REMBANG – Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia Polri, Polres Rembang menggelar Forum Belajar Bersama dengan tema “Polri Berdaulat: Rekonstruksi Polri sebagai Pengayom Negara dan Rakyat”, Kamis (5/2/2026) pagi, bertempat di Aula Sarja Arya Racana Polres Rembang.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 11.30 WIB tersebut dihadiri langsung oleh Kapolres Rembang AKBP Mohammad Faisal Pratama, S.I.K., S.H., M.H., narasumber Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Profesi Universitas Negeri Semarang (UNNES) Prof. Dr. Rodiyah Tangwun, S.Pd., S.H., M.Si., Cme, para Pejabat Utama Polres Rembang, para Kasat dan Kasi, serta seluruh personel Polres Rembang.
Dalam sambutannya, Kapolres Rembang AKBP Mohammad Faisal Pratama menyampaikan bahwa tema Polri Berdaulat bukan sekadar slogan, melainkan sebuah ajakan reflektif bagi seluruh anggota Polri untuk membangun kembali cara berpikir, bersikap, dan melayani masyarakat.
Kapolres menegaskan bahwa Polri yang berdaulat adalah Polri yang kuat secara moral, profesional, dan berintegritas, tidak mudah digoyahkan oleh tekanan, tidak kehilangan nurani dalam penegakan hukum, serta menjadikan kepercayaan masyarakat sebagai sumber kekuatan utama. Menurutnya, rekonstruksi Polri yang dimaksud bukanlah merombak institusi, tetapi memperkuat karakter dan nilai-nilai Tribrata serta Catur Prasetya dalam setiap pelaksanaan tugas.
“Forum ini kami rancang sebagai ruang belajar dan dialog, agar setiap personel memiliki cara pandang yang lebih jernih, hati yang lebih peka terhadap masyarakat, serta komitmen yang lebih kuat sebagai pengayom negara dan rakyat,” ujar Kapolres.
Sementara itu, dalam paparannya, Prof. Dr. Rodiyah Tangwun mengulas konsep Polri Berdaulat dari perspektif keilmuan, etika, dan realitas kekuasaan negara. Ia menekankan bahwa negara hukum sejati tidak hanya hidup dari aturan tertulis, tetapi dari kekuatan negara yang mampu menegakkan keadilan secara nyata. Dalam konteks tersebut, Polri hadir sebagai instrumen negara untuk memastikan hukum tidak dikuasai oleh kekuatan liar, uang, maupun premanisme.
Lebih lanjut, Prof. Rodiyah menjelaskan enam pilar utama yang perlu dikonstruksi untuk mewujudkan Polri yang berdaulat, yakni kedaulatan intelijen negara, fungsi reserse sebagai senjata negara, Samapta sebagai tentara ketertiban sipil, lalu lintas sebagai penegak wibawa negara, Binmas sebagai pertahanan sosial negara, serta kepemimpinan Polri yang berintegritas dan tidak dapat dibeli.
Ia menegaskan bahwa Polri bukan hanya sebagai pelindung, tetapi pengayom negara dan rakyat, yang memastikan pihak yang kuat tunduk pada hukum, sementara masyarakat sebagai pihak yang lemah mendapatkan perlindungan penuh dari negara.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, di mana para peserta aktif berdiskusi dan menyampaikan pandangan terkait peran Polri ke depan. Forum kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau tertib, aman, dan kondusif, serta diharapkan mampu memberikan pemahaman mendalam dan penguatan karakter bagi seluruh personel Polres Rembang dalam mewujudkan Polri yang berdaulat, profesional, dan humanis.







