Pernahkah kamu merasa paling buruk di antara teman-temanmu? Sudah berapa banyak orang-orang di sekitarmu yang membuli? Apakah kamu marah dengan mereka? Atau bahkan kamu benci dengan mereka dan tidak ingin bertemu lagi? Come on, jangan bersedih kawan. Di dunia ini tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tugas kita adalah mengembangkan kelebihan dan meminimalisir kekurangan. Sekarang masalahnya tidak sedikit di antara kita yang berbangga dengan kelebihan dan menyembunyikan kekurangan, dengan sedikit atau tanpa upaya untuk meminimalisir kekurangan.
Sikap yang selalu menonjolkan kelebihan diri sendiri cenderung mencetak kita menjadi generasi yang arogan, merasa paling benar dan ahli, lebih sering menyalahkan orang lain dibandingkan dengan menasehatinya. Misalnya, seseorang yang menganggap dirinya ahli masak, dia tidak segan segan mengomentari cara orang lain masak yang menurutnya salah. Kecuali jika orang lain tersebut meminta kritik dan saran terlebih dahulu. Persoalan seperti ini yang sering terjadi di masyarakat biasanya berkaitan dengan pekerjaan, rupa fisik, kepandaian, dan lain-lain.
Sementara sikap acuh tak acuh dengan kekurangan akan memupuk kita menjadi pribadi yang enggan memaafkan saat mendengar komentar orang lain. Lantaran kita belum bisa menerima dan menyadari kekurangan diri sendiri. Memang komentar berasa obat yang amat pahit, tapi carilah titik sehatnya.
Misal, seseorang menilai wajah kita tidak lebih baik dari orang tua atau saudara kita. Ok, kita boleh marah tapi jangan lama-lama. Ingat, kita juga ciptaan Allah SWT, siapapun yang mengejek fisik kita berarti mengejek ciptaan Allah SWT. Lantas bagaimana sikap mereka saat bertemu Allah SWT? Canggung dan malu karena telah mengejek karya-Nya. Kita saja sangat tidak berani mengejek karya penulis favorit kita, apalagi ini adalah karya Tuhan semesta alam, astaghfirullah.
Setelah kita menyadari kekurangan dalam diri ini dan bersabar atas semua cela dan hinaan, alangkah sangat baik jika kita bangkit dan menggali potensi diri yang bisa kita kembangkan. Rajin berkarya dan tekuni potensi tersebut sampai kita jadi ahli. Bukan saja soal ekonomi kita yang akan bertambah, tapi lambat laun orang-orang di sekitar kita juga akan mengakui karya kita.
Now, kamu yang suka jahit, jangan ragu untuk menjahit dan terus menjahit sampai kamu jadi ahlinya. Nothing impossible, menjahit adalah jalan suksesmu. Begitu pula, kamu yang suka menulis, memasak, atau lainnya silahkan berkaryalah maka kamu akan bersinar. Sebesar apapun kekuranganmu tidak menjadi masalah bagi orang lain karena kamu memiliki keahlian di bidangmu sendiri.
Penulis : Nur Alfiyah







