Anak Kampung yang Berkisah
Identitas Novel
Judul: Novel Tujuh Cinta Si Anak Kampung 1
Pengarang: Ermanto Tolantang
Penerbit: FBS UNP Press
Tempat Terbit: Padang
Tahun Terbit: 2014
Cetakan: Pertama
Ukuran: 14, 6 x 20,1 cm
Jumlah Halaman: 132
ISBN: 978-602-1650-13-4
Resensi
Buku Novel Tujuh Cinta Si Anak Kampung 1 karya Ermanto Tolantang atau Prof. Dr. Ermanto, S.Pd, M.Hum yang lahir pada Februari tahun 1969. Beliau adalah seorang dosen sejak tahun 1994 dan Guru Besar Linguistik sejak tahun 2010 di Universitas Negeri Padang. Beliau menjalani S1 di IKIP Padang, S2 di Universitas Gadjah Mada, hingga S3 di Universitas Sebelas Maret.
Novel ini menceritakan bagaimana kisah tentang kehidupan beliau dari kecil hingga remaja akhir setingkat SMP. Novel ini berlatarkan tempat pada sebuah kampung di Batang Kapas di Kabupaten Pesisir Selatan. Beliau menjalani kehidupan dan melewati beberapa kejadian sejarah bersama sang Ayah, Papa Kamto, Tuan Guru Masad, Beberapa tokoh yang berperan penting, hingga sahabat-sahabat masa kecil beliau.
Pada masa kecil beliau, kampung tempat Ermanto tinggal identik dengan kemiskinan. Setidaknya terdapat sebuah sungai yang dulunya menjadi urat nadi untuk membantu perekonomian dan hal-hal penting lainnya seperti untuk air minum, tempat mandi, hingga tempat buang hajat. Dua orang tokoh penting Kampung seperti Almarhum Angku Karim dan Angku Udin yang berperan penting dalam membawa barang-barang dari kampung sebagai jurumudi sampan.
Namun, bak dua mata pisau, sungai itu juga bisa membawa musibah penyakit muntaber yang selalu memakan korban jiwa. Disini, digambarkan bagaimana rasanya perasaan para penduduk kampung yang dilanda rasa frustasi dan gundah gulana akibat penyakit muntaber yang merenggut nyawa orang-orang tersayang mereka.
Sayangnya, karena buruknya ekonomi yang mereka alami, di kampung Ermanto ini tidak memiliki transportasi dan jalan yang memadai untuk membawa orang-orang yang sakit, maka peran penting kedua jurumudi tersebut adalah membawa penderita dengan sampan mereka ke Puskesmas Kecamatan. Namun, masalahnya setelah itu adalah untuk para penderita selanjutnya. Berhubung kedua jurumudi tersebut sedang tidak ada, maka penderita muntaber ini akan dibawa pergi dengan cara ditandu. Seringnya, jika rombongan penandu ini segera kembali ke kampung, maka itulah tanda bahwa penderita tersebut sudah meninggal dunia.
Penyebab bencana yang terus terjadi setiap tahun ini masih belum diketahui. Hingga, mereka mengetahui apa penyebabnya dari dokter di Puskesmas Kecamatan. Seperti yang diceritakan, dikarenakan kesulitan ekonomi, orang-orang di kampung Ermanto tidak memiliki kamar mandi dan toilet di rumah mereka sehingga mereka menggunakan sungai untuk mandi dan buang hajat. Naasnya, sungai itu juga menjadi sumber air minum mereka. sehingga dengan kemiskinan dan tanpa mengetahui apa penyebabnya selama ini, korban jiwa terus berjatuhan setiap tahunnya.
Dengan berbagai peristiwa dan hal-hal yang beragam, Ermanto menjalani masa mudanya dengan penuh keberagaman perasaan dan warna.
Meski terasa asyik untuk dibaca, terdapat sedikit istilah yang kurang familiar bagi kami pembaca yang masih muda. Sehingga, secara positif menambahkan kosakata baru ke kamus sehari-hari. Lainnya, meskipun sudah dikonfirmasi pada akhir buku bahwa akan dilanjutkan untuk buku kedua dan ketiganya, namun, dengan cerita nyata penulis pada bagian penutup yang memilukan hati, meninggalkan rasa janggal pada akhir ceritanya.
Kelebihannya, selain buku ini juga menceritakan tentang bagaimana keseharian, peristiwa, hingga berbagai kejadian masa kecil dan mudanya Beliau. para pembaca serasa kita yang diajak untuk berbicara, mengenang, dan merasakan bersama Ermanto, Bahkan, secara tidak langsung, pembaca juga dapat menangkap arus perkembangan dan perubahan zaman serta sejarah yang terjadi di sana. Rasanya seperti bertemu dengan saksi sejarah yang masih hidup karena rasanya beda sekali dengan keadaan zaman yang sekarang ini.
Setelah muncul serial novelnya Tujuh Cinta Si Anak Kampung yang pertama ini, mari kita tunggu bersama-sama untuk novel yang kedua dan ketiganya ☺.
(Resensi oleh: Eldiva Rafnan)







