PUCAKWANGI, PATINEWS.COM
Tanaman obat Keluarga (TOGA) merupakan tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat serta dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan obat-obatan herbal keluarga. Kebiasaan bercocok tanam belakang menjadi tren dikalangan masyarakat ditengah pandemi covid-19. Potensi ini dimanfaatkan oleh salah satu mahasiswa kkn uin walisongo semarang, azmi sabila, dalam rangka pemberdayaan masyarakat dukuh Jatilawang rt 03, rw 02 Pucakwangi, Pati.
Pemilihan kegiatan pengembangkan tanaman obat mengingat turunnya pendapatan ekonomi warga karena terdampak Covid-19. Inisiasi penanaman TOGA sangat didikung oleh warga setempat. Menurut tokoh agama setempat bahwa kegiatan penanaman TOGA dapat bermanfaat bagi warga desa “program pengembangan tanaman obat keluarga memang harus dikembangkan, selain dari manfaat yang banyak juga bisa menambah perekonomian warga,”ungkap bapak yasmin.
Kegiatan ini didasari atas luasnya lahan masyarakat yang belum termanfaatkan secara maksimal “lahan masyarakat kan luas, misal didepan rumah atau belakang rumah, nah kita bisa memanfaatkan tanaman obat keluarga untuk kita tanam agar lahan tidak banyak yang kosong,” Ujar kembali bapak yasmin
Tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan toga beraneka macam, diantaranya jahe, kencur, kunir, lidah buaya, kemangi, yodium dll. Kita dapat memanfaatkan empon empon yang sudah kita beli kemudian kita tanam agar bisa berkembang lebih banyak lagi tanpa memakan biaya yang bayak dalam penanaman. Metode penanaman hanya membutuhkan media tanah dan pupuk kandang sehingga mudah ditanam sendiri oleh warga setempat.
Salah satu warga mengaku sangat senang dengan kegiatan ini dan merasa baru mengetahui bahwa semua bisa kita manfaatkan untuk menambah perekonomian tanpa memakan biaya banyak “senang sekali mbak, saya baru tahu ternyata sangat mudah menanam tanaman obat keluarga di pekarangan rumah ataupun dibelakang rumah, kalau tau dari dulu, ssudah banyak mungkin tanaman saya mbak”, ujar ibu lasmi
(*Salsabila)






