• Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita
  • Login
Patinews Berita Pati Hari Ini
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
No Result
View All Result
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Home Featured

Serba – serbi Kabupaten Pati

patinews.com by patinews.com
15 Juni 2021
in Featured
Reading Time: 9 mins read
A A
0
Tugu Bandeng di Ujung Barat JLS Pati, Bikin Penasaran Warganet

Tugu Bandeng di Ujung Barat JLS Pati, Bikin Penasaran Warganet

587
VIEWS
Share on WAShare on FBShare on Twitter

Serba – serbi Kabupaten Pati

Penulis : Imam Muhlis Ali, S.Pd.I*

RelatedPosts

Tidak Hanya Mengobati, Ini Berbagai Peran Dokter Hewan Bagi Hewan Peliharaan Anda

Mbah Buyut Mas Waturoyo Margoyoso, Salah Satu Pengawal Pangeran Diponegoro

Berlinang Air Mata, Melihat Kisah Pilu Janda Sebatang Kara Melawan Kanker Payudara Akut

Pada tahun 2018 saat saya sedang berada di Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, saya ditanya oleh beberapa penduduk disana. “Bapak ini dari mana asalnya?”. Saya menjawab, dari Kabupaten Pati. “Dimana Pati itu?” Tanya salah satu warga. Saya menjelaskan bahwa Pati terletak di sebelah timur Semarang. “Oh…apa dekat Kudus?”. Saya menjawab betul timur Kudus. Kemudian saya balik menanyai mereka.”Bagaimana menurut pendapat Bapak tentang Pati?”. Mereka kompak menjawab tidak tahu. Waduh…gerutu saya. Kenapa mereka tidak tahu Pati.

Pati berjarak kurang lebih 98 km timur Semarang

Pembaca yang budiman, Pati adalah salah satu pemerintah daerah di timur laut Semarang berjarak kurang lebih 98 Km. Dari Semarang anda melewati Kabupaten Demak, Kudus dan tiba di Kabupaten Pati.

Pati berjuluk Bumi Mina Tani

Kalau Semarang berjuluk Kota Atlas, Demak sebagai Kota Wali dan Kudus Semarak, maka Pati mempunyai julukan adan slogan Pati Bumi Mina Tani. Slogan ini dibuat berdasarkan karakteristik geomorfologi Kabupaten Pati yang memang memiliki dataran tinggi dan rendah, fungsi lahan Pertanian dan Perikanan yang ingin memajukan-mensejahterakan daerah lewat hasil bumi pertanian-perikanan. Bumi Mina Tani sendiri mempunyai kepanjangan. Bumi = Berdaya Upaya Menuju Identitas Pati. Mina = Makmur Ideal Normatif Adil. Tani = Tertib Aman Nyaman Indah.

Asal usul nama “Pati”

Kata “Pati” tidak terlepas dari sejarah tutur turun temurun tentang Raden Kembang Joyo dan Raden Sopoyono beserta prajurit Carangsoko yang membuka Hutan Kemiri untuk menjadi perkampungan. Saat mereka sedang membuka hutan, datanglah seorang laki-laki Ki Sagolo memikul gentong yang berisi air. Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman manis dan segar yang dijual Ki Sagolo, maka ia bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya. Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini adalah Dawet terbuat dari Pati (tepung) Aren yang diberi Santan (santen = Jawa) kelapa, gula aren/kelapa. Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terinspirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini untuk pemukiman selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan.

Karesidenan Pati

Beralih ke Jaman Hindia Belanda. Keresidenan Pati baru dibentuk pada tahun 1835-an. Sejak masa VOC hingga 1900, Pati merupakan bagian dari Keresidenan Jepara. Keresidenan Jepara meliputi Kabupaten Jepara, Pati, Kudus, dan Juana. Pada tahun 1810, ibu kota dan kantor Keresidenan Jepara yang semula di Jepara, dipindah ke Pati. Perpindahan ini disebabkan Jepara mengalami penurunan kemakmuran. Sejak tahun 1810, wilayah Jepara tidak seramai tahun sebelumnya karena wilayah ini terletak di ujung yang jauh dan menjorok serta pelabuhannya mengalami kemuduran. Pati menjadi ramai karena dilewati pembangunan jalan raya Daendels yang menghubungkan kota-kota di wilayah pantai utara Jawa. Dalam struktur birokrasi kolonial, residen merupakan perpanjangan tangan pemerintah kolonial. Residen membawahi sejumlah asisten residen dan beberapa bupati. Tugas residen berkaitan dengan masyarakat sipil, militer, pengadilan, pajak, dan keuangan. Tugas residen juga berkaitan dengan fungsi sosial, politik, bertanggung jawab penuh atas wilayah dan penduduknya, serta mewujudkan ketertiban dan keamanan Adanya rumah dinas residen merupakan bentuk hadirnya birokrasi binnenlandsch bestuur (birokrasi kolonial), residen, yang strukturnya berada di bawah gubernur jenderal dan di atas asisten residen.

