
Patinews.com – Jakenan, Desa Sendangsoko, Kecamatan Jakenan Pati, kebanyakan warganya memproduksi sapu keset (sapu berbahan dasar dari serabut kulit kelapa).
Walaupun pembuatan kerajinan tersebut sudah dilakoni secara turun temurun, tetapi pekerjaan tersebut hanya dilakukan hanya dengan modal seadanya.
Warga pedesaan masih enggan untuk mengembangkan usaha dengan penambahan modal yang didapat dari perbankan. Hal ini merupakan salah satu penyebab usaha yang dilakoni warga tidak mengalami peningkatan, disamping itu masyarakat juga khawatir akan tingginya bunga pinjaman.
Salah satu pengrajin sapu, warga RT01/RWII Dukuh Bungkus, Desa Sendangsoko, Rupadi mengungkapkan, walaupun demikian warga masih melakoni pembuatan sapu keset sebagai kegiatan sampingan di sela-sela kegiatannya menjadi buruh tani. Pihaknya juga mengatakan, pekerjaan sebagai buruh tani lebih menguntungkan dan tidak membutuhkan modal banyak, sedangkan untuk pengembangan usaha sapu keset dengan modal dari bank dirasa tidak efektif.
“Saya tidak siap dengan resiko yang akan datang ketika menggunakan modal dari perbankan sebab penghasilan dari sapu juga terhitung sedikit,” ujarnya.
Padahal satu pengrajin sapu keset dapat membuat 20 biji sapu per harinya, dan warga pun tidak kesulitan dalam pemasarannya karena para pengepul selalu mengambil hasil kerajinan warga. Walaupun dengan keadaan pemasaran yang demikian, warga juga masih takut untuk mengembangkan usaha dengan modal dari perbankan.
“Kami juga tidak punya agunan yang akan diajukan untuk meminjam uang, sedangkan menurut perhitungan saya bunganya masih terlalu tinggi dan saya tidak mau terlalu banyak tanggungan,” kata salah satu pengrajin Sarminah warga RT02/RWII Dukuh Bungkus Desa Sendangsoko.
Warga juga sangat berharap, adanya pinjaman yang memiliki bunga ringan dan proses pembayarannya juga lebih fleksibel dan juga sosialisasi terkait pengelolaan keuangan masyarakat. Sehingga masyarakat juga bisa memperhitungkan lagi untuk pengembangan usaha dengan modal dari perbankan. (pn/ hms).






