Tradisi Pagelaran Sewu Kupat “Sunan Muria”

Tradisi Pagelaran Sewu Kupat "Sunan Muria"
Tradisi Pagelaran Sewu Kupat “Sunan Muria”

Kudus, Masyarakat Kudus memiliki banyak tradisi kebudayaan, khususnya bagian utara tepatnya di Colo Muria yang masih melanjutkan tradisi penghormatan untuk Sunan Muria yaitu menggelar parade “Sewu Kupat”. Dalam bahasa Indonesia berarti Parade Seribu Ketupat.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk menghormati tokoh agama Islam yang tergabung pada Walisongo terutama Sunan Muria. Dan merupakan sebagai wujud kearifan lokal warga Muria. Perayaan “Sewu Kupat” yang selalu dirayakan setiap tahun sekali biasanya pada saat sepekan usai hari raya Idul Fitri atau 7 Syawal.

Gunungan

Gunungan yang berisi ketupat yang berjumlah belasan diarak oleh warga mulai dari Makam Sunan Muria dan berakhir di Taman Ria Colo, Kudus. Belasan gunungan didapatkan dari perwakilan desa. jadi setiap desa di kecamatan Dawe mengirimkan satu buah gunungan.

Baca juga:   Ngeri, Pati Masuk Zona Merah Kasus HIV-AIDS

Ribuan warga berkerumun untuk menanti arak-arakan Sewu Kupat sejak pagi. Hanya sekedar menyaksikan dan juga ada yang berebut isi gunungan. Mereka menyakini jika mendapatkan isi dari gunungan akan mendapatkan keberkahan.

Khoirul Anam (Warga) menyampaikan, tradisi Sewu Kupat ini merupakan agenda tahunan, dan warga sangat antusias menyambutnya. Kemeriahan Sewu Kupat ini juga langsung dihadiri oleh Bupati Kudus H. Tamzil dan Istri.

Sebelum puncak arak-arakan Sewu Kupat, prosesi tradisi Sewu Kupat diawali dengan manaqib pada sore harinya dan berziarah ke Makam Sunan Muria untuk didoakan agar mendapat barokah.

Penulis: Vianda Unsa Dewi

Tradisi Pagelaran Sewu Kupat “Sunan Muria” | patinews.com | 4.5

Leave a Reply