Jajanan khas Pati

Nasi Gandul, Bandeng Presto Juwana, Gethuk Lopis Runting, Petis Kambing Runting Mangut Kepala Manyung Raci Batangan, Sego Tewel daun jati Tambakromo, Jeruk Pamelo Gembong, Roti moho (Kue mohong), Jenang Landoh (Jatimulyo), Tape Sukolilo, Tape Gembong, Soto Ayam Kemiri, Kacang Pati, Kerupuk Ampo, Kerupuk Daging.
Adapun minuman khas kabupaten Pati, yaitu:
Dawet Pesantenan, Wedang Coro, Wedang Cemoe, Kopi Jrahi, Kopi Jolong

Kerajinan Khas Pati

Batik Bakaran Juwana, Kerajinan Kuningan Juwana, Tepung Tapioka Ngemplak Kidul dan kerajinan khas lain di Pati.

Tempat wisata populer di Kabupaten Pati

Waduk Gunung Rowo Sitiluhur Gembong, Agro Wisata Jolong Sitiluhur Gembomg, Bukit Naga Jolong, Pantai Idola Banyutowo, Juwana Water Fantasy, Bukit Pandang Kayen, Air terjun lorodan semar Kayen, Goa Pancur Kecamatan Kayen, Hutan Pinus Pangonan Kecamatan Tlogowungu, Goa Wareh Kecamatan Sukolilo, Pulau Seprapat Juwana, Desa Wisata Jrahi, Gunungwungkal, Alun – alun Kota Pati, Wisata alam Klating, Pucakwangi, Sendang Sani Pati, dan banyak wisata menarik lainnya di wilayah Pati.

Makam – makam orang sholeh dan waliyullah di wilayah Pati :

Makam waliyullah Ahmad Mutamakin di Kajen, Waliyullah Mbah Ronggokusumo di Ngemplak Kidul, Makam Mbah Hendrokusumo putra Mbah Ahmad Mutamakin dekat Gambiran, Syekh jangkung (mbah Saridin) di Kecamatan Kayen, Sunan Ngerang (Syekh Muhammad Nurul Yaqin) guru Sunan Muria di Desa Pekuwon, Ki Ageng Ngerang 1 Trimulyo Juwana, Nyai Ageng Ngerang Kecamatan Tambakromo, Sunan Prawoto
Kecamatan Sukolilo, Sunan Sayyid Abdurrohman Al-Makdum di Pati Kota dan masih banyak makam lainnya.

Logat khas orang Pati

Diambil dari hanyaopinisaya.blogspot.com, berikut logat khas orang Pati :

“He’e a” ini seruan khas orang Pati. Umunya orang Jawa menyebutkan
“Iya to”.

abung : dari kata abang (merah), merah sekali

akih : okeh : banyak

Amoh : Barang lama yang sudah tidak layak pakai, usang

Ancen, Pancen, Panci : memang

Andri : Antri, Mengantri

angas, wani; berani hanya jika tidak ada orangnya, atau berani di bibir saja.
Contoh penggunaan: Ditantang Si Bodong ra wani.
Nanging nek ra ana wonge ngaku wani. Dasar wani-wani angas.
(Ditantang Si Bodong kok tidak berani. Tapi kalau tidak ada
orangnya mengaku berani

angger: hanya
misal : ngomonge angger njeplak wae,… (ngomongnya hanya asal saja)

angkruk : tempat duduk dr bambu ato kayu yg lebar buat duduk ramai2, tempat nongkrong,
biasanya dpersimpanga2 jalan.

Antemi : Pukulin, Pukul

Anyep : Tidak ada Rasa, Tawar

ape (kata keterangan); akan, hendak, mau, ingin. Orang
Jawa lainnya sering menggunakan ‘arep’.

atis (kata sifat); dingin. Banyak daerah Jawa menyebutnya adem,
sedangkan atis untuk menyebut sangat dingin. Bagi orang Pati,
adem berada di antara anget dan atis. Jadi adem berarti tidak panas juga tidak dingin.

