Feature tokoh inspiratif oleh Hamidah Nur asih
Kesadaran bahwa pendidikan begitu penting bagi anak-anaknya dan kewajiban menuntut ilmu menjadi penyemangat bagi pasangan suami istri Yasmin & Puji Ningsih untuk memperjuangkan keinginan anak-anaknya. Tak mengenal ruang dan waktu apapun pekerjaan yang mereka lakoni dan tak peduli berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk membiayai sekolah anak-anaknya.
Yasmin lahir dari keluarga yang bisa dibilang ekonomi rendah, dari kecil beliau sudah dilatih mandiri dan dari kecil pun beliau bisa dibilang anak yang cerdas, karna selalu mendapat peringkat 1. Namun hanya karna ekonomilah yang menyebabkan beliau harus putus sekolah. Begitu pun bu Puji dari kecil hidup dalam keluarga yang bisa di bilang serba kekurangan. Hanya karna factor ekonomilah yang menyebabkan beliau harus putus sekolah dan tentunya hal itulah yang melatarbelakangi mengapa mereka berdua sangat kokoh dan gigih ingin membiayai anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Agar kelak anaknya dapat menjunjung tinggi harkat serta martabat keluarganya. Dan tentunya pasangan suami istri ini tidak ingin anaknya bernasib sama dengan apa yang mereka alami, yaitu putus sekolah karna factor ekonomi.
Pasangan suami istri ini dikaruniai 2 orang anak, sejak tahun 2018 anak sulung pasangan suami istri ini memasuki bangku perkuliahan dan anak bungsunya memasuki bangku Tsanawi dan tinggal di pondok pesantren. Bermodalkan dagangan pop ice dan aneka sosis goreng mereka berdua berdagang dan bergadang sehari semalam untuk memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya.
Yasmin dan puji adalah pedagang pop ice, bertempat tinggal di desa Tamansari Kecamatan Jaken Kabupaten Pati. Umur mereka tak lagi muda, Yasmin berumur 45 dan Puji berumur 40 tahun. Namun di umur itu mereka tetap membanting tulang untuk biaya pendidikan kedua anaknya. Yasmin sendiri terkadang pergi merantau keluar kota ketika dagangan dirasa sepi atau tidak ada jadwal pentas ketoprak, orkes, dan sholawatan kosong. Mengapa berpengaruh ? karna mata pencarian mereka adalah berdagang di waktu ada acara-acara tersebut. Kadang nyeri akibat kelelahan mengusik, namun mereka menepis hal tersebut. Karna ada yang lebih penting dari itu yaitu masa depan anak-anaknya.
Takkala matahari siang menyengat kulit hingga keringat bercucuran tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap berdagang. Serta ketika malam tiba dan dingin menyelimuti kulit mereka yang tak lagi kencang itu sudah biasa mereka rasakan. Hingga tak lagi dihiraukan. Parahnya lagi ketika tiba-tiba badai serta hujan lebat disertai angin dapat memporak-porandakan dagangan mereka dan tentu saja membuat baju mereka basah. Sungguh pengorbanan yang begitu besar untuk membuktikan betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka tak ingin anak-anaknya salah jalan. Makanya mereka rela bergelut dengan panas, hujan, badai demi membiayai pendidikan anak-anaknya.
Arti pentingnya pendidikan…
Walaupun hanya seorang pedagang kecil-kecilan namun mereka begitu paham bahwa pekembangan dunia tidak dapat dipungkiri akan bertambah maju. Jika anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan, maka akan jauh tertinggal dibelakang. Lalu dapat dibandingkan dengan kelakuan anak-anak remaja saat ini yang jauh dari norma aturan di masyarakat. Mereka berdua hanya takut jika anak – anaknya terjerumus ke jalan yang slah. Maka dari itu mereka berdua memasukan anak bungsunya ke pondok pesantren. Walaupun harus rela berada jauh dari ke dua anaknya, yang terkadang rindu ingin bertemu selalu hadir memenuhi hari-hari mereka. Mereka selalu berdo’a untuk kesehatan serta keslamatan untuk kedua anaknya.
“Mau gimana lagi mbak, wong sudah kewajiban saya dan istri sebagai orang tua menyekolahkan anak-anaknya, Alhamdulillahnya masih diberi kesehatan sama Allah agar dapat mencari rizki untuk biaya pendidikan anak-anak. Yang penting anak-anak punya masa depan yang cerah. Walau kadang ya rindu mbak, kangen pengen ketemu tapi ya cuma bisa telvon. Kadang 2 minggu sekali pergi menjenguk ke pondok,” ucap bapak Yasmin.
Bapak Yasmin tidak ingin anak-anaknya mempunyai nasib yang sama seperti dirinya dan istrinya yang harus putus sekolah karna keadaan ekonomi pada masa dulu. Mereka berdua hanya ingin anak-anaknya dapat sekolah setinggi mungkin dan dapat meraih cita-citanya. Meskipun keringat serta lelah kadang menghampiri, serta rasa sakit pada tulang-tulang persendian kadang kala menjadi penghalang.
