Categories: Opini

Njajan Onde-onde atau ke Coffenya Starbucks

Oleh : Bae Esti

Kata “njajan” terdengar sangat familiar di telinga orang Indonesia. Njajan berarti membeli makanan ringan atau makanan-makanan yang tidak termasuk dalam kategori makanan berat seperti nasi. Njajan digunakan oleh berbagai kalangan tak kenal dia orang desa atau kota, tua atau muda akan paham dengan istilah ini.


Di Indonesia, setiap daerah memiliki ciri khas makanan atau jajanan tersendiri, yang tentunnya antara daerah satu dengan yang lainnya mempunyai makanan khas yang berbeda.

Di Pati sendiri mempunyai makanan khas berupa nasi gandul, di Bekasi ada akar kelapa, di Garut ada dodol, di Kudus ada Jenang Kudus dan lain-lain. Di Jawa Tengah secara keseluruhan mempunyai berbagai jajanan, seperti: apem, clorot, putu ayu, jenang, nagasari, arem-arem, klepon, lemper, wajik dan lain sebagainya.

Di zaman yang serba canggih ini, banyak melahirkan ide-ide kreatif,  seperti halnya dalam urusan makanan. Bagi anak muda zaman sekarang, njajan tidak sesimple membeli makanan terus pulang. Mereka juga  mempertimbangkan akan tempat, rasa, dan ketersediaan Wi-Fi . Tempat nongkrong yang nyaman, instagramable, dilengkapi dengan sinyal Wi-Fi menjadi nilai plus bagi pembeli baik untuk sekedar nongkrong, ketemu dengan mitra bisnis, acara keluarga dan lain-lain.

Njajan atau membeli makanan ringan menjadi hal yang lumrah digemari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Di generasi milenial ini yang serba digital dan serba praktis, anak muda gemar njajan bukan sekedar di pasar-pasar atau kali lima melainkan di dalam mall, outlet makanan ataupun minuman, tempat-tempat yang instagramable menjadi trend di abad ke-21 ini.

Fenomena ini terjadi di semua lapisan masyarakat, tidak memandang apakah dia orang kaya ataupun kalangan bawah. Mereka datang ke mall untuk berbelanja atau sekedar untuk njajan-njajan di Starbucks, Mc. Donals Burger King, KFC, Chatime, J.C.O, Pizza Hut dan lainnya.

Jajanan tradisional mempunyai rasa yang khas, “murah meriah” dan tidak memeras kantong. Bahkan, mulai dari harga Rp 1.000, sudah mendapatkan jajanan tradisional, enak dan mengenyangkan. Sedangkan njajan di mall-mall besar, ataupun di outlet-outlet ternama cukup “merogoh kocek”.

Bagi kita, sebagai warga milenial yang mempunyai feel yang tinggi terhadap konsumerisme. Sebaiknya dapat memosisikan diri  dengan bijak dalam segala hal seperti halnya dalam memilih jajanan sesuai  kebutuhan kita.

patinews.com

redaksi@patinews.com

Share
Published by
patinews.com

Recent Posts

Mahasiswa KKNT UPGRIS Gelar Webinar Bijak Berikan Gawai pada Anak

EDUKA, PATINEWS.COM Kuliah Kerja Nyata atau yang sering disebut dengan KKN merupakan sebuah program yang…

15 September 2020

Digelar Virtual, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Pati Peroleh Materi Wasbang

PATI, PATINEWS.COM Dalam rangka memupuk kecintaan kepada Negara dan Bangsa, tidak henti-hentinya Kodim 0718/Pati memberikan…

15 September 2020

Banser Pengawal Ulama’ Kyai, Habib dan NKRI

Penulis : Imam Muhlis Ali, S.Pd I* Sudah kesekian kali beberapa penceramah agama, pesohor, pejabat…

15 September 2020

Rapat Paripurna DPRD Pati, Bahas Penyertaan Modal Perumda

Rapat Paripurna DPRD Pati, Bahas Penyertaan Modal Perumda PATI, PATINEWS.COM Guna memaksimalkan Badan Usaha Milik…

15 September 2020

Siswa MI Darun Najah Ngemplak Kidul, Raih Medali Emas Karate America Championship 2020

Siswa MI Darun Najah Ngemplak Kidul, Raih Medali Emas Karate America Championship 2020 MARGOYOSO, PATINEWS.COM…

15 September 2020

Sosialisasi Jam Malam, Ini Yang Dilakukan Muspika Tlogowungu

TLOGOWUNGU, PATINEWS.COM, Muspika Tlogowungu beserta anggota Koramil 13/Tlg,  Polsek Tlogowungu dan Satpol PP  Kecamatan Tlogowungu …

15 September 2020