Keutamaan Belajar dan Membaca Al- Quran di Bulan Suci Ramadhan
Oleh : Siti Nur Anisah
IAIN Kudus Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Menurut Manna khalil al- Qattan dalam kitab Mabahis Fii Ulumil Quran, Al- Quran adalah kalam atau firman Allah yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang pembacaannya merupakan suatu ibadah. Bagi umat muslim al- Quran merupakan kitab suci yang berfungsi sebagai pedoman hidup dan sumber hukum islam yang pertama. Al- Quran sudah mulai diajarkan kepada anak usia dini melalui lembaga pendidikan formal maupun non formal. Dalam lembaga formal Al-qur’an diajarkan melalui sekolah,madrasah,maupun perguruan tinggi. Sedangkan dalam lembaga non formal Al-qur’an di ajarkan melalui pesantren, yang mana santri mengaji dengan cara musyafahah (tatap muka langsung diahadapan guru). Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, al- Quran dapat dibaca melalui via online seakan al- Quran dalam genggaman kita.
Dibulan Ramadhan ini, kita sebagai umat islam diperintahkan untuk memperbanyak amalan yang diperintahkan oleh Allah. Hal ini dikarenakan bulan Ramadhan adalah bulan yang pernuh berkah. Salah satu dari amalan yang diperintahkan oleh Allah adalah membaca kitab suci Al- Quran. Al- Quran mempunyai banyak keutamaan salah satunya di bulan Ramadhan ini.
Apa saja sih keutamaan membaca al- Quran?
Di bulan suci Ramadhan, pahala seorang muslim yang melakukan ibadah akan berlipat ganda, termasuk tadarus al-Quran. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam hadis Rasulullah SAW, “barang siapa yang membaca satu huruf dari al- Quran maka baginya kebaikan, dan kebaikan tersebut setara dengan sepuluh kali semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu hutuf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”.
Terlebih lagi di bulan Ramadhan, bulan yang mulia, bulan lebih baik daripada seribu bulan. Bulan dimana diturukannya al- Quran pada malam lailatul qadar dari Baitul izzah ke langit dunia, yang akan memberikan syafa’atnya di hari kiamat. Sebagaimana hadis diriwayatkan oleh Shahih muslim
اِقْرَؤُوا الْقُرْآن فَاِنَّهُ ياءتي يوم القيامة شفيعالاصحابه
Artinya: “Bacalah Al- Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at kepada pembacanya.
Diriwayatkan dari Imam Bukhari, Rasulullah bersabda “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Quran adalah seperti buah Utrujjah (mirip dengan buah apel) yang baunya harum dan enak rasanya. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak suka membaca Al-Quran seperti buah kurma, tidak berbau namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang suka membaca Al- Quran seperti buah raihanah baunya harum tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak suka membaca Al- Quran seperti buah hanzhalah tidak berbau dan rasanya pahit.”
Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa : ‘’Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-qur’an).’’ Demikian terpadudalam Al-qur’an keindahan bahasa, ketelitian dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna ,kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya.
Bagi sebagian masyarakat, meluangkan waktu untuk membaca Al- Quran sangatlah sulit terlebih karena kesibukan dan aktivitas sehari hari. Meskipun sibuk kita harus meluangkan waktu membacanya. Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari membaca Al-qur’an, diantaranya Al-qur’an sebagai obat dari segala penyakit.. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al isra: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya:” Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
Di kutip dari buku karangan Prof.Dr.Muhammad Quraish Shihab yang berjudul ‘’wawasan Al-Qur’an’’ bahwa : ‘’Al-Qur’an sejak dini memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan kalbu, piker dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti robot. Pikir tanpa zikir menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri.’’
Allah mengkategorikan pembaca Al- Quran ke dalam tiga tipe sesuai dengan firman- Nya dalam QS. Al father ayat 23 yang berbunyi
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
Yang dimaksud dengan menganiaya diri sendiri adalah orang yang hanya mau membaca pada tataran lisan saja. Adapun yang dimaksud pertengahan(muqtashid) adalah orang yang selain bisa mengaji juga mengerti kandungan Al- Quran dan kemudian mengamalkannya. Ini dikarenakan ketika dia membaca ayat ayat Al- Quran dia mentadabburinya. Tipe pembaca Al- Quran terakhir yaitu lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah maksudnya selain bisa membaca dengan tartil juga meresapi kandungan surat dan mengamalkan ayat ayat dengan benar, juga mengajarkan dan membimbing orang- orang tentang apa yang didapatkannya dari Al- Quran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Shahih al Bukhori ‘’ Sebaik-baik dari kalian yaitu siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya’’.
Demikian sebagian keutamaan dari belajar dan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an dengan gaya bahasanya mampu merangsang akal dan menyentuh rasa,bahkan mampu mengubah perilaku, dan juga memberikan petunjuk yang bila dipelajari akan membantu kita untuk menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi penyelesaian berbagai problem hidup.






