Bawakan Lakon Sang Pertapa SDN Lengkong Batangan Tampil Memukau di Pentas GSMS
PATI, PATINEWS.COM
Penampilan menarik SDN Lengkong sukses menyihir penonton di GOR Pesantenan Pati, Selasa (22/10), dalam rangkaian pentas akhir Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) tahun 2024.
Dalam kesempatan tersebut, mereka membawakan cerita Sang Pertapa, yang diadaptasi dari perjalanan spiritual Raden Syahid, putra Adipati Wilatikta dari Tuban, yang prihatin dengan penderitaan rakyat di wilayahnya. Kehidupan warga Tuban yang miskin dan kelaparan, ditambah dengan beban pajak yang sangat tinggi, membuatnya merasa harus tergerak untuk membantu.
Raden Syahid memilih jalan yang berbahaya, merampok para pejabat kerajaan dan orang-orang kaya yang menindas rakyat, namun hasil rampokan tersebut ia bagikan kepada masyarakat.
Kehidupan sebagai perampok tidak berlangsung lama. Suatu hari, Raden Syahid bertemu dengan Sunan Bonang, seorang waliyullah yang bijak. Dalam pertemuan tersebut, Sunan Bonang memberikan nasihat mendalam tentang kehidupan dan keutamaan spiritual.
Raden Syahid yang merasa tersentuh dengan kebijaksanaan Sunan Bonang, memutuskan untuk meninggalkan kehidupan lamanya dan berguru kepadanya. Namun, sebelum itu, ia harus menebus dosa-dosanya melalui jalan pertapaan, sebuah tradisi yang dianggap sebagai cara mencapai pencerahan dan kesucian.
“Bukan tujuan dari perampokan itu, namun keteguhan hati Raden Syahid, yang membawanya ke tingkat kemuliaan. Kemurnian hatinya, untuk bertaubat yang sebenar-benarnya. Itulah, teladan yang patut dicontoh generasi saat ini. Jangan hanya berfokus pada ambisi, namun kembali kepada niat yang murni.”, ujar Sunarnik, Kepala SDN Lengkong.
Hal tersebut diamini oleh Miftahur Rohim, sutradara Lakon Sang Pertapa yang dimainkan oleh siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 SDN Lengkong Batangan Pati. Mereka tanpa canggung, memerankan tokoh-tokoh dalam cerita. Meskipun, awalnya merupakan hal baru bagi anak-anak. Mengingat ketidakbiasan mereka menggunakan bahasa Jawa Alus.
“Sejak awal, saya mengatakan pada anak-anak agar mengenal dahulu seni ketoprak, sebagai salah satu warisan budaya tak benda Kabupaten Pati. Kemudian, mencoba mengenal ragam bahasa yang digunakan. Agar memupuk rasa cinta terhadap seni dan budaya lokal sejak dini.”, ungkapnya.
Pentas tersebut mempunyai muatan lengkap, mulai dari iringan musik karawitan gerak tari, dan pemeran tokoh, dimainkan oleh siswa-siswi SDN Lengkong. Jadi, ini merupakan pengalaman baru bagi mereka, supaya lebih mencintai seni budaya lokal. Bukan, mendidiknya menjadi seorang seniman, lebih pada penguatan karakter kepada siswa-siswi di tengah perkembangan dan kemajuan zaman yang amat cepat.







