
PatiNews.Com – Opini, Kata stunting mungkin masih asing didengar. Namun, kata pendek pasti sudah tidak asing lagi kan? Jadi, stunting itu sering disebut dengan pendek. Sebelum membahas tentang pentingnya pengetahuan gizi dan pola asuh ibu dengan kejadian stunting, yuk kita pahami dulu apa itu stunting.
Stunting merupakan istilah untuk balita yang memiliki tinggi badan lebih pendek dari rata-rata tinggi badan normal pada balita seusianya. Menurut WHO 2005, kategori stunting berdasarkan nilai Z-Score Indeks Tinggi Badan menurut Usia (TB/U) untuk anak usia 0-5 tahun yaitu <-3 SD untuk kategori sangat pendek dan -3 SD sampai dengan <-2 SD untuk kategori pendek.
Masalah stunting masih menjadi masalah gizi yang mendapat perhatian lebih dari pemerintah untuk diatasi. Kenapa? Karena stunting pada balita merupakan salah satu ancaman besar bagi kualitas hidup manusia di masa yang akan datang. Hal ini terjadi karena pada masa balita, pertumbuhan terjadi sangat cepat, sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar untuk proses pertumbuhan dan perkembangan. Apabila terjadi kekurangan atau kesalahan dalam pemenuhan nutrisi balita, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya ketika dewasa.
Alasan lainnya yaitu karena dampak dari stunting itu sendiri. Balita stunting dapat mengalami penurunan IQ, memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga mudah terserang penyakit, memiliki masalah kesehatan fisik dan mental, serta mengalami kegagalan dalam pertumbuhannya. Meskipun demikian, pendek masih dianggap sebagai hal yang wajar oleh sebagian besar orangtua. Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013, prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebanyak 37,2% atau sekitar 8,8 juta balita dengan prevalensi balita pendek sebanyak 19,2% dan balita sangat pendek sebanyak 18,0%.
Berdasarkan UNICEF 1990 yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia, penyebab masalah stunting tidak hanya karena konsumsi makanan yang kurang dari kebutuhan atau terjadinya penyakit infeksi yang berulang atau kedua hal tersebut saling mempengaruhi, tetapi juga dipengaruhi oleh penyebab tidak langsung yaitu ketersediaan pangan rumah tangga, pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan, serta pola asuh ibu. Pola asuh ibu dalam hal ini seperti pemberian ASI/MP-ASI, penyediaan MP-ASI, pola asuh psikososial, dan sanitasi kebersihan. Apabila suatu rumah tangga memiliki pola konsumsi, pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan, serta pola asuh ibu yang baik, maka dapat membentuk balita dengan status gizi yang baik pula.
Menurut Notoatmodjo, pola asuh ibu dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu ini dapat diperoleh dari informasi baik dari pendidikan, televisi, internet, surat kabar, dll. Tingkat pengetahuan ini akan mempengaruhi ibu ketika mengasuh balita dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan gizi yang baik dapat berakibat memiliki sikap yang baik dan akan sesuai dengan perilaku yang baik juga.
Mengapa pola asuh ibu dapat mempengaruhi kejadian stunting pada balita? Hal ini terjadi karena ibu memiliki peran yang sangat penting dalam mengatur pola konsumsi makan balita yang disesuaikan dengan ketersedian pangan dalam rumah tangga. Selain itu, ibu adalah orang yang paling dekat dengan balita. Contohnya, sejak balita lahir, ibu yang memberikan ASI dan selanjutnya memberikan makanan untuk proses tumbuh kembang balita, serta merawat balita ketika sakit. Jadi, pengetahuan gizi dan pola asuh ibu disini saling berhubungan. Artinya, ketika seorang ibu memiliki pengetahuan gizi yang baik, akan diterapkan melalui cara ibu mengasuh balita dengan baik pula, sehingga akan membentuk balita dengan status gizi normal. Pengasuhan anak yang baik ini akan mengarahkan anak berkembang menjadi dewasa dengan pola hidup yang baik pula. Dengan demikian, pengetahuan gizi dan pola asuh ibu sangat penting untuk membentuk balita yang sehat dan terbebas dari stunting.
Upaya Pemerintah
Pemerintah telah banyak melakukan upaya untuk mengurangi atau bahkan mengatasi stunting. Salah satunya yaitu melakukan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang merupakan pendekatan untuk merubah perilaku hygiene dan sanitasi di masyarakat dengan metode pemicuan. Namun, dari upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah ini ternyata masih kurang untuk mengatasi masalah stunting. Sehingga, untuk mengatasi masalah stunting ini perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak, seperti pemerintah, pelayanan kesehatan, dan kesadaran sebagai orang tua.
Mengingatkan kepada ibu, untuk selalu meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan menerapkan pola asuh yang baik pada balita. Meningkatkan pengetahuan gizi dapat dilakukan dengan berbagai cara lho, bu. Misalnya dengan mengikuti kelas penyuluhan atau sosialisasi di posyandu dan mencari informasi gizi di surat kabar atau di intenet dengan memilih sumber yang valid agar penerapan pola asuh kita ke balita juga benar.
Ayo para ibu! Tingkatkan pengetahuan gizi dan rawat bayi kita dengan baik agar si kecil dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan terbebas dari stunting.
Oleh: Dia Maenasari (Mahasiswa Jurusan Ilmu Gizi, Universitas Muhammadiyah Surakarta).



