Keunikan Program Desa Bebas Api yang Digagas APRIL

Ada pernyataan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Prinsip ini rupanya dipegang oleh APRIL Group ketika menggulirkan Program Desa Bebas Api. Itulah yang akhirnya membuat kegiatan manajemen kebakaran ini unik dibanding yang lain.

Program Desa Bebas Api merupakan upaya dari APRIL untuk menghilangkan tragedi kebakaran lahan dan hutan di negeri kita. Sebelumnya, api yang menjalar merusak kawasan rimba seperti sudah menjadi rutinitas di Indonesia. Setiap tahun, tragedi tersebut berulang, terutama ketika musim kemarau tiba.

APRIL Group merasa sangat prihatin. Mereka tahu bahwa banyak sekali kerugian yang muncul akibat kebakaran lahan dan hutan. Bukan hanya mereka sebagai pelaku industri pulp dan kertas yang merasakannya, masyarakat umum hingga negara pun ikut terkena dampak negatifnya.

Sebagai gambaran kejadian kebakaran lahan dan hutan pada 2015. Saat itu terjadi kebakaran di berbagai wilayah negeri kita seperti Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Akibat kejadian tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperkirakan Indonesia menderita kerugian hingga Rp221 triliun.

“Kerugian ini setara dengan 1,5 persen Produk Domestik Bruto nasional, artinya kebakaran hutan dan lahan menghambat laju pembangunan,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada Republika.

Dampak negatif kebakaran lahan dan hutan bukan hanya secara material belaka. Kesehatan manusia turut terganggu. Kabut asap yang muncul ketika api berkobar memicu perkembangan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sejak 1 Juli 2015 hingga 23 Oktobr 2015, BNPB mencatat ada 503.874 jiwa sakit menderita sakit ISPA di Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Bukan hanya itu, ketika api telah berkobar, maka kerusakan alam tidak bisa dihindari. Ini yang juga sangat merugikan. Bayangkan saja, untuk membuat asap hilang dari kawasan yang terbakar saja tidak bisa cepat. Butuh waktu bulanan. Setidaknya butuh waktu tiga bulan agar asap yang mengganggu segera sirna.

Waktu yang lebih lama dibutuhkan untuk memulihkan kondisi lahan dan hutan yang rusak akibat kebakaran. Kurun waktunya tahunan, bahkan jika ingin normal seperti sedia kala perlu masa pemulihan sampai puluhan tahun.

Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Skala Besar Walhi Zenzi Suhadi menyatakan kepada Republika bahwa menanam pohon di lahan gambut perlu waktu sepuluh tahun. Belum lagi mengembalikan sistem hidrologi, ekosistem, dan mata rantai. Masa yang diperlukan bertambah banyak.

“Bisa memakan waktu lebih dari 50 tahun untuk menciptakan hutan gambut seperti sedia kala, dan peran dari semua pihak agar dapat gambut dapat berfungsi seperti aslinya,” ujar Zenzi.

Fakta itu akhirnya mendorong APRIL untuk melakukan gebrakan. Program Desa Bebas Api adalah wujudnya. Ini merupakan sebuah kegiatan unik yang mendobrak kebiasaan pengelolaan kebakaran. Pasalnya, Program Desa Bebas Api menekankan terhadap pencegahan.

Biasanya, beragam penanganan kebakaran lahan dan hutan hanya bersifat reaktif. Langkah-langkah yang diambil hanya merupakan respons ketika api sudah telanjur menyebar. Bentuknya beragam mulai dari pemadaman, evakuasi warga, hingga pencegahan supaya api tidak menyebar.

Langkah itu tidak salah. Ketika api sudah melahap lahan dan hutan, mau tak mau semua itu harus dilakukan supaya tidak merembet ke mana-mana dan meminimalkan korban. Namun, bukankah lebih baik mencegah kebakaran supaya tidak terjadi? Sebab, sudah dipastikan ada kerugian yang muncul sesudah api menjalar.

PARADIGMA BARU

Maka, APRIL Group menggagas Program Desa Bebas Api pada 2015. Kegiatan ini merupakan paradigma baru dalam penanganan bencana kebakaran lahan dan hutan. Pasalnya, Program Desa Bebas Api lebih menekankan dalam pencegahan supaya tidak terjadi kebakaran.

