakan kompeten,” jelasnya.
Melalui workshop internasional yang melibatkan dunia pendidikan dan industri tersebut, diharapkan lulusan SMK memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global, sehingga mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja yang lebih luas di berbagai negara.