Babon : Cewek (kasar)

Badeq : bau

Bakit : sudah lihai

Bajangan (kata benda) : mangga muda

Belik : Sumber air

Bejaji: layak

Bejijat; banyak polah kurang hati-hati.
Contoh penggunaan: Dadi wong ra sah bejijat.
(Jadi orang tidak usah banyak polah)

Benthet : Rusak , Retak

Bentir : Terang

Besik: membershkn rumput dladang dg cangkul

Bileng : pusing

Blek : berbentuk kotak dari seng, biasa untuk tempat kerupuk (kerupuk blek)

Bloko : hanya, (itu saja)

Blurut (kata kerja) : bolos

brawokan (kata sifat); suka teriak-teriak.

Briga – brigi : takut-takut

Bòjó: nasi,mkanan yg dksh wkt kita hbs nyumbang/buwoh(biasane ibu2)

Bolah : Benang

Bomah :(mlebu omah) masuk rumah

Buntel : bungkus

busek (kata benda): penghapus

Buwoh: nyumbang (biasa pernikahan)

Ces : Lumayan / bagus

Cilang-cileng (kata kerja); clingak-clinguk.

Cilikan (kata benda); anak kecil.

Cis : bercinta

Crangaban (kata sifat); hampir sama dengan gragas,
setiap makanan ditelan.

Clutak (kata sifat); nakal. Banyak daerah Jawa
juga menggunakanya.

Cokat-ceket : cepat-cepat

Congklang (kata sifat); celana yang panjangnya di atas
mata kaki, pertanda sudah kekecilan atau tidak muat.
Banyak daerah menyebutnya cingkrang.

Dakik (kata sifat: pintar, pandai

Dapur : Muka, Wajah (kasar)

Dianto’i; hmmm, kira-kira sama dengan jancuk Jawa Timuran.

Dluwang : uang kertas

Dudoh (kata benda) : kuah sayur

Elek bukek (kata sifat); jelek sekali.

Elem : manja
– di_elem : di_manja

Elok (kata sifat) ; pantas, pas,

Engkek : Ngapel

Eram (kata sifat) : Tidak percaya / heran

Gage : Cepat

Garangan: sayur yang sudah dipanasi lagi

Gedem (kata sifat) : gede banget / besar sekali

Genter (kata benda) : galah

Gidal : kotoran di gigi

Gloggengi : menyalakan motor dengan kaki

Go; sejajar dengan dong. Biasanya digunakan dalam kalimat
seru. Di Solo-Yogya ada istilah no.
Contoh penggunaan: Wong kok kesuwen. Gage, go!
(Orang kok lambat. Lekas dong!);
Mbok sabar, ngko sik, go! (Mbok sabar, nanti dulu dong!)
Nah, gage ini juga khas Pati. Biasanya orang menyebutnya lekas, cepet.

Gombal mukio: gak kepakai

Gonggos; rakus. Kebanyakan orang Jawa menyebutnya gragas.

Grago : perawakan seorang yg tinggi besar tapi tidak seimbang dengan badannya,
jadi kalo pake baju lucu.
contoh: Wong kok grago ngono.

Harene : katanya

Hera : Iya kan

Hola-holo (kata sifat) : Bodoh

Ita-itu : ehmm,.. (mencla mencle), sepadan dengan peribahasa lidah tak bertulang.

Iteng : Hitam sekali

Jagrak: standard motor

Jangkar; memanggil orang yang lebih tua, langsung pada namanya.
Tindakan ini menimbulkan kesan kasar dan tak sopan. Hal ini supaya membiasakan orang yang lebih muda untuk
menghormati orang yang lebih tua dengan memanggil Mas, Mbak,Ibu, Bapak, atau Mbah, dll. Orang Jawa lainnya menyebutnya jantur.
Contoh penggunaan: Simak dialog antara kakek dan cucu
berikut ini.
Kakek : Le, tukokno rokok, Le. (Nak, belikan rokok, Nak)
Cucu : Iyo Jan, Paijan. (Iya Jan, Paijan)
Kakek : Eee… karo mbahe kok jangkar. (Eh, sama kakeknya kok
jangkar)

