
Patinews.com – Kediri, Aktifitas religi untuk mengingat siapa yang diciptakan siapa yang menciptakan, terus dilakukan tanpa henti, karena sebagai manusia tentu masih memiliki batasan-batasan yang tidak bisa diganggu gugat ,sebagaimana dilakukan pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung kemarin malam di Masjid Baitul Makmur Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, dan pada acara tersebut juga dihadiri Danramil Pesantren, Kapten Arm Nur Solikin, Kapolsek Pesantren, Kompol Sucipto serta Camat Pesantren, Eko Lukmono Hadi, rabu (26/04/2017)
Tampil didepan panggung, K.H.Abubakar Abdul Jalil dan K.H. Fuad Salahudin, para jamaah diberikan pencerahan sekaligus pemahaman lebih dalam dari makna yang tersirat dan tersurat pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini.
“Isra Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam. Isra’ dan Mi’raj merupakan dua cerita perjalanan yang berbeda. Isra’ merupakan kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerussalem. Sedangkan Mi’raj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah di hadirat Allah SWT,” kata K.H.Abubakar Abdul Jalil.
Disamping itu, KH.Abubakar Abdul Jalil mengajak Kapten Arm Nur Solikin diatas panggung untuk berdialog interaktif seputar makna dari Isra’ Mi’raj dalam kehidupan pribadi, dan tentu saja pengetahuan seorang Danramil Pesantren hanya sebatas pengetahuan umum, bila dibanding dengan seorang KH.Abubakar Abdul Jalil yang sudah banyak makan asam garam dan berwawasan luas dalam bidang agama.
“Namun karena dua peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan maka disebutlah peristiwa Isra’ Mi’raj. Selama perjalanan Nabi ditemani Malaikat Jibril dengan menunggangi Buraq. Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi dalam waktu singkat, yaitu hanya dalam satu malam. Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan,” sambung K.H.Abubakar Abdul Jalil. (PdK)






