Leptospirosis Menghantui Kabupaten Pati! Siapa Takut?, Mari Terapkan Strategi Pemberantasannya

Oleh: Setya Widiastuti Harianto

Leptospirosis, penyakit ini tidak asing lagi bagi Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kasus leptospirosis di Kabupaten Pati mengalami lonjakan tertinggi pada tahun 2014 karena adanya banjir besar. Namun setelah banjir besar tersebut kasus leptospirosis terjadi setiap secara fluktuatif di setiap tahunnya. Hingga akhir November 2019 lalu, di Kabupaten Pati telah tercatat terjadi 4 kasus leptospirosis dimana 3 kasus dapat diobati dan 1 kasus yang lain meninggal dunia. Hal tersebut yang mengakibatkan Kabupaten Pati menduduki urutan ke delapan mengenai pemegang jumlah kasus terbanyak di Jawa Tengah.

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri dari genus Leptospira yang bersifat pathogen. Sama seperti namanya, bakteri leptospira memiliki bentuk yang spiral apabila diamati dibawah mikroskop. Bakteri ini mampu menyerang berbagai hewan hingga manusia sekalipun. Bakteri leptospira umumnya dibawa oleh tikus yang berperan sebagai vektor dan kemudian akan ditransmisikan ke manusia (host). Mekanisme transmisi dari vektor ke host biasanya melalui urin dan feses vektor. Oleh karena itu, dapat diasumsikan ketika terjadi kontak langsung antara urin atau feses tikus yang terinfeksi bakteri leptospira dengan hewan atau manusia, dapat dikatakan bahwa hewan atau manusia tersebut memiliki kemungkinan besar untuk terkena penyakit leptospirosis. Selain itu, penyebaran penyakit leptospirosis dapat melalui air yang telah terkontaminasi bakteri leptospira sehingga hal inilah yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus leptospira saat terjadi bencana banjir. Perlu diketahui bahwa penyakit leptospirosis mengancam beberapa masyarakat yang bekerja di bidang tertentu, misalnya petani, peternak, pekerja pemotongan hewan, dan para pembersih saluran pembuangan atau selokan. Gejala yang muncul ketika seseorang terinfeksi bakteri leptospira yaitu muncul rasa mual, pusing, meriang dan sakit kepala, nyeri otot, diare, kulit dan area putih mata menguning, serta konjungtivitis atau penyakit mata merah.

Guna mengurangi kasus leptospirosis, diperlukan suatu upaya yang berasal dari pemerintah untuk menggerakkan masyarakat dalam menciptakan lingkungan sekitar yang bersih dan mengingatkan masyarakat agar tidak lupa menggunakan alas kaki ketika berada di luar rumah untuk mengantisipasi terinfeksi bakteri leptospira yang berada di tanah. Sumber air yang biasa digunakan oleh masyarakat juga harus diperhatikan dan alangkah lebih baik diberikan desinfektan kimia maupun alami (misalnya menggunakan ekstrak daun sambiloto) pada tempat-tempat penampungan air sebagai tindakan pencegahan merebaknya kasus leptospirosis. Selain itu, alangkah lebih baik pemerintah juga menghimbau warga agar turut melakukan pemasangan jebakan tikus sebagai tindakan pengendalian jumlah perkembangbiakan tikus hingga membasmi vektor leptospirosis menggunakan oli yang dicampur dengan racun tikus. Digunakannya oli ini karena oli sangat mudah menempel di kulit tikus, sehingga ketika tikus menjilati tubuhnya sendiri maka racun akan ikut tertelan juga dan hal tersebut dapat memaksimalkan proses pengusiran tikus. Dengan adanya sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan strategi pengendalian tikus niscaya kasus penyakit leptospirosis di Kabupaten Pati juga akan menurun sehingga tidak akan lagi menghantui serta mengkhawatirkan kesehatan masyarakat Kabupaten Pati.

Exit mobile version