
Patinews.com – Kota, Bertempat di Aula kampus STAI Pati Jl. Kampus Raya No. 5 Desa Dadirejo, Margorejo, Dandim 0718/Pati (Letkol Inf Andre Amijaya Kusuma, Sos) memberikan kuliah umum dengan tema “Merajut ke Bhinekaan dalam Persatuan dan Kesatuan Bangsa untuk menghadapi ancaman Global” yang di ikuti kurang lebih 150 mahasiswa. (Sabtu, 26 Nopember 2016).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain, Dandim 0718/Pati, Kapten Inf Djumali (Danramil 12/ Margorejo), Pasi Intel Kodim 0718/Pati (Kapten Inf Yahudi), Ketua Yayasan STAI Pati ( Yusuf Fatoni,M, Ag) dan Ketua LPM (Sdr. Catur).
Dalam sambutan ketua yayasan STAIP, Yusuf Fatoni mengatakan, “Kami ucapkan trima kasih kepada pihak Kodim 0718/Pati yang bersedia memberikan wawasan kebangsaan kepada Mahasiswa dan mahasiswi STAI Pati. Diharapkan paparan bapak Dandim 0718/Pati dapat memberikan wawasan kebangsaan kepada seluruh peserta yang hadir sehingga dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Diharapkan dengan pembekalan wawasan kebangsaan, kita nantinya dapat menjadi anak-anak bangsa yang lebih peduli terhadap NKRI”.
Dandim 0718/Pati dalam kuliah umumnya menyampaikan, “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, pada akhir-akhir ini banyak perkembangan situasi baik bidang politik maupun Hankam. Dengan 4 pilar dapat memperkokoh NKRI. Pertambahan penduduk didunia semakin padat yang menyebabkan meningkatkan kemiskinan dan kelangkaan energi”.
“Pertumbuhan ekonomi sekarang sudah mencapai 5,18 % dan termasuk Negara yg mempunyai daya beli (peringkat 8 dunia). Dengan turunnya harga minyak dunia meningkatkan depresi ekonomi dan menimbulkan efek yang negatif bagi ekonomi global. Meningkatnya penduduk dunia dapat mempengaruhi faktor ekonomi dunia. Pada tahun 2017 pertumbuhan penduduk dunia mencapai 8 Milyar dalam enam tahun. Idealnya bumi mampu menampung penduduk.dunia antara 3-4 Milyar. Hampir 15 juta anak meninggal dalam setahun karena kemiskinan, kelaparan dan kesehatan yang buruk. Dari segi ekonomi tingkat optimisme negara Indonesia menempati peringkat ke dua setelah Cina”.
“Peta konflik dunia dilatar belakangi permasalahan energi. Konsumsi energi naik 41% dan energi fosil akan habis dalam tahun 2056. Indonesia masuk wilayah ekuator/agraris yang merupakan negara potensial dan memikiki potensi vegetasi cocok tanam sepanjang tahun. 9,8 Miliyar penduduk dunia tinggal didaerah Non Ekuator, 2,5 Mikyar jiwa tinggal didaerah Ekuator dan penduduk yang tinggal didaerah non Ekuator berdampak potensi wilayah konflik”.
Perang masa kini adalah perang energi yang akhir-akhir ini sudah terjadi dinegara-negara timur tengah. Banyaknya krisis-krisis pangan dibeberapa negara yang mengakibatkan konflik dan imigrasi kedaerah/pindah kewilayah lain. Pada tahun 2020 akan terjadi imigrasi di eropa karena pengaruh dari permasalahan kekurangan pangan.
Perspektif ancaman indonesia adalah pulau terluar yaitu blok Masela yang berdekat dengan Darwin Australia yang mana ditempat tersebut ada pangkalan AL Amerika. Konflik Laut Cina Selatan yang akhir-akhir ini memanas dan tidak menerima Putusan Arbitrase (Presiden Xi Jinping) pada tanggal 13 Juli 2016.
Five Power Defence Arrangement (FPDA) yang melakukan latihan gabungan dengan melibatkan peralatan tempur dalam jumlah besar dan peserta latihan dengan jumlah besar. Saat ini Indonesia di kepung oleh lima negara persemakmuran Inggris.
Perang melawan narkoba (Proxy War) harus kita lakukan karena sudah menjadi komitmen pemerintah. Pada tahun 2016 sudah 5,1 Jt/2% penduduk Indonesia menyalahgunakan Narkoba. 15.000 jiwa meninggal penyalahgunaan narkoba setiap tahun dan jumlah korban melebihi teroris.
Dengan adanya Tax Amnesty dapat mendongkrak hasil pendapatan dari pajak indonesia. Tax Amnesty mempengaruhi nilai tukar dollar USA dibeberapa negara Asia. Kita harus bisa mencegah provokasi,hasutan dan adudomba sehingga dapat tercipta situasi yang kondusif dan damai dalam wadah NKRI.
Perkembangan kelompok radikalisme/isis yang sangat pesat dan merekrut anak-anak bangsa untuk bergabung berjuang diwilayah suriah. Anggota Isis tidak hanya umat islam, isis terdiri dari berbagai agama. Yang mendanai isis Australia, Malaysia, Brunei dan Filipina. 7,7% Muslim Indonesia bersedia berpatisipasi dalam kelompok radikalisme, 0,4% pernah berpartisipasi kelompok radikalisme, 26,7% Mahasiswa Unv islam setuju jihad dengan kekerasan. Pusat isis di Asia tenggara dipulau Jolo Filipina. (Patinews.com – pendimpati)