Jantok; meminta tanpa malu-malu, dengan terang-terangan.
Contoh penggunaan: Simak dialog singkat dua anak kecil ini.
A: Eh, aku jaluk jajanmu, a! (He, aku minta jajanmu dong)
B: Bocah kok isane jantok. Tuku dhewe, a! (Anak kok bisanya jantok.
Beli sendiri dong)

Jegong : Tempat sampah (tanah yang di lubangi)

Jeguran: mandi di kali

Jeplak: asal,ngawur
contoh: ngomonge angger njeplak wae
(ngomongnya hanya asal saja)

Jotong ndelik (kata benda); permainan anak-anak tradisional
petak umpet. ada beberapa istilah dalam gim yang sudah jarang
dilakukan oleh anak-anak ini
– cikup; orang yang bergiliran mencari teman-teman yang
bersembunyi menutup wajahnya, tidak melihat, menunggu yang
lainnya tuntas mencari tempat persembunyian yang pas.
– jetul; orang yang bersembunyi berhasil menempati pos
cikup tadi, sebelum orang yang cikup menyebut namanya.
Barang siapa yang bersembunyi berhasil teridentifikasi dan
dijetuli oleh si cikup, akan kena giliran cikup dan mencari
kawan-kawannya pada putaran selanjutnya.

Jumbleng : kakus, WC (biasanya tanah yang di lubangi untuk buang kotoran)

Kacu : Sapu tangan

Kakekane; hmmm, sejenis umpatan juga. Daerah lainnya,
terutama Jawa Timur maupun Pantura juga menggunakannya.

Kantrog : Bergoncang, bergoyang

Karipan (kata kerja); bangun kesiangan.
Umumnya orang Jawa menyebutnya kawanen.

Kawis (kata benda); sejenis buah langka yang bisa
digunakan untuk membuat setrup.
Biasa juga disebut kawista.

Kemampo : setegah matang

Kemaki/keta kete/kementhus (kata sifat) : sombong

Kemenyék (kat sifat) : kemayu

Kemplinthi: bergaya

Kemprengseng : air hampir mendidih

Kempriyek: gatal yg tak tertahankan

Kenthel : Pukul

Keplek : main kartu

Keri : ketinggalan, tertinggal

Ketlorop: beli barang yang terlalu tinggi harganya

Klitik : uang receh

Klongor : benar-benar haus

Klowor; diartikan konyol, tapi kurang tepat juga.
Kocak karena agak bodoh dan konyol.

Kodhak : Bisa melakukan

Kombong (kata benda): kandang

Korea : preman

Kopok : Kotoran telinga (congek)

Kucingen (kata sifat, kata kerja);
pantat sakit karena jatuh terjengkang.

Kulah : Kamar mandi

Kulup: sayup urap

Lah opo (kata kerja); ngapain. Biasanya untuk kalimat tanya.
Orang Jawa lainnya menggunakan ‘ngapa’.

Lampit: tirai dari bambu

Lebi : tutup

Legem : manis sekali

Leno: anak kelabang yang belum keliatan kakinya (kalo dibunuh keluar warna biru)

lewa-lewo (kata sifat); tidak mau makan,
padahal sudah disodori. Umumnya dilakukan oleh anak kecil yang kurang
sreg dengan menu yang tersedia.

Leh; sejajar dengan sih. Biasanya digunakan
dalam kalimat tanya.
Contoh penggunaan: Piye, leh? (Bagaimana sih?)

Lengo klethik : minyak goreng

Lengo liun : minyak tanah

Lincak: tempat duduk dari bambu

Luru: cari

Mak jegaguk : tiba-tiba (ada)

Marem : mantab

Mbadali : membantah

Mbadék: tebu yg disimpan lama

Mbelgedhes : tidak percaya

Mberuh/mberah : banyak

Mblawah : kalau ngomong asal ngomong (ngecap)

Mblenger: bosan dg makakan yg sama

Mbois : pantas

Menjeng (kata sifat) : manja

Menyat (kata kerja); bergegas.

Medèl : agak melorot,
contoh : celonomu kuwi lo medel

Melok : Melu (bhs Jawa), Ikut

Mengken : nanti

Metal: mencangkul ladang

Metis: bandel

Mlepok (kata sifat) : sombong

Mlethek : Retak

Mingser (kata kerja) : pergi barang sejenak.

