Penulis: Muhammad Waliyudin
Era pandemi COVID-19 ini pola pikir, sikap, serta perilaku manusia secara otomatis berubah. Maka dari itu perlunya strategi yang signifikan dalam menjaga ketahanan nasional bangsa Indonesia saat ini. Hal ini didasari dengan alasan bahwa negara yang kuat adalah representasi negara yang memiliki ketahanan nasional yang kuat pula.
Melihat situasi bangsa seperti ini, ketahanan nasional kita tengah diuji tidak hanya di Indonesia bahkan seluruh dunia mengalaminya. Masa pandemi yang terjadi saat ini dipandang sebagai sebuah ancaman, tantangan, serta gangguan dalam mewujudkan tujuan nasional. Bisa kita lihat secara seksama, bagaimana kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita menurun dengan diberlakukannya sekolah daring untuk generasi muda kita. Hal yang sungguh miris bagi keberlangsungan peningkatan SDM.
Disadari atau tidak, pandemi COVID-19 telah berdampak disegala aspek kehidupan masyarakat global termasuk Indonesia, secara tidak langsung kita dipaksa untuk merubah segala tatanan kehidupan menuju perubahan baru new normal. Era pandemi COVID-19 juga terkumulasi dalam era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 abad 21 ini yang lebih banyak menerapkan teknologi informasi digital.
Strategi Kritis, Terampil dan Berkebangsaan
Mungkin ada beberapa strategi yang mungkin dapat dijadikan sebuah referensi lanjutkan bagi pembaca sekalian dalam strategi peningkatan SDM ditengah pandemi seperti ini, dengan cara peningkatan pola pikir kritis, keterampilan berpikir yang berlandaskan wawasan kebangsaan. Terutama dalam hal ini adalah generasi penerus bangsa ini (peserta didik), pola pikir kritis sangat penting dan bermanfaat khususnya bagi mereka.
Salah satunya ialah membantu memperoleh pengetahuan, mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas, mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi efektif, membuat kesimpulan dan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat, terbiasa berpikiran terbuka. (Bhisma Murti, 2011: 16).
Selanjutnya adalah keterampilan berpikir dalam setiap momentum yang dihadapi setiap insan manusia pasti dibenak nurani nya akan terpengaruh oleh kebiasaannya dalam berperilaku. Maka dari itu ketika pertama kali pola pikir kritis ini diterapkan dalam sistem pendidikan kita meskipun dalam keadaan online. Dirasa bisa juga untuk mengasah dengan kebijakan yang baik. Dalam hal ini pola pikir kritis sebagai jembatan awal untuk membentuk keterampilan berpikir.
Terakhir adalah meelaborasikan kedua strategi tersebut dengan landasan wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan yang telah diajarkan oleh para pendiri bangsa merujuk pada 4 konsensus bangsa yakni Pancasila, UUD NRI 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Berdasarkan 4 konsensus tersebut dihasilkan 14 nilai-nilai kebangsaan yang perlu diketahui, dipahami dan diimplementasikan oleh seluruh SDM masyarakat Indonesia.
Elaborasi ini nantinya akan terbentuk sistem strategi yang biasa disebut APOR ( Active Positive Outside Respon).
SDM kritis nantinya bisa mencetak seorang konseptor yang mampu membuahkan pikiran-pikiran dengan tujuan memecahkan masalah oleh diri sendiri ataupun masyarakat disekitarnya. Konsep berpikir sebelum bekerja menjadi kunci keberhasilan program kerja.
SDM kreatif berkaitan dengan keaktivas kerja seseorang dalam berbagai bidang profesi apapun dengan kualifikasi yang ditekuninya. Pada era pandemi seperti ini, kita tidak hanya dituntut untuk kritis, namun juga dituntut untuk kreatif dalam memecahkan sebuah persoalan.
Ketiga strategi ini nantinya dimungkinkan dapat menjaga ketahanan nasional yang tangguh. Guna mewujudkan empat tujuan nasional ketahanan bangsa kita yaitu kemakmuran secara adil dan merata, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta melindungi seluruh tumpah darah bangsa ini dalam mewujudkan perdamaian dunia.