Mereka berdua sedikit bercerita tentang keadaan desanya yang dimana mayoritas anak-anak pada enggan melanjutkan pendidikan. Ada yang masalah ekonomi lah, ada yang sudah enggan untuk mikir lah.
“Padahal kalo soal biaya sekolah atau biaya pendidikan jika ada niat serta ikhtiar pasti ada jalan”, ucap bapak Yasmin. “Tapi kalo soal anak-anak yang lebih memilih putus sekolah karna alasan sudah malas mikir itu beda lagi, itu karna mereka sudah terkontiminasi sama lingkungan yang salah. Mereka memilih kerja mencari uang dan setelah mendapat uang bukanya dipakai untuk hal yang positif tapi malah dipakai untuk hal negatf”. tambahnya.
Kerasnya kehidupan…..
Yasmin bersyukur anak-anaknya mengerti akan pentingnya pendidikan di era globalisasi ini, bukan hanya pendidikan umum saja, namun juga pendidikan yang dilandasi pengetahuan agama. Bapak Yasmin selalu menanamkan betapa pentingnya pengetahuan tentang agama. Maka dari itu bapak Yasmin menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren setelah ke 2 anaknya lulus bangku sekolah dasar. Bapak Yasmin tak memperdulikan apa kata tetangga tentang usahanya yang danggap banyak pengeluaran di banding pemasukan. Beliau ingin membuktikan bahwa dimana ada niat pasti ada jalan. Beliau terkadang juga dimintai tolong untuk membantu tetangga yang punya sawah untuk memanen padi. Upahnya tak seberapa, namun terik matahari yang menyengat kulit lah yang teramat menyiksa hingga menyebabkan keringat membasahi sekujur tubuhnya upahnya hanya kurang lebih 1 hari mendapat 80.000 rupiah.
Tak peduli bagaimana keadaan rumah yang mereka tempati banyak papan yang bolong serta atap rumah banyak yang bocor. Yang ada dibenak mereka berdua hanyalah pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Menurut bapak Yasmin menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya itu penting karna baginya orang yang berilmu mempunyai derajat tersendiri. Tak mau kalah dengan anak-anaknya untuk membuktikan bahwa pendidikan sangat penting dan berguna bagi masyarakat itupun penting. Bapak Yasmin mengikuti sekolah kejar paket dan aktif di lembaga pemerintah desa sebagai tim perlengkapan atau bisa dibilang tim sukses semua acara. Jadi dalam desa ada acara apa saja bapak Yasmin selalu dimintai tolong menjadi panitia perlengkapan. Karna percuma jika punya pendidikan tinggi namun tidak ada gunanya di desa. Atau tidak bermanfaat di desanya. Beliau sering mensehati anak-anaknya bahwa menuntut ilmu itu penting, hal itu diperkuat dengan hadist “ menuntut ilmu itu wajib dari mulai lahir hingga liang lahat (akhir hayat)”.
Dagangan mereka hanya berupa pop ice yang satu cup dipatok harga 5000, dan aneka sosis goreng yang harganya ada yang per item 500 – 1000 rupiah. Jikalau dihitung-hitung terkadang mustahil dengan dagangan segitu dapat membiayai pendidikan perkuliahan yang 1 semesternya kurang lebih 2 jutaan. Serta belum lagi kebutuhan sehari-hari. Bayar listrik rumah dan biaya pondok anak bungsunya. Maka dari itu jika dagangan sepi, bapak Yasmin pergi merantau keluar kota paling lama 2 bulan. Di perantauan juga bapak Yasmin dimintai memijit teman- temanya, upahnya tak seberapa kemungkinan hanya untuk pemasukan membeli pulsa agar dapat memberi kabar yang dirumah. Tak kala sedang merantau ibu puji sedirian lah yang harus jualan.
“kalo jualanya berdua kayak gini mah capeknya kebagi 2 mbak, namun pas bapaknya merantau trus ada acara hajatan kan saya harus jualan sendiri itu yang capeknya berkali-kali lipat,” ujar bu puji menambahi.
“tap kadang kalo libur, anak-anak juga pada pulang kampung, pada bantuin jualan sampe malem. Mentok jam 12 kalo suami merantau. Tapi kalo suami di rumah ya sampe jam 3 pagi pernah”, Tambahnya.
Mengakhiri ceritanya, sebagai orang tua mereka berharap dimanapun putri-putrinya berada, kelak anak-anaknya dapat mengamalkan ilmu yang diperolehnya saat ini dan semoga masa depan anak-anaknya kelak dapat menjadi sukses. Semoga anak-anaknya dapat membanggakan dan berguna bagi nusa bangsa serta masyarakat. Karna mereka berdua percaya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.
Pesan yang terkandung dari sosok suami istri ini adalah bagaimana pentingnya pendidikan di era globalisasi serta pentingnya menjadi sosok yang bermanfaat di lingkungan masyarakat. Dan ada yang harus dikorbankan demi masa depan yang cerah. Demi 2 buah hatinya mereka rela berkorban waktu dan tenaga agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak.







