Unik, Warga Desa Guwo Rutin Gelar Tradisi Barikan Tiap Malam Jum’at Wage
TLOGOWUNGU, PATINEWS.COM
Kamis Sore, (29/10) bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awwal 1442) Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Dari Rumah bersama masyarakat Desa Guwo RT. 01/04 Kecamatan Tlogowungu Pati melaksanakan tradisi rutin yang dinamakan dengan barikan.
Barikan atau bari’an sendiri pada dasarnya berasal dari bahasa Arab baro’a. yubarri’u, bara’atan/bari’an yang berarti bebas (al-Marbawi, t.th:45). Maksud dari bebas disini adalah bebas dari berbagai marabahaya, wabah penyakit, malapetaka dan musibah (balak).
Secara umum, tradisi barikan ini merupakan sebuah ritual tradisi di tanah Jawa yang dilakukan oleh penduduk suatu desa sebagai upaya tolak balak (menghindarkan berbagai marabahaya), serta mendoakan semua arwah leluruh desa yang telah meninggal dunia, sebagai bentuk penghormatan.
Adapun bentuk pelaksanaan tradisi barikan di Desa Guwo (01/04) ini adalah dengan melaksanakan doa bersama di pinggir pertigaan jalan. Yang mana masyarakatnya tidak bergabung menjadi satu, namun terbagi dalam 2 kelompok, karena di wilayah tersebut terdapat 2 pertigaan jalan.
Makanan yang biasa disajikan/ disiapkan para warga untuk melaksanakan tradisi ini adalah nasi putih dengan lauk pauknya berupa kuluban (urap), sambal ikan petek, telur rebus dan peyek. Tradisi makanan khas semacam ini merupakan bentuk warisan budaya yang telah dilakukan secara turun temurun.
Tradisi ini pada mulanya hanya dilaksanakan di bulan Muharram (suro) saja, namun di masa pandemi saat ini tradisi ini rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali, tepatnya setiap Kamis sore di Malam Jum’at Wage. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar masyarakat secara ruhaniyah untuk tolak balak dari virus Covid-19 yang sedang mewabah di dunia.
“Iya, selain melestarikan budaya leluruh, tujuan pentingnya adalah sebagai ikhiar agar semua penduduk terhindar dari balak terutama virus corona, karena pelaksanannya berisi doa-doa, ” tutur salah seorang warga.
Dalam tradisi ini, setelah doa-doa selesai dilantunkan, masyarakat yang mengikuti kegiatan ini bersama-sama menyantap makanan yang telah disajikan. Hal ini merupakan bentuk kerukukan hidup yang sangat apik dan patut untuk terus dipertahankan.
(pn/ Nisa’)