Monyos (kata benda): tape diasih gula merah lalu digoreng

Mrempul: bengkak

Muring : ngambek / marah

Mulo : kata yg menyatakan ketidak percayaan (keraguan) atau bisa maka

Nangkal: menerbangkan layang-layang

Nanjak: nandur telo

Ndadah : kebun dibelakang rmh

Ndaglik : Pintar, Cerdas atau Ahli

Ndahepo : alangkah/betapa

Ndelalah : tiba-tiba yang mengejutkan

Ndenger: tau / mengerti

Ndobos : omong kosong

Ndudah : membongkar (*mencari)

Nebal: lewat jalan pintas.

Neburi / nututi/ nginti l : mengikuti

Nerek-nerek : kemana mana

Ngagrok:tengkurap

Ngalong: bantu ditempat orang punya kerja (nikahan,sunatan.dll)

Ngengei: kasih sisa

ngedos : panen padi

Nggagal: kata imbuhan yang berart sangat(sekal)i.
Cnth: gedene nggagal: sgt bsr skali. Ayune nggagal: sgt cantik skali

Ngokek : sebentar, entar dulu

Ngoncok : berjalan (cepat) karena buru-buru

Ngrasani (kata kerja) : membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan. (gosipin)

Ngrenceki kayu: membersihkan ranting dari cabang kayu

Njarak : sengaja

Njebos: lewat

Nos/ nus : cumi cumi

Nuju: pas (Pas terjadi pada waktu itu)

Nyeklikek: ketawa sampai drop

Nyimik-nyimik : makan dengan malas

Nyorok: membershkan kotoran hewan,biasane kotoran sapi

Nyumet (kata kerja): menyalakan

Ogak; tidak. Kata ini juga bisa ditemui di daerah Jawa Timuran.
Kebanyakan orang Jawa menyebutnya ora.

Ogak idep : tidak mau tahu

Ogo: makanan kecil dari biji2an,lama makannya karena susah dbuka

Olah-olah: masak-masak

Ombu : lebar (luas, besar)

Orok-orok : galah dr bambu bwt ambil mangga

Pati (kata benda) : tepung Tapoka dali singkong/ketela

Pathak (Sawat) : Melempar (batu)

Peceren : got,

Penthit/kelik : tinggi sekali sampai hampir tak terlihat

Peteng ndedet:gelap banget

Pia-pia; sejenis gorengan. Orang Yogya menyebutnya bakwan.
Ada yang bilang heci atau othe-othe. Namun, bagi orang Pati,
bakwan adalah gorengan yang ada potongan biji jagungnya.

Pomit : minyak rambut

Pupoh; hajar.
Contoh penggunaan: Ngebut pupoh. (Kalau ngebut di jalan ini,
akan dihajar warga)

Reguduk: tiba2 byk yg dtg.

Ropel : bonceng lebih dari 1org

Ridu (kata kerja); mengganggu. Banyak daerah lain
di Jawa juga menggunakan kata ini.

Sempal : dipatahkan

Setin (kata benda, kata kerja); gundu. Tempat lainnya
menyebutnya neker. Permainan ini juga sudah jarang dipraktekkan
oleh anak-anak zaman sekarang.

Setrup (kata benda) : sirup

Sibin (kata kerja); mandi tapi tidak sabunan dan hanya
sekadar membasahi badan. Biasanya menggunakan air hangat.
Umumnya orang yang sedang sakit
dan malas mandi basah melakukan sibin.

Sik…ah : ehmmm kata kata makian

Singkek (kata benda); sebutan bagi orang keturunan Tionghoa.

Solu; tindakan menjilat.
Contoh penggunaan: Oalah, wong kok isane nyolu.
(Walah, jadi orang kok bisanya menjilat)

Sonder : sama sekali / tanpa

Sorot: mengairi ladang

Sowangan: jenis layang-layang yang bisa berbunyi

Sual : celana

Tang-teng-tang-teng (kata keterangan); lahap makan.

Tesmak/tismak : kacamata

Tonjokan: biasanya nasi dus yg dilengkapi undangan yg dkirim
org yg mau py kerja kpd org2 yg dkenal

Tonyo (kata kerja): jotos,pukul,tinju

Uceng : sumbu

Ugung (urung) : belum. Kebanyakan orang Jawa menyebutnya durung.

Ulem : surat

Umbal : ngangkot, (naik bus)

umbul (kata benda, kata kerja); permainan mengadu gambar kotak kecil-kecil.
Ada istilah dari permainan ini:
– baton(an): bergabung atau bekerja sama atau bersekutu dengan
kawan lainnya supaya jumlah umbul mereka lebih banyak.
– lemir: lembaran umbul yang sudah terlalu lemas dan tipis.
Biasanya anak-anak tidak mau menerima pemberian umbul yang
terlalu lemir (yang kalah memberikan sejumlah umbul kepada
yang menang sesuai besarannya).

