
PatiNews.Com – Margoyoso,
Media massa baik elektronik maupun cetak masih menjadi rujukan penting di kalangan masyarakat lapisan manapun. Tak bisa dipungkiri media sangat berperan dalam kemajuan pemikiran positif atau negatif tergantung pemakai media itu.
Warga NU yang tetmasuk bagian penting bangsa Indonesia dan dunia menjadi sasaran media. Banyak yang tercerahkan oleh media. Tak sedikit pula yang terdampak negatif dari penyebaran media berkonten hoax, kebohongan, penipuan, dan provokasi jahat dari oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.
Warga NU jangan hanya menjadi konsumen berita dan informasi saja
Saya kira cara untuk ‘memagari’ konten, berita,info hoax sudah banyak di share. Untuk kali ini saya hanya memfokuskan bagaimana agar warga NU ( Nahdlatul Ulama’ ) tidak hanya menjadi ‘konsumen konten media, namun seyogyanya mampu memproduksi konten yang bermanfaat, maslahat,mencerahkan dan menginspirasi banyak orang. Memproduksi disini maksud sederhanya adalah membuat sendiri uraian tulisan original, tayangan video, film, slide yang positif, maslahat dan mencerahkan para generasi, membuat aplikasi kreatif maupun bentuk-bentuk teknologi kekinian. Memang tidak begitu mudah memproduksi sendiri konten,isi maupun karya secara mandiri.
Dibutuhkan lumayan banyak literasi seperti sering membaca dan senang menulis. Hal itu semata-mata demi keberlangsungan penuangan pemikiran, ide,gagasan dan kekreatifan ke khalayak umum. Juga dengan banyak literasi memungkinkan terhindar dari jeratan hukum karena si penulis maupun si pembuat karya bijak memilih perbendaharaan kata yang pas dan elegan.
Partisipasi warga NU di media penting bagi Indonesia dan dunia internasional
Warga NU baik itu para Kyai ulama’ , ilmuwan, cendekiawan elit organisasi, maupun warga biasa sebetulnya mampu berperan dan berpartisipasi pada permediaan. Karena memang dasar NU jelas dan sangat sesuai dengan prinsip dasar kemajemukan Indonesia dan dunia internasioanal. Seperti yang pernah dikatakan oleh beliau almarhum KH. Hasyim Muzadi mantan Ketua umum PBNU dalam suatu acara ( 17/05/2007) bahwa NU sekarang berada diantara dua kelompok yakni fenomena kelompok radikalisme agama yang mengedepankan jalan kekerasan dalam mengekspresikan nilai keagamaannya yakni ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan sistem lain.
Satunya lagi fenomena massifnya kelompok liberal agama yang membawa konsep desakralisasi dan relativisme kebenaran agama. Kedua kelompok ini kita ketahui sama-sama berbahaya bagi Indonesia dan dunia internasional.Maka dengan sikap tasamuh, tawasuth, i’tidal warga NU berpotensi besar berpartisipasi aktif di media. Jika tidak dilakukan maka.khawatir negara kita yang kita cintai ini akan berubah menjadi tidak aman dan bahkan chaos.
Mudah-mudahan ini tidak terjadi. Bentuk partisipasi bisa bermacam-macam seperti sering menulis hal-hal positif di media elektronik ( face book, instragam, tweeter, WA dsb ) maupun di koran, majalah, tabloid dan sebagainya. Juga warga NU bisa mengirimkan naskah berita, info, maupun drama ke pihak stasiun televisi atau radio sekalipun. Hal ini demi menjaga kebhinnekaan dan mencerahkan bangsa kita.
Kita semua ikut bertanggung jawab dengan keadaan negeri kita ini. Kita memastikan kehidupan bangsa kita tetap baik damai dan maju. Tolok ukur itu semua salah satunya kwalitas dan kwantitas media di negara kita. Jika katakanlah kondisi media banyak begatif, merajalela hoax, tayangan sinetrion, film di TV tidak mencerahkan alias membodohkan pola pikir masyarakat maka jangan harap.bamgsa kita maju. Jika banyak anak-anak muda bangsa ini masih suka memanfaatkan waktu sia-sia dan tak.bermanfaat, jika para orang dewasa mau ‘berpikir’ untuk dirinya sendiri dan tidak.bijak, maka dikhawatirkan NKRI ini.menjadi bangsa mundur. Kita tetap.optimis dan harus bergairah walaupun tak aedikit hoax media menerpa kita. Semoga.
Oleh : Imam MA
Sekretaris PAC.GP.Ansor Kec.Margoyoso Kab. Pati
Anggota Banser
Pendidik di MI Darun Najah