Melihat Proses Produksi Garam Tradisional di Desa Tluwuk Wedarijaksa

Melihat Proses Pembuatan Garam Tradisional di Desa Tluwuk Wedarijaksa

Melihat Proses Pembuatan Garam Tradisional di Desa Tluwuk Wedarijaksa

WEDARIJAKSA, PATINEWS.COM

Minggu (15/11) Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Dari Rumah (RDR) ke 75 Uin Walisongo Semarang melihat secara langsung proses pembuatan garam tradisional di Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati. Kegiatan ini merupakan relasi program KKN yang telah di rancang sebelumnya.

Naufal Ardiatma mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pembuatan garam secara tradisional serta menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa.

“Dalam proses pembuatan garam kebanyakan para petani garam mendapatkan bahan garam dari air laut, untuk cara membuat garam dapur, mereka melakukan proses pembuatan secara individu dan kemudian mengumpulkannya dalam bentuk garam yang masih bentuk kristal tanpa yodium, selanjutnya di bawa ke pabrik garam untuk dilakukan proses pemberian yodium dan pengemasan,” jelas Naufal.

Bapak Sunardi (55) petani garam mengatakan bahwa, pengolahan air laut menjadi garam ini merupakan peluang emas bagi para nelayan. Dengan modal yang tidak begitu besar, nelayan bisa memproduksi garam secara rutin pada musim kemarau.

“Prosesnya di mulai dari meratakan tanah tambak, kemudian petani mengalirkan air laut, lalu dialirkan ke atas permukaan tanah dengan metode petakan-petakan sebagai media penguapan. Supaya tidak bercampur zat lain, air laut harus diendapkan dengan cara penguapan sinar matahari,” Jelasnya.

Lebih lanjut, bapak Sunardi (55) menuturkan, dengan bantuan sinar matahari, air laut di dalam tambak bisa berubah wujud menjadi garam hanya dalam kurun waktu 3-4 hari . Atau sekitar 1 minggu jika cuaca tidak mendukung.

Melalui program tersebut, mahasiswa berharap nasib petani garam harus diperhatikan oleh pemerintah. Sebab, garam hanya bisa diproduksi pada musim kemarau. Harga garam diharapkan lebih layak sehingga petani garam bisa menikmati hasil jerih payahnya.

(Athalla Naufal Ardiatma)

 

Exit mobile version