Baca juga:   Bersama LPPA Pati, Anggota DPRD Noto Subiyanto Bantu Anak Lumpuh Di Mustokoharjo

Di dalam Program Desa Bebas Api terdapat serangkaian kegiatan untuk mencegah kemunculan api di lahan dan hutan. Hal pertama adalah sosialisasi tentang bahaya dan kerugian kebakaran. Ini dilakukan oleh APRIL Indonesia dengan mendatangi masyarakat secara langsung.

Melaui unit bisnisnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), APRIL Group Mereka hadir ke desa-desa maupun sekolah-sekolah untuk membuka mata tentang bahaya api. Bersamaan dengan itu, APRIL Group juga melatih deteksi titik api serta respons cepat terhadap api yang berkobar.

“Tahun 2017 ini kami telah melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, Pada 2016, kami sudah menjalankannya di 50 sekolah. Pada 2017 ini, kami bakal melakukannya di 72 sekolah,” ujar Rudi Fajar, Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp & Paper.

Ketika datang ke masyarakat, ada banyak kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk sosialisasi, misalnya RAPP menggelar pemutaran film tentang bahaya kebakaran. Mereka juga sering memanfaatkan poster, reklame, atau papan petunjuk untuk menyadarkan warga terhadap ancaman api.

Namun, ada satu keunikan yang paling membedakan Program Desa Bebas Api dibanding upaya pengelolaan kebakaran yang lain. Dalam kegiatan ini, PT Riau Andalan Pulp & Paper benar-benar melibatkan masyarakat. Mereka diajak untuk aktif menjaga wilayahnya masing-masing dari ancaman api.

Ini dinilai penting sebab tangan-tangan manusia sering menjadi pemicu kebakaran. Misalnya, ketika membuka lahan baru dengan membakar. Langkah ini yang kerap kali memicu kebakaran besar. Oleh sebab itu, APRIL tahu persis, tanpa kontribusi dari masyarakat, upaya pencegahan kebakaran akan sia-sia.

Maka, sebagai daya tarik agar masyarakat mau aktif menjaga wilayahnya, insentif diberikan oleh APRIL Group. Setiap desa yang sanggup mengamankan wilayahnya dari bencana kebakaran dalam satu tahun akan mendapat imbalan. Dana senilai Rp50 hingga Rp100 juta diberikan sebagai penghargaan. Nantinya dana itu bebas dimanfaatkan oleh desa untuk pemberdayaan masyarakatnya atau pembuatan infrastruktur yang dibutuhkan.

Bersamaan dengan itu, Program Desa Bebas Api juga mengajari keterampilan warga dalam pemadaman api. APRIL membentuk Crew Leader di setiap desa. Merekalah yang bertugas untuk melakukan deteksi titik panas secara dini serta bereaksi melakukan pemadaman ketika api ditemukan.

Namun, ada tugas lain yang diemban oleh Crew Leader. Mereka berperan sebagai penghubung antara APRIL dengan para warga khususnya petani. Mereka bisa dihubungi ketika warga membutuhkan bantuan perusahaan dalam pembukaan lahan.

Ini merupakan trik lain dari APRIL Group agar tidak ada pembukaan lahan dengan membakar. APRIL meminjami peralatan berat untuk membuka lahan baru. Petani bisa memanfaatkannya secara gratis.

Meski begitu, APRIL Group juga mengajak warga untuk membiasakan diri dengan sistem pertanian menetap. Maka, sebagai bagian dari Program Desa Bebas Api, pendampingan pertanian yang baik juga dilakukan. Ini dilakukan untuk memastikan warga memiliki kemampuan bercocok tanam yang baik dan benar.

Mengapa ini penting? Patut disadari, tuntutan ekonomi sering menjadi pemicu pembakaran hutan. Dengan memiliki lahan pertanian yang menghasilkan berkat pendampingan dari APRIL, logikanya warga tidak akan membuka lahan anyar dengan membakar.

Semua langkah itu dilengkapi dengan pemantauan asap secara rutin. Crew Leader maupun tim dari APRIL secara kontinu memantau kondisi lahan supaya tidak ada api yang menjalar.

Terlihat jelas keunikan Program Desa Bebas Api yang digagas APRIL Group. Kegiatan ini menawarkan paradigma baru dalam penanganan kebakaran. Namun, yang tak kalah penting adalah pendekatan menyeluruh yang dilakukan APRIL dalam mengantisipasi api.

 

 

Keunikan Program Desa Bebas Api yang Digagas APRIL | review | 4.5

Leave a Reply