Uncal_ke: lemparkan

unda-undi : datang atau muncul dengan selang waktu yang tidak terlalu lama
atau bisa dikatakan berurutan

Unyeng-unyeng : pusaran pada rambut kepala

uplik (kata benda); dian atau pelita. Banyak daerah Jawa lainnya
menggunakan kata ‘senthir’ atau ‘teplok’

Ada lagi pengucapan yang khas, setiap kata yang berakhiran –ih, akan diucapkan dengan akhiran –eh. Misalnya pilih diucapkan pileh. Putih-puteh. Getih-geteh. Sisih-siseh. Dll.

Sedangkan kata yang berakhiran –uh akan
diucapkan dengan akhiran –oh. Misalnya duduh, diucapkan
dudoh. Misuh-misoh. Musuh-musoh. Rusuh-rusoh. Tempuh-tempoh.
Dll.

Ada lagi yang khas Pati. Jika kita membuat kalimat
peritah, seringkali menggunakan partikel –ke.
Misalnya: tukokke (belikan), lebokke (masukkan), dll.
Biasanya, orang Pati menggunakan partikel –no.
Mungkin daerah lain juga menggunakan
kebiasaan ini. Misalnya: tukokno, lebokno.

Untuk menyatakan kata ganti milik orang kedua,
biasanya orang menggunakan kata –mu. Misalnya:
mbahmu (kakekmu), matamu, pitmu (sepedamu), dll.
Namun, orang Pati terbiasa dengan –em
(jika huruf akhirnya vokal, menjadi –nem).
Misalnya: mbahem, matanem, pitem, dll.

Diolah dari berbagai sumber internet.

*Pendidik di Madrasah Darun Najah
Anggota Ansor – Banser

Tags: berita patikabar patipatipati hari inipatinewssuara patiwarta pati
patinews.com

patinews.com

redaksi@patinews.com

Related Posts

Tidak Hanya Mengobati, Ini Berbagai Peran Dokter Hewan Bagi Hewan Peliharaan Anda
Featured

Tidak Hanya Mengobati, Ini Berbagai Peran Dokter Hewan Bagi Hewan Peliharaan Anda

18 Agustus 2025
26
Mbah Buyut Mas Waturoyo Margoyoso, Salah Satu Pengawal Pangeran Diponegoro
Featured

Mbah Buyut Mas Waturoyo Margoyoso, Salah Satu Pengawal Pangeran Diponegoro

9 Agustus 2023
444
Berlinang Air Mata, Melihat Kisah Pilu Janda Sebatang Kara Melawan Kanker Payudara Akut
Berita

Berlinang Air Mata, Melihat Kisah Pilu Janda Sebatang Kara Melawan Kanker Payudara Akut

3 Agustus 2023
142
Melangkah ke Era Teknologi : Mahasiswa KKN-T IPB Kenalkan Siswa Sekolah Dasar di Desa Purworejo dengan Perangkat Elektronik Otomatis
Featured

Melangkah ke Era Teknologi : Mahasiswa KKN-T IPB Kenalkan Siswa Sekolah Dasar di Desa Purworejo dengan Perangkat Elektronik Otomatis

19 Juli 2023
229
Menguak Mitos Nasi Menangis
Featured

Menguak Mitos Nasi Menangis

20 Agustus 2021
424
Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Semarang Membuat Program Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Website pada Mitra Facta Tailor Semarang
Featured

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Semarang Membuat Program Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Website pada Mitra Facta Tailor Semarang

5 Juli 2021
104
Seedbacklink
No Result
View All Result

Terbaru

  • Longsor Galian C di Sukolilo Pati, Satu Pekerja Tewas Tertimbun
  • Dugaan Pencabulan oleh Oknum Kiai di Pati, 50 Santriwati Jadi Korban
  • Seluruh Ahli Waris Korban Kecelakaan KRL Bekasi Terima Santunan, Jasa Raharja Pastikan Hak Terpenuhi
  • Polresta Pati Ungkap Kasus Pengeroyokan di Dukuhseti, Satu Pelaku Diamankan, Lainnya DPO
  • Wujud Sinergi Polri dan Ulama, Kapolres Rembang Hadiri Haul Sunan Bonang di Lasem
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.